Posted in mimbar

Saya pernah jadi seorang Kapitan


Karangan bunga mengucapkan duka cita itu menyebut almarhumah adalah ibunda dari kapten pelaut yang sahabat saya.

Sahabat ini rela tidak mengundurkan masa pensiun agar dapat merawat ibunya yang sedang sakit. Bahkan untuk ibunya ia bangunkannya rumah bertingkat di Depok yang lebih baik ketimbang kediaman sebelumnya di Bekasi.

Namun takdir berkata lain – dua pekan ia menemani ibunya, Tuhan sudah menentukan takdir mbah Ni (74)..

Kebetulan putra ketiga yang satu satunya lelaki – juga ikuti jejak menjadi pelayar. Mungkin terinspirasi pesona kapten laut. Sejatinya sang ayah menghendaki putranya agar tak mengikuti jejaknya. Namun diam-diam putra bungsu ini cuti kuliah dan mendaftar mendaftar Sekolah Pelayaran di Semarang.

Lalu ingat dimasa aktip saya harus berlayar selama lima jam diterpa ombak laut jawa yang sedang meradang. Sebagai penumpang tentunya. Ini umumnya terjadi kalau pengganti saya di Offshore – datang terlambat sehingga saya kehilangan transportasi reguler. Dosa ini disebut “miss boat”.

Kapal yang saya tumpangi karena bukan khusus pergantian crew maka mereka akan menyinggahi beberapa anjungan pengeboran, menurunkan minyak atau barang logistik. Jadi banyak waktu terombang ambing di laut. Putri pertama saya masih bayi – sehingga wajahnya selalu bermain dipelupuk mata. Kangennya itu lho. Ya kepada ibunya juga..

Sekitar jam dua malam saya sampai di pantai Merunda. Para wak tidur di kapal,  saya sendirian turun kapal. Berjalan setengah mabuk laut, letih , saya terseok berjalan keluar dermaga..

Biar meyakinkan topi baseball saya balik memakainya. Apa alasannya saya sendiri tidak tahu..

Sambil berjalan … di lorong yang sepi dan gelap, dibalik tumpukan peti kemas  muncul seseorang memegang samurai dengan tanda mengancam… Lalu saat saya mau berbalik melarikan diri   ke kapal untuk berlindung. Namun niat saya sudah terbaca oleh pembegal, manusia keras sudah mengepung saya dari segala penjuru.. Apa yang harus saya lakukan..

Tapi ini tadi  cuma skenario kalau saya bikin filem action. Mumpung musim virus menulis goda “Contoh ini Contoh itu..”

Sebaliknya tukang becak, perempuan malam, lelaki yang terkantuk pelabuhan malahan menyapa “baru pulang Kep..”

Horeee.. saya jadi Kapten Kapal… sorak sorak saya bergembira, dalam hati.

Kalau dikenang.. bagaimana rasanya jalan didermaga…lorong sempit.. mencari Becak untuk keluar dermaga.. Mencari Taxi Presiden untuk membawa saya pulang ke keluarga..

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.