Posted in mimbar

VAKSIN TIDAK PALSU


Bibi pulang ke kampungnya.. Sementara Nara ,1, sudah waktunya di vaksin. Dokter memberi vaksin tidak Palsu. Satu njus lengan kiri dan satu di paha kiri sekaligus.. Termasuk vaksinasi berat karena usianya sudah satu tahun. Di sebut berat sebab kakaknya meriang dan rewel selama 3 hari tiga malam, gara-gara Vaksin ini.

Dua suntikan tidak membuatnya menangis kecuali sedikit kaget. Hanya menurut Kartu Tumbuh Kembang termasuk kurus dan mungil bila dibandingkan Anya yang termasuk Genus Bangkok diantara temannya.

Yang mengantarkan suntik ya bapak ibunya. Habis itu saya di rumah di tilpun. Seperti judul di atas, bibi pulang..

Tolong terima delivery bocah satu tahun di stasiun kereta api. Kami suami istri ada acara lain. Bocah nggak boleh dibawa.”

Saya senang saja dapat kiriman. Serah terima bayi dilakukan diatas pagar masuk MRT Kadaloor. Seperti adegan penculikan bayi..

Kalau CCTV stasiun MRT diputar ulang, ada seorang perempuan Muda Semogh berbaju hitam berambut sebahu menyerahkan anak bayi kepada lelaki botak dengan uban 95%, usia ditaksir 60an keatas, ras Melayu, memakai kaos T Hijau berlogo Puma tetapi tidak robek, sebab bukan pemain Piala Eropa yang pakai kaos Puma mudah sobek. Lelaki ini bercelana pendek biru ala Mamang-mamang dan sandal jepit.

Sebelum berpisah – perempuan muda – Sang ibu mulai memberi arahan…

“Papa… Kalau badan Nara sudah mulai nggreges.. Minum susu botol tak selera. Kasih Dumol 5cc. Ada di kulkas.. Sudah ya.. Bye Nara.”

Sang ibu melesat menunggu kereta yang setiap 20 menit datang dan pergi.

Nara sang bayi kooperatip saya bawa pulang.

Tapi kakek harus pel lantai yang basah. Tidak keburu sebab sudah diambil alih Nara dengan desisnya..Jot..jot..

Cucu kedua saya ini kalau saya menyanyikan lagu ibu Sud- Indonesia Tanah Kaya (?), selalu minta gendong dan harus menyentuh lukisan.

Syairnya : “Tengok Padiku Berjurai, Jurai, Warnanya Kuning Tandanya Masak, Ditiup Angin Lambai Melambai, Bagaikan Ombak Beriak-riak… saya lupa syair selanjutnya. Lagu yang didendangkan ibu saya 60tahun lampau..

Ada yang punya syair kumplitnya…jadi kangen Ibu.. Kalau masih hidup, pada 14 Juli lalu ia berulang tahun..

 

Tengok padiku berjurai-jurai..warnanya kuning tandanya masak.. ditiup angin lambai melambai.. bagaikan ombak beriak-riak.. tanahku molek, tanah yang kaya, sawah padimu kenangan saya..

Berduyun-duyun orang menuai.. bersenda gurau bersuka ria.. riuh bunyinya sorak dan sorai.. berbahagia berkat yang Mulia..

Tanahku molek.. tanah yang kaya.. sawah padimu kenangan saya..

Selalu sibuk orang di sawah.. padi dituai padi diikat.. ditimbun-timbun melimpa-limpa.. itu upahnya payah dan penat..

Tanahku molek.. tanah yang kaya.. sawah padimu kenangan saya…

13654266_10208452378320039_1254677426648289635_n
Tengok Padiku Berjurai-jurai..Warnanya kuning tandanya masak..

 

13731679_10208450354069434_6286424667307964151_n

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.