Posted in mimbar

Red Dog 3


RED DOG (3)
Dongeng untuk Cucu..
 
KONFLIK DENGAN PENGEMUDI BIS BARU
 
Hidup red dog mulai teratur, ia bisa berpindah dari mes pekerja Garam, lalu ke Mes Pekerja Tambang Harmsley Iron (sebelum menjadi Rio Tinto) yang lebih besar.
 
Suatu ketika sang sahabat John, menabrak kangguru yang memang sering melintas di jalan raya. Motor terpelanting keluar jalanan dan merenggut nyawanya.
 
Seperti Hachicko – reddog berhari-hari menunggu kedatangan sang teman yang tak kunjung datang menyapanya.
 
Supir bis pengganti John kali ini tidak suka kepada Red Dog.
 
Mahluk yang baru berduka kehilangan tuan ini diusir dari bis. Yang tidak disangka, pekerja pada demo – menuntut agar Red Dog diperkenankan masuk bis karena ia salah satu anggota serikat pekerja tambang Hamsley. Rekening saja dia punya. Akhirnya Red Dog bisa masuk bis seperti biasa.
 
Sepeninggal sang “tuan” – ternjadi perubahan sikap pada reddog, ia yang biasanya memang tidak betah disatu tempat kini semakin tidak betah lagi. Banyak orang menafsirkan ia bermaksud mencari tuannya.
 
Sejak itulah orang sering melihat Red Dog ada dimana-mana. Seseorang pernah memperkirakan ia melakukan perjalanan sejauh 1500 kilometer, ini setara Jakarta-Bayuwangi ditambah Jakarta – Surakarta. Tentunya dengan berganti moda transportasi.
 
Dengan mengandalkan ingatannya, ia akan “HitchHiker” numpang kendaraan siapa saja. Bosan dengan kendaraan mobil ia bisa numpang Kereta Api.. Bahkan beberapa orang melihatnya ada di Darwin dan kemungkinan ia diajak pilot pesawat kecil masuk kedalam kabin mereka.
 
Caranya menyetop kendaraan digambarkan dalam filem yaitu berdiri di tengah jalan. Begitu pengemudi keluar kendaraan, ia langsung duduk nangkring dalam mobil. Lantas bagaimana kalau pengemudi tdak melihatnya?. Gampang, Red Dog dengan kemampuan berlarinya (kan keturunan Dingo), akan mengejar kendaraan, menyalak sampai pengemudi melihat, iba dan membawanya sebagai penumpang..”
 
1978, seorang ibu harus menjemput anaknya di motel Walkabout-Karratha. Hari masih pagibuta ketika ia melihat Red Dog tertidur di parkiran mobil. Ada anjing berada di Karratha bukan di Dampier, artinya ia melakukan perjalanan sangat jauh. Ibu muda ini paham betul gaya sang Gipsi. Reddog dibangunkan dan seperti mengerti langsung melompat kedalam mobil.
 
 
MENOLAK TURUN
 
Sesampailah mereka ke kawasan Industri, ternyata si keras kepala menolak turun. Mau tak mau ia – ibu dan anaknya harus membawa tamu tak tahu diri ini ke mes bujangan di Dampier..
 
Dan itu artinya 20kilometer perjalanan. En Toh sialnya – ia masih belum mau turun juga..
 
Setelah putar punya putar, sampailah ke mes Bujangan milik perusahaan tambang garam Hamersley. Dengan happy ia menggoyangkan ekornya ke kiri kekanan.. Pertanda Okay I am Happy Alight Here, Thanks for riding..
 
Gara-gara si bandel itu – maka ibu dan anaknya malahan saling kenal dengan penghuni mes dan termasuk memenuhi undangan sarapan pagi.
LUKA TEMBAK 1
 
Satu ketika ia terkapar di jalanan akibat luka tembak (tidak semua bule suka anjing). Atau ia menyelinap terlalu dekat ke kandang kambing.
 
Seorang pengemudi turun lalu membawanya ke dokter hewan satu-satunya dikota itu.. Karena berusaha menyelamatkan nyawa mahluk kaki empat ini, ia menerobos lampu merah berulang kali sehingga distop bung Polisi. Ketika tahu bahwa ada Red Dog didalamnya dan butuh pertolongan segera maka ia tidak jadi ditilang.
 
LUKA TEMBAK 2
Belum lama sembuh – Mes Dampier geger ketika ada berita bahwa lagi-lagi red dog di tembak di kota lain. Tiga karyawan segera berangkat menjemputnya di hari yang terik, dan membawa ke dokter. Sekembalinya dari dokter, mumpung bisa ijin tidak bekerja maka mereka bertiga nyantai “ngadem” di bar. Dan berujung masuk sel karena mabuk saat mengendarai. Hitung punya hitung, biaya menebus mereka dari penjara, biaya perjalanan, biaya perawatan si reddog masih lebih mahal ketimbang mereka memanggil dokter terbang ke TKP.
 
OBAT CACING
Lantaran kegemarannya NGEBOLANG – tak jarang ia dianggap anjing liar oleh pemerintah kotapraja lain. Ia pernah ditangkap lalu dimasukkan kurungan – untuk diberi obat cacing. Hanya sebentar dalam kurungan – keesokan harinya petugas bingung ada tangan-tangan membuka kunci slot Red Dog. Sampai sekarang siapa yang membebaskannya tak ada yang mengaku.
 
 
KESAKSIAN DEREK PEKERJA TAMBANG GARAM
Little Derek seorang pengemudi dan pekerja Tambang Garam di Dampier (Dampier Salt-DSL) menulis kesan..
 
Saya bekerja di Tambang Garam Dampier selama bertahun tahun dan kenal betul dengan Red (Bluey). Ia bukan anjing milik perseorangan, tetapi manakala ia sampai memilih ikut kendaraan bersamamu, maka itu pengalaman berharga. Biasanya saya mengangkutnya saat berangkat berlatih renang di Mini Moke. Red Dog sekalipun berbau busuk namun memilih-milih kendaraan yang akan ditumpanginya..
 
Adalah Jim Fuller seorang Penjaga Gudang DSL yang menjadikan Red Dog sebagai anggota serikat pekerja Tambang Garam. Jim membukakan rekening bank di Bank of New South Wales.
 
Red Dog selalu menyetop kami di pintu gerbang untuk ikut pergi. kadang pagi kami melihatnya di mess, dan keesokan hari kami bertemu dengannya 300 kilometer jauhnya. Entah bagaimana ia bisa sampai kesana..
 
Ia anjing yang spesial.. kami merasa kehilangan….
 
[“I worked at Dampier Salt for many years and got to know Red. He wasn’t a one person dog but if he took a shine to you it was a special experience. I often took him to Pond Zero at DSL for a swim in the company Mini Moke. It was a choice vehicle for him as he often stank. I recall the late Jim Fuller, a storeman at DSL being instrumental in making him a member of the Union and opening up a bank account at the then, Bank of New South Wales. Red always had the habit of gate crashing most of the functions held around the Wet Mess at Dampier Salt (DSL). We often wondered how he managed to do it, as he was here one day and 300km away the next. He was so special and so sadly missed. It was an absolute privelige to have been up, close, and personal with such an Aussie Icon. God bless you Red. (By the way, at times Red was known as Blue, all be it, not for long).”]

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.