Posted in mimbar

Perjalanan panjang menuju kedubes di Singapura


Pukul 05:30 saya sudah mendekam di stasiun kecil “Kadaloor” – kebetulan Satu-satunya Gerbong Kereta Api tanpa Supir ini ngetem di sana. Tapi sebagian tempat duduk sudah penuh oleh opa-opa, oma-oma seumuran saya.

Mereka umumnya pihak Sekurity, Janitor, Pegawai Toko.. Dan inilah “The Real Singaporean peoples”.

Perjalanan kereta kecil ini akan berakhir di terminal Punggol (Panggul dalam bahasa Cina), lalu saya akan pindah Kereta Api dan turun di Dhoby Ghout – yang simplenya sebut saja Orchard Road. Dalam catatan saya dua kali naik kereta, satu naik bis, sisanya Lawalata alias jalan kaki.. Kalau anda paham Lawalata – maka usia anda diatas 60-an.

Saya tanggalkan Kopiah. Soalnya saya juga harus menonjolkan uban dan menipisnya rambut. Gampangnya pamer Tua untuk bisa nyaman duduk di kursi Reserve Seat.

Jadi kalau ada kakek “thuyuk-thuyuk” berdiri (dan banyak), saya bisa bilang dalam diam “brow ane juga tuwir, cuma ente bisa Tai Chi, kalo ane main FB.”

Dari Orchard Road saya menunggu bis nomor 111. Dan herannya bis inipun seperti mengamini Judul Tulisan – yaitu ada beberapa kali mesinnya mati – kendati bisa diatasi.

Sekitar 05:30 Orchard hanyalah sebuah kota gelap. Untungnya Relawan penuntun saya menggunakan GPS dan HP-nya yang menentukan kapan kami harus turun. Mungkin bantuan S7 ya.

Kata “Bad Idea” muncul setelah tahu bahwa Bus Stop tadi bukan didepan Kedubes melainkan anda harus berjalan kaki cukup jauh.. (saya memotret suasana sekitar Bus Stop)..

Saya pikir akan melihat orang sarungan, kopiahan disekitar Embassy – ternyata tidak demikian. Jam 7 saya tiba, suasana masih lengang.

Kalau saja saya tidak di tolong, boleh jadi saya sudah menerobos jalan salah.

Begitu agak siangan dikit, barulah Taxi-taxi berdatangan. Para TKI dan TKW lebih suka menggunakan moda angkutan ini karena ongkosnya bisa ditanggung bersama.

Biasanya kalau lihat Kedubes di daerah Jakarta Pusat misalnya selalu di jalan Raya, setidaknya dilewati Bis gitu. Entah kenapa kita memilih tempat pertapaan. Kalau saja saya tidak diantar oleh relawan yang tidak mau disebut namanya, padahal ia sekedar menyambung silaturahmi dengan teman lamanya di sana. Maka boleh jadi saya akan menulis “Going to Embassy is not a good Idea..”- apalagi travel dinihari.

***

Pertanyaannya mengapa saya bela-belain misalnya Salat di Kedubes. Dulu di 1980an pertama kali di Singapura saya pernah melihat kantor (lama sebelum pindah) bertkp di jalan Orchard.

Sambil menghadap kedubes saya merapal doa di bawah pohon Beringin – karena ada bangku disana dan sebelahnya tukang es-potong 1 dollar rasa durian dilapis roti tawar (36 tahun lalu).

Itulah Kedubes lama yang saya kenal.. Kini setelah tujuh repelita, rasanya sekali-sekali kepingin juga melihat kedubes kita yang Baru.

Saya nyaris ketemu kerabat. (ya hampir tetapi hujan sudah mulai turun saat itu sehingga memutuskan segera pulang). Makan ketupat ditingkahi dua cucu berseliweran dibawah meja – jauh lebih menyenangkan.

13615387_10208385540849144_67909787269889697_n

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.