Posted in mimbar

76=79


Di halaman rumah duka saya sempat bingung mengingat nama almarhum yang baru saja meninggal sehari lalu. Selama ini kami cuma memanggilnya “YEYE” panggilan cucu kepada kakeknya. Info lain  Yeye pedagang asal  Medan yang buka toko di Mangga Dua.

Lantas saya membuka FB, mulai menelusuri posting dari sahabat kami sebut saja ibu Tan. Tan ternyata nama sang Ayah.

Ketika saya sampai di lantai II VIP, suasana masih sepi. Ibu “Tan” Putri kesayangan almarhum, masih belum lenyap menahan isaknya. Bagaimana tidak, semasa hidupnya sang ayah hanya mau makan kalau putri menemaninya. Manakala bepergian – selalu  sang ayah membawakan makanan kesukaan putrinya.

Di sudut ruangan – saya melihat rumah bertingkat yang terbuat dari kertas,

Sebuah meja Altar berisikan deretan sesajen, termasuk jeruk mandarin, dan hio yang selalu mengepul  – ia mestinya pemuja Dewi Kwan Im.

Bahan saat hio mulai memendek, kemudian asistennya menyalakan hio baru, sebelum ditancapkan, putri kesayanganya harus memegang Hio, menjura sambil berdoa di depan peti dan menancapkan Hio itu sendiri. Semasa hayatnya, makanan yang disentuh putrinya selalu menjadi nilai plus baginya.

FIRASAT

Hari minggu lima February 2017 – Yeye masih sempat minta diantar ke  Muara Karang, kondisinya sudah lemah,  diabetes nya menjadi, namun kemauannya keras. Lagi-lagi kepada putrinya ia bilang “hari Selasa, aku mau jalan lagi”

Putrinya, sehari-hari sebagai supplier perusahaan minyak, hanya  menyangka – beliau kepingin diantarkan ke Kopitiam, tempat kumpulan arisan sesama Manula dari Medan.

Teryata dua hari kemudian ia menemui Dewi Kwan Im.

Ibu Tan sekali lagi mengambil Tisu sambal menyeka hidungnya.

Usia sebenarnya 76, namun adat kebiasaan mereka, manakala sudah memiliki cucu, usia bertambah 3 tahun, sehingga menjadi 79. Ibu Tan menjelaskan sambal tergelak sedih, wajahnya sebentar-sebentar dilayangkan ke peti dibaringkan.

Layaknya para pengikut Kong Hu Cu, pada usia 53 – ia seperti mendapatkan bonus ilmu batin berupa memiliki kemampuan “melihat” masa depan. Herannya lelaki berperangai temperamental ini marah kalau orang datang “melihatnya sebagai Dukun lantas  nanya ramalan.”

Tidak lama datang ibundanya, beliau malahan nampak lebih tabah ketimbang putrinya.

Ketika kerabat mulai ramai berdatangan, saatnya kami pamit.

Saat menelusuri karangan bunga tanda duka cita, saya membaca ungkapan dari handai tolan, sampailah “mak jegagik” – dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia – dan nama di bawahnya Anton Medan.

Rupanya almarhum adalah Paman “cer” dari tokoh Preman yang kini menjadi Mubaligh itu.

 

 

 

 

Advertisements

Author:

Hi.. Mimbar Saputro.. friend call me Mimbar. Live in Jakarta and Bekasi, Indonesia. Above 58 years old, love to write anything, but still afraid write in English. Retired real mudlogger, "promised" Directional Driller coordinator, "promised" mudlogger's Director. Since 6 Januari 2012 - been third time retired. My actual job is drilling rig "mudlogger" - a person who collect information based on drilling shit or cuttings. I like to write about drilling rig, but ones must remember the Oil industry is Tighthole Policy, therefore you cannot tell about your rig too much. After twice got "golden shake hand" another word for "early termination" - they said I am too old for such job, I am working in West Australia, the country where the older is the better. I love working here because the payment good, people nice, food superb. And they did not even bother how old am I as long as I can work, in good shape.Thats all. Hello: Nama saya Mimbar Bambang Seputro, tetapi di Pasport kadung ditulis SAPUTRO. Waktu kecil dipanggil PekBang. Kelahiran Banten Jawa Barat. Sebetulnya cita-cita sih menulis kehidupan saya pribadi sebab setiap orang pasti memiliki riwayat hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain. Sayangnya banyak dari kita meninggalkan dunia bak sebuah orkestra indah yang belum pernah diputar karena tidak berani mencoba menulis kehidupannya. Bahkan banyak orang kalau namanya kebetulan mirip dan tersenggol - marahnya bukan main. Padahal apakah cerita kehidupan harus selalu glorius, penuh kemenangan. Banyak kan kita membaca otobiografi seperti sekolah pinter, anak Wedana, anak Orang kaya, Ganteng, ndak pernah salah sementara sayapun juga manusia, punya kelemahan. Saya bekerja di sebuah konsultan perminyakan di Australia. Namanya memang keren "MudLogger" tetapi pekerjaannya mengayak lumpur pengeboran. Setelah lumpur dibuang maka batuan yang sudah menjadi serpih ini kami tata teratur dalam baki kecil dn dilihat dibawah mikroskop. Sisa batuan lainnya kami bungkus dalam kain mori. Lalu kami jemur dibawah terik matahari. Rata-rata berat satu bungkus harus 2 kilogram. Kalau contoh serpih batuan ini sudah kering, kami bungkus dalam kantong plastik seberat 200gram. Biasanya satu set terdiri dari 4 kantong plastik. Dan kantong-kantong ini kami kirim ke pelanggan kami untuk dilakukan pemeriksaan geokimia dan analisa batuan lebih terperinci.