Posted in mimbar

Red Dog 2


Dongeng Red Dog untuk cucuku (2)
Ketika anjing Antagonis punya rekening bank atas namanya.

Seperti dalam bagian pertama – dikatakan seekor anjing gembala lokal “jenis Kelphie” yang diberi nama Tally Ho. Saat usia 18 bulan ia dibawa pindah rumah dari daerah sepi ke tempat yang lebih ramai yaitu Dampier. Ia mulai mengenal makanan enak dan mudah didapat yaitu mencuri milik para pewisata pantai.

***

Selama ikut Col Cumming – dan diajak berjalan mengenali kota barunya ternyata Tally Ho memiliki ingatan yang luar biasa. Ia cepat merekam Tempat, Kejadian, dimana sebuah keramaian berlangsung. Misalnya hari Jumat Sore, Sabtu dan Minggu adalah waktu berpesta maksudnya mencuri. Tetapi bagaimana dengan hari biasa..

DSL (Dampier Salt Limited)- Sekarang Rio Tinto. (AUSTRALIA BARAT)

Tally ternyata pengamat tajam. Di sebuah sebuah mess bujangan pekerja milik perusahaan tambang garam DSL (Dampier Salt Limited) – banyak orang kesepian biasanya mudah depresi. Jauh keluarga, kadang kalau pembicaraan melantur dibumbui berbotol bir masuk tenggorokan maka ujungnya malahan pada tawuran. Saat keadaan kacau ia bisa mencuri Kentang Goreng, burger, Chip Potatoes.. Lalu kabur.

Lantas Ia mulai berani menyelinap lama ke mess para bujangan. Siapa tahu mereka butuh teman mengobrol – pendengar yang baik biasanya bukan manusia.

Nalurinya tepat. Kedatangan Tally diterima hangat. Dan ini berarti sumber makanan gratis. Kalau sekedar potongan T Bone Steak kalau hari Minggu, Sosis, Hamburger – pokoknya makan dijamin.

Saat itu pekerja Garam menulis kenangan yang namanya stok Steak melimpah di gudang mereka. Kendati ada pekerja yang mengeluh soal “diskriminasi” – artinya Bule Yankee di layani lebih dulu ketimbang Pribumi Australia.

Dan kalau hari begitu terik, mendekatlah Tally Ho ke Kantin. Salah satu pemiliknya Gadis Nancy tidak berkeberatan membuka sedikit pintu agar hawa adem AC bisa sharing dengan Tally-Ho. Hanya karena Tally tidak bisa menyebutkan nama sendiri dan tidak ada yang tahu siapa pemilik anjing yang seenaknya sendiri ini, mereka memanggilnya sebagai anjing penjaga domba, yaitu “Blue” atau “Bluey”.

BUKA REKENING

Setiap pagi Bluey memperhatikan Bis pegawai pergi pagi-pagi, pulang petang-petang.. Bisa ini akan membawa Pegawai dari mes lalu stop di sekolah anak-anak di Dampier, mengangkut mereka sekolah ke Karratha. Begitu seterusnya.

Sekali ia mencoba naik, namun supir tak mengijinkannya. Apalagi selain dikenal bau tubuh yang tak segar – iapun doyan kentut yang luar biasa badeg..

Ditolak… kecil…kata Bluey. Ia lalu berdrama queen..Kalau tak diijinkan naik bis ia memperlihatkan wajah sedih, mata dikedip-kedipkan, buntut ditekuk ke bawah selangkangan. Lama-lama John (kelak jadi tokoh utama dalam filem), sang supir, jadi tak tega, lantas mengijinkan Bluey untuk naik Bis…

Begitu diijinkan masuk bis – perangai aselinya nampak, ia hanya mau duduk dibelakang supir.

Padahal itu kursi khusus bos (privilage). Namun Bluey tak perduli. Siapapun yang mencoba naik duluan agar bisa duduk dibelakang pak kusir yang sedang bekerja, berarti kirim undangan cari gara-gara dengannya.

Para Pekerja tambang-pun lama-lama menganggap bahwa memang sudah sepantasnya dia duduk di depan..

Saat hari Minggu – Red Dog mengetahui bahwa ada sekumpulan orang berkumpul disatu bangunan bernama “Gereja”, ia akan betah disana bukan duduk melainkan berjalan kian kemari, kadang memberi tanda sudut gereja dengan caranya yaitu pipis.

Kalau ia bosan di Mes, lantas ingin melancong sementara jadwal Bus belum ada.

Ia akan melintas seakan hendak bunuh diri di depan kendaraan yang keluar gerbang sekuriti. Dengan cara ini supir mau tidak mau menghentikan kendaraannya dan mengajaknya masuk mobil.

Jangan dikira hanya naik mobil. Ia kadang dijumpai menikmati angin laut diatas sebuah “boat” atau kapal layar. Warga setempat sudah paham akan kelakuannya yang tak tahu aturan. Namun sekaligus uji sertifikasi moral oleh Red Dog.

Mobil atau kapal yang dipilihnya berarti pemiliknya dipercaya oleh Red Dog. Dan itu suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Lama kelamaan pegawai sudah menganggap Bluey sebagai anggota komunitas mereka. Oleh orang gudang (warehouse) Ia diklasifikasikan sebagai salah satu spare part. Lalu dibuatkan rekening atas namanya dan para pekerja dengan suka rela membagikan sebagian hartanya untuk kelangsungan hidup Bluey. Uang inilah yang dipakai untuk biaya pengobatan Tally Ho yang kini dipanggil Blue.

Kelak pihak bank setempat menggunakan momentum ini sebagai iklan mereka. Anjing yang angot angotan saja mempercayakan keuangannya kepada kami. Bagaimana anda.

****

‪#‎TKP‬ Australia Selatan ( Dampier, Karratha, Pilnbara, Paraburdoo), background kota tambang besi, tambang garam pada 1971-an

Sumber..

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.