Posted in pembicara

Pengumuman Mesjid


Kerap kali saya mendengar – pengumuman yang disampaikan melalui pengeras suara mesjid. Apalagi berkenaan dengan warga yang meninggal dunia. Kadang tengah malam, sering pula tengah siang.
 
Dibela-bela keluar kamar, buka jendela untuk mendengarkan terutama nama dan bin atau bintinya yang meninggal. Kuping sampai saya jewer – dan diputar-putar biar bisa dapat signal jelas.
 
Pasalnya hampir selalu ditengah kalimat terjadi “roaming” dan isi pengumuman menjadi kabur…
 
Saya bukan Choky Sihotang – yang menyarankan agar jangan sekali-kali mengetuk atau meniup mikropon sebelum bicara kecuali memang mau menyiksa telinga pendengar.
 
Speaker mesjid biasanya rawan gema. Apalagi kalau sang pembicara – berbicara dengan gaya orang Jakarta pulang kantor – baru sampai rumah setelah tiga jam dijepit macet lalu lintas dan lupa bawa botol kosong 1500 cc yang mulutnya sudah diperlebar-in..
 
Maka yang terdengar hanyalah kalimat awal .. misalnya Assalamualaikum ……Disusul dengan Innalilahi…….
 
Notasi antara Assalamualikum dan Innaliliahi rojiun dibaca dalam satu napas. Kalau Kontes Dangdut sih jurinya bakalan bilang “cengkoknya ndangdutnya mantap..” – tetapi dengan mikropon TOA mesjid anda seperti mendengarkan teriakan saling memantul di Goa Kiskendo.
 
Ujuk-ujuk suara kembali jelas ketika Wassalamualaikum….Klotak (suara Mikrophon dimatikan).
 
“iki omong opo to yo..”
 
Memang ada baiknya pengumuman diulangi, bicaranya pelan satu persatu agar lebih jelas makna dan maksudnya. Bukankah maksud pengumuman adalah menyampaikan sesuatu informasi.
 
Mei 2016

 

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.