Posted in filem, mimbar

Nonton Kerani


Katanya baru afdhol suradhol endol – kalau kelar nonton filem tentang mbak Kerani lantas tiketnya di Upload di FB. Ceritanya  menemani my smart boss-woman nonton gara-gara Reza Rahardian.

****

Nonton Kerani

Katanya baru afdhol suradhol endol – kalau kelar nonton filem tentang mbak Kerani lantas tiketnya di Upload di FB. Ceritanya menemani my smart boss-woman nonton gara-gara Reza Rahardian.

****

Kaget enggak lho ketika bosswoman saya menyebelahi duduk sambil bilang: “liatin dong jam matinee show di lokasi paling dekat sama rumahku..” – Matinee show ini bahasa generasi lama yang pernah tinggal atau sekolah di Yogya untuk menonton di siang hari.

Ini keazaiban – sebab bulan lalu (Mei16) saya menemaninya nonton Punthuk Setumbu, sekarang diajak menemui Kerani. Berarti bosswoman sudah “move on”. Siapa takut. Wong biasanya setahun sekali nonton je.. Langsung saya ngibrit, ke PC minta tolong google mencari lokasi teater yang paling dekat..

Sebentar saja saya sudah mepresentasikan hasil.. Sesuai dengan ordernya. Ini lho lokasi terdekat… TAMINI,GALAXY, BEKASI SQUARE…cuma 15-30menit perjalanan.

Ia kelihatan berfikir keras… “kalau begitu – Citra Land saja…” katanya – Nah lho ini artinya saya harus siap menemaninya dari propinsi Jawa Barat ke DKI.. Minimal 2×30 menit lho..plus 2x bayar tol pisan..2xpengkolan pak Ogah.

Lantas kenapa pula – pakai SULUK (nyanyian pembuka sebelum pak dalang wayang memainkan cerita..) untuk cari lokasi terdekat?- aneh. Tapi ya maklum namanya saja Bosswoman.

Singkat cerita sayapun sampai ke TKP yang letaknya 200% melenceng dari kata “beskop terdekat..”

Ternyata kami datang kepagian, artinya harus menunggu barang sejam lagi.. “Kalau begitu, aku cukur dulu ya.. mudah-mudahan JA sepi..” – tapi sambil bicara – kaki bosswoman sudah melangkah kesana. Ada nggak sih dalam kamus – emak-emak – urusan rambut cuma “sejem”.. Lebih sih iya.

Sementara ia “crase cres dengan rambutnya”, saya menghabiskan waktu ke toko buku “G” – dan kebetulan buku MSB-5 sudah terbit.
Sekalian saya keluarkan kartu member FLAZZ biar dapat potongan harga.. “Saldonya ada pak… tetapi sudah dua tahun mati kartunya…” – Sayapun tak terlalu kaget sebab kartu cepat ini sudah menjadi rongsokan sekarang.

Dulu punya kartu biar cepat bayar parkir – yang nyatanya banyakan tukang parkir resmi lebih suka menerima cash yang selalu pakai pesan “uang pas saja pak..!”

Pikir-pikir ketimbang saldo hangus, sayapun mengaktipkan kartu tersebut dan itu berarti ada biaya tambahan…

Saat mengisi formulir inilah WA berbunyi… “dimana?..kenapa nggak jawab?..” – saya lihat HP, bener saja ia membutuhkan waktu satu setengah jam untuk urusan rambutnya.

Akibatnya filem sudah berlalu – setengah jam.. Tapi bosswoman “keukeuh” untuk nonton saja kendati telat..

Ya saya nggak mau dong…

“Ya sudah kalau begitu kita ke GK” – sebuah kedai bakmi yang mengingatkan ciptaan Titik Puspa akan gang kecil di Pasar Baru.. Tetapi mengingatkan saya akan kepala saya diguyur air es oleh pelayannya (nggak sengaja sih), dia bawa nampan penuh minuman es teh, entah bagaimana gelasnya terguling…cuuur kok kir kanan kepala rasanya dingin dingin sekali…

Filempun kami nikmati bersama, gelak tawa penonton rata-rata anak tanggung membahana sekeliling kami. Mereka mengapresiasi tontonan yang disuguhkan.. Saya tidak mendengar celetukan-celetukan cela…

Tidak tanggung-tanggung dua studio dengan kode Pintu 1 dan Pintu2 memutar filem yang sama  dengan waktu tayang cuma beda 30menit.. Mudah-mudahan Pintu Tobat tidak pernah tertutup.

Tebak-tebakan.. sebentar lagi bakal ada filem cloningnya…

Saya tidak akan cerita sinopsisnya – nonton sendiri lah 30ribu Senin sampai Kamis, 40 ribu kalau hari lain.

Mending cerita soal bukunya.. Soal buku MSB-5, halaman 14 dengan nada gurau penulisnya yang bertagar chaos@work ditanya bagaimana bisa menulis komedi seperti tanpa beban..

Dia jawab aku bukan penulis genre komedi, mending sebut saja Curhater. “kalo elo mau nulis, nulis aja jangan dibebani mau jadi buku apa laku apa nggak, dibaca orang apa nggak.” – Niatin aja untuk bacaan sendiri.. Kalau sudah baru ditanya Lucu nggak ya tulisan guwe. Orang terhibur nggak.. Begitu kata penulisnya yang memanggil bos microsoft si BON PAGAR alias Bill Gates..

Catatan Punthuk Setumbu= nama bukit di filem AADC2

Kerani = nama tokoh olokan si bosswoman dalam My Stupid Boss

Awal Juni 2016****

 

13344692_10208109309863542_2499096348182247321_n

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.