Posted in mimbar

Gagal Maksi


GAGAL BEBEK SELAMET
GAGAL GABUS PUCUNG
GAGAL NASGOR LEBAK SIU

Pulang dari Gagal Wisata Alam Paradise Karawang-lantaran diberi arahan pemuda didepan taman sebagai “cuma taneman doang”. Eh kok begitu sampai dihidung Taman – mereka masih tutup. Maka siang itu kami berniat buang kecewa dengan maksi di kedai yang sudah terlalu lama ditinggalkan oleh kami (tidak oleh pelanggan lain-emangnya).

Apalagi ini hari Minggu 5/VI/16 sementara besok Senin 6/VI/16 memasuki bulan Puasa. Kadang saya mikir ini menyambut Ramadhan dengan gegap gempita atau dengan Aji Mumpung sih.

Usulan pertama adalah Bebek Goreng, lantaran sambelnya nendang. Usulan ini dipatahkan dengan mudah oleh satu anggota rombongan. Hanya dengan kata “aku sedang CLBK” – alias Cinta Lapar Berkobar Kembali. Kami maklum adakalanya seseorang seperti sedang menjadi Auditor Gizi Dadakan – Setiap potong makanan dihitung nilai kalorinya. Sekalipun umumnya Gagal setelah beberapa bulan kemudian.

Kok ya kebetulan sekali sekalipun matahari sudah mendekati ubun-ubun – warung Bebek yang kami datangi masih belum buka. Jadi sanggahan ibu CLBK – bisa diterima secara aklamasi.

Lantas ibu CLBK – mengusulkan makan Rendah Kalori, yaitu Gabus Pucung (Kluwak). Usul inipun kami terima bulat-bulat seperti Tahu Bulat Goreng Dadakan.

Kamipun memacu kendaraan dengan langkah tegap ke jalan Ratna (Bekasi). Untuk kemudian sampai disana – harus balik kanan sembari turunkan bahu, kepala menunduk – bah jam segini kok ya belum buka sih..

Gabus..Gabus.. Dimana kamu.

Sudah dua percobaan gagal. Kali ini saya mengambil inisiatip – menilpun NasGor Le Bak Siu- di Jalan Jati Makmur…- Tilpunpun tidak diangkat-angkat. Sebuah isyarat yang mudah untuk dimengerti. Warung tutup juga.

Rupanya kami lupa – bahwa tradisi sementara di kawasan Pondok Gede dan Bekasi… Rumah makan tutup menjelang bulan puasa. Ini bukan himbauan, melainkan sudah mengakar sejak jaman nenek moyang..

Sampai di rumah, maksi dilanjutkan disini. Dua keponakan yang ikut kami seperti sudah kehilangan selera makan.. Mereka langsung tiduran.

Mendadak Bel berbunyi … Di depan pagar seorang pemuda memberikan kertas bergelar PHD.. Saya bingung sesaat.. mengapa saya diberi gelar ?..

Ternyata itu singkatan Pizza Hut Delivery.. – Dan nama keponakan yang sepertinya “tidur” tadi disebutkan disana..

Rupanya keponakan  bosan mendengarkan perdebatan ala Alam Demokrasi. Mungkin pikir kalau debat terus saling menggagalkan terus mau maju (makan)nya kapan.

Dan diam-diam menilpun PHD…

Sudah makan nasi – saya masih tergoda seiris pizza.
Minggu 6-VI-1613335744_10208143173870121_7037176261806303811_n

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.