Posted in mimbar

Woaini


Sekalipun kepala rasanya pusing maunya tidur dan tidur namun hari ini saya ingin melihat Anya, 3, berangkat sekolah. Di negeri dimana ia menjadi minoritas.

Lalu ingatan kembali tahun 1984 tatkala mengantarkan mamanya playgroup Grogol. Apakah suasananya serupa dimana murid takut kepada guru yang galak terhadap anak murid, atau ada teroris kecil yang tak segan menjatuhkan tangan atau menarik rambut sekalipun ia lelaki dan lawannya putri saya. Atau pekerjaan rumah yang diberikan playgroup sehingga anak stress di rumah.

Jauh jauh hari putri saya mengingatkan untuk tidak memotret dengan alasan apapun.

Begitu kami memasuki halaman sekolah, tiga petugas keamanan mengatur lalu lintas kendaraan. Seorang lelaki kecil berdasi segera menemui kami. Lalu saya memperkenalkan diri sebagai kakek yang terdaftar untuk antar jemput Anya.

Lelaki ini Jony adalah kepala sekolah playgroup. Ia bekas manager Singapore Airline.
Kami menjelaskan bahwa mbak Teni pengasuhnya akan berhari raya ke kampungnya di Indonesia sehingga kakek datang untuk menggantikan antar jemput sampai mbak Teni selesai dengan liburannya.

Saya agak terkesan ada kepala sekolah sampai munduk munduk memperkenalkan diri. Rupanya Joni masih ingat saat ia menolak Anya dengan alasan ruang sudah full – putri saya membuat appeal sehingga Joni dipanggil DPR disini MP atau Member of Parliament dan disaksikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Singapura.

Tanpa ditanya kepsek langsung mengatakan Your granddaughter is very Independent, Strong Character and Well Organized. Ini berbeda dengan keadaan di rumah.

Sambil melirik kearah teman-temannya , Anya nampak bertubuh tinggi sehingga ketakutan di bully bisa ditepis sementara waktu.

Ada tiga tahapan yang harus dilewati oleh murid taman bermain ini sebelum masuk kelas.

Di halaman kelas  –  seorang guru memeriksa kesehatannya secara fisik misalnya kuku, telinga, mata, hidung, kaki  dan lalu dicatat suhu tubuhnya dengan termometer telinga. Bocah yang kedapatan sakit pilek, batuk, flu, atau mata belekan langsung dipulangkan.

Setelah pemeriksaan menyatakan ia sehat maka bocah 3 tahun ini harus Login menggunakan Ipad yang tersedia. Umumnya berupa pemotretan. Pemotretan akan dilakukan saat murid meninggalkan sekolah. Penjemput harus terdaftar dan foto penjemput harus match dengan yang terdaftar.  Ini belum selesai – sebab disatu titik yang telah ditentukan diberi kotak dengan gambar kaki berwarna merah, Anya dan murid lainnya harus berdiri mematung sejenak untuk di catat suhu badannya sekali lagi. Kalau tidak terdapat tanda demam, maka cucu saya baru diperbolehkan masuk ke dalam kelas.

Anya akan berada di sekolah sejak 09 sampai 19 – tetapi kami menjemputnya pada 17:30.

Di sekolah ia belajar tidur siang, makan sendiri, membereskan meja dan cuci piring. Jadi ditasnya ada susu, bantal, selimut, handuk, seragam ganti. Tak heran bocah 3 tahun menggembol rangsel gede. Dan tidak boleh siapapun membawakan rangsel tersebut. Kakek Mimbar gatel pingin bawakan rangsel..

Taman bermain yang berdiri di atas lahan seluas 5000 meter persegi dan memiliki 80 guru ini membagi gedung berdasarkan Geomancher – yaitu gedung unsur Tanah, Air, Kayu, Logam dan Api.  Unsur tanah misalnya di representasikan dengan “Kolam Pasir”, unsur api diwakilkan dengan ecek-ecek “memasak di dapur”, unsur air diwakilkan dengan kolam, ember.

Antar koridor diberikan suasana yang mewakilkan lima indra perasa. Misalnya koridor dengan Lonceng, Toples Rempah.

Mega Children Care centre ini juga dilengkapi dengan kebun – misalnya mint, sereh, dan pandan. Anak-anak dirangsang rasa ingin tahunya dengan menyentuh, mencium, melihat suatu benda.

Tak heran mentri pendidikan Singapura sempat berujar, “saya pingin kembali ke usia 4 tahun kalau melihat fasilitas sekolah ini..”

Kalaupun saya terkejut, saat di rumah ia memperagakan pelajaran yang diterimanya.

Pertama bocah yang histeris kejer kalau melihat air terjun di bilangan Punggol ini menaruh kedua tangan dikepala lalu menyanyi:

Wo Ai Ni Papa..tangan menunjuk ke Ayah
WO Ai Ni Mama .. tangan menunjuk Ibu
WO aini nama guru..
Wo aini nama teman sekolahnya..(Jangan terkejut satu guru menghadapi empat murid.)

Mau tahu rahasia sebuah negara – ya contek bagaimana mereka mendidik dan membentuk karakter generasi mudanya.

Belum ada Woaini Kakek (cemburu mode is ON)

 

 

 

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.