Posted in mimbar

Suatu siang di Terminal Ultimate


13344760_10208094020241311_8555627546900920838_n
Combo yang carut marut .. Kapucino saset ditabrakkan dengan Soto Santan Betawi….

Siang ini saya dapat tugas menjemput dua penumpang, ibu-ibu.  Ordernya begini “jemput kami berdua di Terminal Tiga (T3), itu lho kalau melalui tol Jakarta maka belok kiri ke T1 dan T2 dan  yang ini lempeng, terus ketemu patung Soekarno Hatta yang baru di pindahkan – baru belok kiri.”

Nomor  penerbangan juga disertakan. Lalu saya komentar dalam hati : Oh yang iklannya menjanjikan para pramugari melayani penumpang sambil megal-megol  dengan raut muka seperti baru naik gaji dua ratus persen. Megal megol dari Hongkong! Jutex sih iya.

Semua dikirim melalui pesan WA-setelah komunikasi verbal tentunya.

Rasanya saya seperti anak SD yang diingatkan untuk menggarap PR – harus ada dua garis di bawah PR, sebagai tanda penutup.

Butuh waktu 90menit dari rumah untuk ke Bandara. Kendaraan saya parkir di lot B7 Terminal Tiga Ultimate- Bandara Soeta-Cengkareng.

Sengaja saya pilih paling ujung, sebab saat itu sekuriti mengarahkan kesana. “masih kosong pak!” kata mereka.

Disisi saya  sebuah mobil MPV coklat berkilat parkir disana, nampaknya sudah lama disana – sebab . Saya cuma melihat  kaki tak bersepatu ditumpangkan di dashboard. Pengemudinya boleh jadi di alam mimpi.

Karena masih perlu menunggu minimal satu jam saya langsung menuju  kursi kosong disekitar terminal. Baru saja “mak-nyek” duduk sebentar sebuah bangunan semi permanen dengan tulisan CAFE membuat saya beranjak kesana.

Di dalamnya ada empat kios bergandengan, masing masing dengan spesifikasi masakan masing-masing.

Ada (masakan) Sunda, Jawa, Betawi dan kios aneka minuman. Semua dipajang dalam kotak kaca untuk melindungi debu, dan terutama agar tidak di “mek-mek” dipegang oleh pembeli. 

Pertama saya mendatangi aneka minuman. Pilih kopi pahit – penjualnya bingung. Akhirnya saya memilih sesuai yang dipilihkan pelayan. Artinya “terserah situ aja mas, yang ada aja deh, saya manut..” 

Sambil menunggu pesanan, pandangan saya tebarkan dideretan kursi yang masih banyak lowong, kecuali satu dua orang yang khusuk menghadap layar HP.

Namanya kopi saset, dituang lalu masukkan  air termos – beres sudah. Kadang saya seperti melihat delik Perkosaan terhadap minuman..Dan jangan berhayal upacara tepatnya “penghormatan terhadap minuman bernama kopi” seperti yang diperlihatkan dalam Kopi Klinik, Yogya. (Ref film AADC2).

Baru saja satu sruput dua – Azan Lohor dikumandangkan. Dalam hitungan detik saja kursi di sekitar saya sudah diduduki bapak-bapak dan ibu untuk maksi. Mereka order lodeh, tahu, tempe, soto betawi, sop iga, atau sekedar Indomie. Dan aroma tembakau mulai terasa gurih (kata mereka).

Dari niat tulus suci “ngopi aja” –  iman saya diuji  ketika pelayan bolak-balik melintas membawa mangkok kuah daging dengan aroma emping melinco bereaksi dengan santan kelapa.

O-lala Soto Betawi daging campur.

Bujukan Soto makin kencang…  Ingat itu..kesempatan nyoto cuma sekarang. Bulan depan Azab Pedih kalau kamu makan disini. Lha iyalah..sudah bulan puasa.

Soto Betawi saya order.. Didorong dengan kapucino saset… Kombinasi tak termaafkan kacaunya.

Soal rasa.. Harap maklum hidangan maupun minuman di Bandara memang kampiun soal harga doang dan bukan selera. Mudah mudahan kalau T3 Ultimate sudah beroperasi paling tidak kulinernya bisa bersaing dengan T3 di  Singapura. Orang ke Bandara changi untuk kuliner. Bukan untuk ngedumel “mahal doang.”

Penumpang yang saya tunggu akhirnya datang juga, tetapi dua jam kemudian. Ia kirim pesan “Kami dah mendarat, bagasinya lama. Masuk saja kedalam terminal “ngadem””

Saya membalas WA – “nggak ah aku duduk dibagian merokok…”

“Emang situ merokok?” tanyanya lagi

“Menonton orang merokok..” balas saya. Satu penumpang yang paling senior meminta saya menciumnya – yang segera saya kabulkan.

Akhirnya setelah urusan bagasi selesai, sayapun menghidupkan mobil. Penumpang kasih order “Ke Gang Macan dulu – soto Bogor!.”

Saya cuma berdoa semoga perut bisa diisi lagi dalam jarak makan cuma 3 jam. Apalagi soto gang Macan memang “Macan bener rasanya..”

Sebelum masuk perseneling – saya lihat mobil disamping saya masih menyalakan AC-nya. Kelihatannya pak Supir kendati dirumah kontrakannya selalu kegerahan sehingga sanagat bergantung dengan AC.

Paling tidak dua jam lebih ia parkir dengan mesin dalam keadaan dihidupkan..

Ujung Mei 2016

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.