Posted in mimbar

Mencari Pacar dan Pokemon di KFC


Anak anak celana pendek (SMP) ini masuk ke KFC sambil berlari riang merebut kursi kosong. Beberapa teriakan kegembiraan dilontarkan (dalam bahasa Inggris). Tapi mata tetap manteng ke layar HP. Seperti mengerjakan Math berkelompok.
Potongan ayam pak Saunders yang digoreng renyah di tutuli wijen dan agak pedas terpaksa saya letakkan lagi di baki. Ada kertas penutup baki bertuliskan.. Untuk kenikmatan anda semua ayam dibuat under pressure. Lah repot bahasa. Mengapa tidak bilang ayam ini dipresto habis perkara.
Rombongan ini duduk di sayap kanan saya. HP mereka manteng apalagi kalau bukan Pokemon. Satu bocah lanang bagus muka malay malahan angkat kaki di kursi. Yang lain tertib.
Yang menarik, teman mereka yang perempuan justru yang aktip sibuk antri makanan dan minuman buat teman-temannya.
Sementara kumbang jantan matanya tak lepas pada layar HP. Satu-satunya human-interaction yang terjadi adalah saat wanitanya menagih ongkos makan dan minuman mereka.
“How much”, tanya Kumbang
“Ten dollar, kata Panitia relawan.
Uangpun diberikan tanpa melihat, zonder menghitung (cuma selembar puluhan), tanpa etika ucapan terimakasih.. Semua tetap pada medan perburuan. Tidak ada yang merasa dibudak-budakin.. semua mengalir.
Rombongan mereka keluar setelah mendapatkan yang diinginkan.
Terlihat ketika mereka teriak “whoa yes” lalu mengemasi barangnya.
Kesimpulan.. kaum wanita itu lebih lincah ketimbang pria. Urusan perut.
Catatan : Singapura belum mengijinkan game Pokemon Go (secara legal). Tapi yang bicara hanya satu pintu.
Seperginya mereka yang di sayap timur. Saya jelalatan menengok sayap barat. Saya dan cewek di bangku panjang ini cuma dibatasi tas backpack.
Dua remaja putri SMP juga manteng HP.. percakapan full Malay..tetapi hanya seperlunya saja.
Ada wajah lelaki sepantaran mereka menggoda ..dadah dadah dilayar ASUSnya.. Ternyata diseberang meja dua jantan seusia smp yang melancarka modus.
Kadang jantan menggoda dengan kirim gambar tak jelas. Bunga senyum manis.. Berdiri mendekati meja kedua anak lelaki sambil bertanya : “Picture macem mana ini..”
Kesimpulan sesaat – kalau soal CINTA anak perempuan lebih menunggu
Dua kelompok anak SMP.. Satu sibuk cari Pokemon.. Kelompok lain sibuk ber modus.. Saya diapit mereka sibuk mipil ayam goreng.
Selamat berhari minggu..
Juli 2016
13782065_10208530478152486_2063232802191828035_n

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.