Posted in mimbar

Ketupat dan Angpau


Di hari yang Fitri 1437H ini kami cuma bisa menyambangi keluarga Pak Ismail Hafid seorang Melayu. Tetapi sedari pagi rumahnya tutupan.

Sudah pukul 20 malam di HariRaya cuma sehari libur di Singapura ini belum nampak ada aktivitas tetangga sebelah. Biasanya mereka berlibur di Batam.. Begitu dugaan saya. Apakah hal yang sama mereka lakukan tahun ini.

Ketimbang mikir, tepatnya sambil menunggu kedatangan mereka – kami menghadap meja untuk makan malam. Hati masih penasaran. Kalau satu orang inipun saya gagal eksekusi – maka Lebaran di negeri orang tanpa bumbu cerita macet – tanpa silaturahmi akan terasa seperti masak bakmi tanpa garam zonder MSG.

Sepi ditengah keramaian.

Untung ditengah makan terdengar suara bocah lelaki usia empat menjerit. Ini memang ciri mereka. Mau pergi selalu didahului anak tertawa atau menangis begitupun saat datang.

Makan ketupat segera kami sempurnakan. Maksudnya memang tidak tersisa alias ludes.

Didepan rumahnya..Dua kali bel dipencet dan dua ketukan belum serta merta dibukakan pintu. Hampir balik kanan mereka pasti sudah letih bepergian seharian..Tapi ini kesempatan emas. Besok semua berjalan seperti biasa.

Untunglah pintu dibuka.

Tuan rumah berbaju ala melayu (telok belanga) dengan warna merah maroon nampak tidak menyangka akan kedatangan kami. Percakapan HPnya segera ia hentikan.

Dan kami dipersilakan masuk.

Saya melihat lelaki ini seperti mengenakan sayap bulu burung Phoenix (edisi hiperbolik).

Tapi serius, ia pernah mengantar keluarga kami, ketika Anya saat diperkenalkan minum SGM (maksud susu pabrik) perutnya menolak dan ia keracunan sampai wajahnya merah lebam.

Dalam hati setiap bertemu saya selalu membatin mengatakan “orang ini Malaikat bagi-ku…”. Dan ini saya lakukan kendati kepada orang yang dibelakang hari membenci saya, misalnya. Tidak perlu menunggu lebaran untuk meminta maaf. Setiap bertemu saya berdoa kepada mereka-mereka ini. (aku ngomong opo iki).

Nyonya rumah yang usianya 30an merepet bahagia. Ia gadis Bogor yang sekarang memberikan satu putri dan satu putra. Keayuan wajah Putri Priyangan ini nampak “crong”

Tidak pulang ke Indo – tanya saya ke ceu Nana.

Suaminya yang menjawab, ia tidak dapat libur sebab dua rekan kerja kantornya – yang tak MERAYAKAN LEBARAN malahan cuti.
(Bahasa aselinya dua teman kantor saya orang Cina malahan minta cuti lebaran. Tapi untuk estetika saya ubah kalimatnya. Jadi buat teman saya yang waktu lahir sudah dari “SONO” – ini bukan rasis ya.)

Tak lama pak Is menghilang ke dapur. Ia rupanya menyiapkan SoftDrink dengan es batu. Tetapi melihat saya terisak isak, ia segera masuk dapur dan mengeluarkan segelas teh celup..

“Bapak jangan minum es.. Saya lihat masuk flu. Ini teh celup Batam.. Terkenal disana.. Kalau kena flu stamina bisa didongkrak..”

Ah perhatian sekali lelaki yang sekarang duduknya mulai menjauh. Siapa mau kena firus vlu..Malaikat juga Ogah.

Saya memang menahan “running nose”

Saat bicara cucu saya dan anaknya sebentar saja sudah membuat rumah mirip kontainer Toys R Us pecah. Anya (3) cepat akrab dengan putranya Abang yang seharusnya dipanggil DEDE lantaran anak bungsu. Nara (1) sibuk tunjuk kue dan langsung diemplok sambil lora-lari kesana kemari.

Putri tertua mereka sekitar 10tahuan sudah tenggelam dalam HP nya. Jadi sekalipun sosoknya di depan mata maka ruhnya sudah menempel dilayar HP nya. Segala usaha berkomunikasi hanya akan membuat Yuliana menjawab asal. Kenapa anak orang Melayu namanya Yuliana – dan mereka memanggil ayahnya Dad, bukan Abi, Abah, sayapun tidak perlu tahu.

Tak lama pak Is mengeluakan ketupat Ketan putih, Serundeng Kelapa, Opor dan Sayur Labu..Sekalipun sudah kenyang tak baik menolak ajakan dan kamipun makan. Teman makan ketupat ini sepoci teh manis hangat cap Prenjak – dari Batam…

Lelaki yang bekerja di Tuas Loyang ini menyatakan lalu lintas di negerinya yang kian padat. Saya hanya mengiyakan. Rupanya ia tidak sekedar mengeluh sebab putuskan solusi pindah rumah yang lebih dekat dengan kantornya.

Kalau kami tidak datang malam itu mana tahu dalam beberapa bulan kedepan mereka sudah punya rumah baru. Sedih rasanya berpisah dengan tetangga baik.

Makan ketupat selesai.. Kami undur diri.. Anya besok sekolah.

Abang menangis karena masih ingin bermain. Anyapun kelihatan mau mewek.. Padahal sudah diberi dua amplop Angpau..

Di WA saya sibuk baca artikel berantai asal usul ketupat, yang konon dari Sunan Kalijaga artinya Ngaku Lepat. Saya tidak tahu apakah Puak Melayu di depan saya sepaham dengan yang diklaim oleh WA.. Apalagi sudah Ketupat, ada Angpau Pula..

 6 Juli 2016
Singapura

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.