Posted in mimbar

BAYAM


Makan bayam asosiasinya akan sehat seperti Popeye. Minimal seperti lengannya Vin Diesel. Apalagi mengandung vitamin “biji besi” yang dibutuhkan darah. Mohon maaf untuk penikmat yang ada Kencing Batu – tidak dianjurkan melahapnya terlalu banyak.

Makan malam sudah terhidang Cah Bayam, warna dedaunan yang masih nampak hijau, potongan tomat segar, wah wah segar rasanya setelah beberapa lama dihajar santan berat.

Setiap makan, saya mempunyai misi kepada anak dan cucu untuk menghormati makanan. Saya marah dalam diam – kalau ada makanan disimpan terlalu lama lalu lupa sehingga “expired” atau masak secara berlebihan dalam kuantitas, sehingga akhirnya terbuang.

Dan jujur, perasaan saya bisa “trauma” – sakit yang lama hilangnya saat menyaksikan sebotol, semangkuk, sepanci masakan tidak bisa dinikmati mungkin karena expire, atau lupa dihangatkan. “That was unacceptable”..

Kilas baliknya – Simbah saya yang selalu mendahului kata “aku iki wong bodo” mengajarkan dengan “contoh” – yaitu mencampur masakan sisa kemarin entah lodeh, kangkung, tempe kedalam satu wajan. Dan itu luar biasa sekali bagi saya.

Apalagi Simbah, Pakde pada bercerita dijaman “NORMAL” ternyata di Gunung Kidul tanah tumpah darah mereka, makan nasi kering adalah menu sehari-hari. Lantas ketimbang menggerutu menyalahkan Presiden Soekarno – makanan tersebut malahan dijadikan cara memperoleh kesaktian.

Mereka ada yang dipanggil ROMO, orang desa kalau bertemu mencium tangannya. Bukan karena kiyai melainkan – konon bisa mengobati orang sakit dan ahli olah kanuragan.

Perilaku yang mereka pertontonkan -tanpa dipenuhi simbul-simbul agar JAIM menjadikan mereka sebagai Acuan setiap kali saya menghadapi makanan.

Makanan itu cuma enak dan enak sekali sekaligus respek kepada alam yang memberikan bentangan untuk ditanami sayuran, kepada yang menyiapkan dan kepada tubuh yang masih diberi kesempatan oleh YME untuk menikmatinya.

TAPI YANG INI BEDA..NAH LHO..

Tapi..jujur..cah bayam yang saya makan kali ini agak aneh..neh.

Begitu anda kunyah, nyah rasanya seperti ada deplokan (gilingan sangat halus, sehalus debu nempel di laptop) yang ikut digiling geraham.

“Sudah dibilas 4 kali lho..”- kata yang empunya masakan ketika melihat saya saban mengunyah langsung diam macam disuruh mengerjakan matematika.

“Aku yang metik daun-daunnya,” kata ibunya sang empunya masakan.

Sikap hidup saya sedang diuji.. Dan saya selesaikan makan malam tanpa drama.. Itu sebuah janji..

Hanya kali ini tidak “nanduk” alias menyendok sayur yang – ya ambil yang lain.. Lha wong ada udang goreng meleg-meleg (apa ya bahasanya), tergolek disana.

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.