Posted in gaya hidup, mimbar

Antenna


Sekalipun sudah menggunakan TV berbayar, namun orang rumah saya lebih sreg menyaksikan siaran TV dengan Antene Terrestrial. “Nggak Ribet ganti channel dan pilihannya banyak..” – rupanya mereka menandai bahwa satu provider dengan provider lain ada saja kanal yang hilang.

Lagian kalau pindah dari Parabol ke Antene, suaranya sering teriak-teriak keras banget..

Akhirnya saya harus “itung itungan” yang jatuhnya empuk…

Stop TV berlangganan. Lanjtkan – Kebijakan satu remote control..

Dan kembali ke antenna terrestrial.

***

Dua belas tahun lalu, siaran TV bisa diterima dengan jernih, namun sejalan dengan munculnya bangunan baru milik tetangga, bintik-bintik makin membahana. Beberapa sayap mulai patah lantaran usia, atau digesek dan dibetot benang layang-layang.

Bilamana  hujan datang – sekalipun rintik-rintik, gambarpun mulai masuk angin, kadang saya bercanda gambarnya berteduh.

Kalau cuaca cerah, lantas ada angin – maka suara TV seperti penyanyi dangdut “level entry”-pemula, secara menyanyi sambil mikrofonnya di jauh dekatkan dari mulut. Hingga hilang nimbul suaranya..

Setelah tertunda -dan tertunda, kamipun spesial mendatangi toko listrik langganan kami.

Pertama yang memiliki toko ini seorang senior, kooperatip, dan memberikan banyak masukan. Bukan “cso” , yang selalu menjalankan azas praduga “We can save your money – but Spend more of your money..”

Semua orang memanggilnya Pakde Listrik. Di kampung kami, ngobrol sudah gaplok-gaplokan bahu, kalau ditanya nama cuma geleng : kami sih biasanya panggil dia si Gondrong, si Bajing, si Kumis.

Pakde yang satu ini kalau dimintai kartu nama – punya segepok-pok.. Tapi yakinlah itu nomor tilpun rekanannya. Jadi namanya dalam kartu nama seperti screen saver yang berganti tiap hari. Sebut saja kadang Malay, Ali, Marulia, entah apa lagi.

***

Ketika saya memilih antena – dengan sopan ia bertanya

“Kan bapak sudah tidak “Ngondek” lagi” – maksudnya memakai TV tidak berkonde – melengkung dibelakang,

“Maka saya sarankan pakai yang digital..”

[Maafkan keterbelakangan saya soal antenna, 12 tahun tidak naik kelas dibidang per antenean]

“Kalau perlu bantuan untuk memasangkan,  saya carikan orang, dia juga pinter dandanin listrik..”

[jangan pikir kalau dandan harus pakai pensil alis ya..]

Lantas Pakde Listrik, menaruh contoh antene – permisi meninggalkan kami sebentar – untuk menghilang ke satu gang, dan kembali lagi membawa seorang anak muda.

“Bawa dulu antenanya, kalau gambarnya lebih baik, silahkan bayar. Harganya sekian..” – ia menyebut angka dan tidak mau dibayar kontan.

Antena lama kemudian diganti oleh seorang anggotanya yang membawa asisten juga. Setelah pusa setel antena (dan menjadi lebih jernih gambarnya), iapun kami sodorkan dispenser air yang bocor dan sebuah kipas angin yang mangkrak. Dispenser menjadi bagus hanya dengan dikuras, sementara kipas angin harus diganti motornya. Semua dilakukan dengan cermat.

Sambil membayar biaya perbaikan, saya sekalian menitip uang “antene” kepada pakde. Dan untuk aman dan tertib admin, saya menilpun Toko Pakde hendak memberitahukan titipan uang kepada “Malay” – pemuda yang perbaiki antena.

Nomor tilpun pada kartu nama bertuliskan Dedi – saya cabut, dan HP saya putar… Beberapa kali baru nyambung. Terdengar suara tak ramah. Seperti kalau anda menerima tilpun tak dikenal dengan praduga “paling asuransi, paling kartu kredit, paling minta pulsa dan pernik-pualing..”

****

Ini memang salahku – begitu tilpun diangkat sambil memperdengarkan mendengus tanda tak senang – kok saya dengan sukses dungu kenapa gitu – haqul yaqiiin – itu suara Pakde

Zonder mengecek “ini siapa” langsung saja nyerocos tanpa subyek predikat apalagi kalimat penderita –

“Saya yang beli Antena, uangnya sekian saya titipkan anggotanya Malay..” – maksudnya pemberitahuan kepada Pakde Listrik bahwa pembayaran hutang sedang OTEWEH oleh asisten ke lapaknya yang berjarak sekitar 300m..

Pingin saya ada suara “oh terimakasih ya, kalau begitu tiket saya closed..” – Ngarep.

Cuma jantung saya berdegub kencang  dijawab “huh terus kenapa!..” – dengan nada ngajak Pibu..

Harap maklum ia menerima tilpun orang tak dikenal. Dalam posisinyapun saya akan bersikap demikian.

Akhirnya drama salah sambung bisa dikoreksi sekalipun sampai sekarang saya belum pernah berhasil menilpun pakde secara langsung. Semoga Malay cs yang nampaknya jujur – menyampaikan titipan uang yang tak seberapa itu.

Habis mau tilpun ke nomor yang mana? – Yang jelas siaran Andhini dan Lonceng Cinta – semakin membloonkan namun menggemaskan.

Siapa tidak gemas – tokoh aliran putih mulutnya terkatup rapat – kepala sedikit menggeleng- tetapi ada suara “Sebentar lagi segala kebohonganmu akan terbongkar, akan ku beri pelajaran yang tak kau lupakan..” –

Nyatanya.. masih sekian puluh episode lagi baru dibongkar..

“Huh terus kenapa!” – ikutan dialog salah sambung.

 

Image may contain: text

Advertisements

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.