Posted in mimbar

Indera Lima Seperampat


Indera LIMA seperampat.

Setiap Senin sampai Jumat, antara pukul 08:00 pagi Anya,3, diantar orang tuanya ke sekolah. Letaknya masih satu kluster dan Anya adalah Siswa angkatan Pertama pada sekolah tersebut.

Karena jaraknya tak lebih dari satu tiang goal ke goal lain mereka cukup berjalan kaki meliwati koridor. Tidak sampai lima menit sudah “jleg” menapak di halaman Taman Bermain.

Tapi ada kalanya saat melewati tempat tertentu – Anya melongok di sudut bangunan – ber-HAI HAI sambil melambaikan tangan. Lagaknya seakan ia berbicara dan menolak ajakan temannya.. Lalu ia berkata “aku mau sekolah dulu..I dont want play with you”

Mamanya mau tak mau harus menoleh lalu berbalik melihat teman yang dimaksud oleh putrinya. Yang ternyata di sana tidak ada siapa-siapa.

“Is she naughty? ” tanya mama sambil merasakan sensasi “goose bump..”

“No mama.. he is naughty boy..”

***
Kerap kali saat tidur malam Anya menoleh kearah jendela dan melambaikan tangan seakan ada teman seperti drone melayang dibalik jendela kaca.

Kadang kami meliwati ruang serba guna.. Ruang besar dimanfaatkan warga untuk olah raga.. Banyakan sebagai ruang duka. Namun siang itu ruang tersebut kosong melompong.

Tangan saya ditarik.. Eyang Pa look.. so cute..

Saya tidak berkonfrontasi kecuali “Ok we go there and talk to your cute friend.”

Siapa “cute friend” itu, siapa namanya, jenisnya lelaki atau perempuan, Anya tidak pernah mau membahasnya.

***
Ketika usianya mendekati satu tahun, orang tuanya mengajaknya ke Hongkong. Kami menginap di sebuah hotel di jalan Nathan.. Yang aneh Bayi Anya kejer manakala diajak masuk kamar mandi.

Penyebab yang ini bisa ditemukan, selangkangannya merah. Si Kakek Mimbar terlalu bersemangat menggendong cucunya dengan “Baby Byorn” – atau baby carrier – noak-naik beberapa MRT, melakukan perjalanan sambil kaki anya diplekeh macam menggendong Koala. Akibatnya terjadi iritasi pada selangkangannya. Coba kalau boleh digendong pakai Jarik Batik atau lurik, nggak bakal kejadian tuh.

Itu jawaban logika – persoalannya baru sampai hotelpun Anya sudah menunjukkan rasa tak nyaman dengan menangis.

***

Sebagai anak perempuan, orang tuanya membelikan pelbagai boneka. Saat bermain dengan boneka inilah ia seperti berlatih pidato dengan teman-temannya. Ada yang dimarahi, ada yang diberi apresiasi. Yang merepotkan ketika Anya berbicara dengan boneka yang “maya” yang fisiknya tidak ada di ranjang tidurnya.

***

CEK KONSISTENSI

Biasanya kalau Anya mengeluh dipukul Naughty Boys atau penampakan apa saja, mama dan papanya mengecek konsistensi. Kalau ternyata kemarin dia bilang diganggu Naughty Boys  lalu sekarang Naughty Girls maka cerita semi Demi Gods – dianggap fantasi anak-anak. Soal  mengecek anakpun kudu pakai strategi sebab beberapa bocah kalau melihat sang interogator sangat bersemangat, mereka jadi “cemas” dan memberikan jawaban yang dianggapnya tidak membuat cemas orang tuanya..

PENGALAMAN KAKEK MIMBAR SAAT BALITA

Namun, saya memiliki pengalaman saat TK,4, bermain di bawah pohon Asem yang rindang, namanya musim kemarau kadang ada angin keras berputar. Saat itulah seekor ular seperti turun dari ranting Asem. Mahluk ini membentuk konfigurasi seperti obat nyamuk bakar dan besarnya warnanya seperti obat nyamuk bulat jadul, namun ular tak bergigi ini cuma mengeluarkan lidahnya dan menyentuh dengkul saya sampai ada rasa sensasi dingin. Okay saya pikir “you wanna play, lets play..” – cuman karena dipotak patuk dingin berulang kali – saya mulai curiga ini bukan perbuatan iseng lagi..

Perasaan saya mencoba lari menghindar, namun Ular bertubuh cacing tanah ini dengan mudah menghadang saya. Dan baru menyerah setelah saya beneran lari ke rumah dan menutup pintu.

Ketika saya ceritakan kepada orang tua – mereka menjawab itu Fantasimu, sebab disuruh tidur siang kamu malahan keluyuran. Tapi itupun hanya sekali yang saya ingat sebab saat itu saya marah, kok cerita saya diabaikan. Kelihatannya cucu saya akan mengalami hal serupa.. Lha wong mamanya saja sampai sekarang sering diimpiin didatangi Kakek dan Neneknya yang sudah tiada. Terutama kalau terjadi pertengkaran diantara keluarga.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.