Bapak


  • Bapak dan Musik Keras

Maksudnya, bapak kerapkali menyetel musik dengan volume keras.

Mungkin kalau distatistik, maka hobi paling banyak mengeluarkan uang adalah Gadget beliau dibidang music.  Di rumah,  kaset recorder tidak pernah tidak harus selalu berbunyi. Dan bapak selalu berlatih menyanyi sambil mengikuti iringan Kaset. Tak terbilang kaset Titik Sandhora, Teti Kadi, Bob Tutupoli, Emilia Kontesa, The Hand, AKA, Bimbo.

Saya mencoba mengisi koleksinya dengan album Led Zeppelin –langsung didzolimi – Lagu Opo Iki.

Bosan dengan kaset, bapak menyetel  Piringan Hitam. Yang paling seru tatkala piringan hitam atau kaset diputar dengan suara pol sampai dari rumah Teluk terdengar di lapak dagang Pak Lek Min tukang Miso Ketupat di halaman Kantor Pos.

Ibunda yang selalu “tepo seliro” merasa gerah sebab tidak semua orang suka lagu yang sama.

Diluar sepengetahuan bapak, ibunda kerap mengecilkan volume suara sambil ngedumel, “pak mbok sing alon- nggo rungon-rungon dewe,”

Begitu suara mengecil bapak akan buru-buru bangun dan   memutar  volume ke jalan yang benar sambil  berdalih bahwa music harus cadas keras. Kalau pelan bas dan treblenya tidak terdengar.

Saat itu daftar belanja bapak akan music belum sampai pada Level– dimana dengan peralatan yang bagus, music tidak perlu keraspun bisa berdegum ditelinga.

Sering karena keasikan dengar lagu “Mengapa Tiada Maaf” –dari Bob Tutupoli, atau “Berhembus ANgin Malam” dari Emilia Contessa maka bapak jatuh tertidur di Sofa.

Beliau biasa tidur nyenyak  mengorok, sekalipun anak cucu jumpalitan teriak didepannya.

Ibu biasanya “kasihan” melihat bapak tidur, lalu volume LP(Long Play) dikecilkan.  Dan ini tiket keributan sebab bapak akan terbangun, dan mengomel sebab istirahatnya terganggu.

Papanya Meggy yang paling vokal serumah selalu mengecam keras  akan hobbi ini sehingga sering timbul friksi antar anak dan bapak.

Saya sendiri bisanya mengkritik bahwa untuk peralatan listrik, yang menimbulkan panas, sebaiknya pakai kabel yang berkualitas. Tapi bapak lebih suka kabel Merah Hitam – mungkin bentuknya langsing, kalau dikelupas cukup pakai gigi, dan serabutnya ada 5 lher supir tipis,  dan nampak berseni dipakukan di wall paper warna coklat, atau dinding komprotan warna khaki.

Sewaktu pernikahan, ibu Sapta Dewi Fortuniati) a.k.a  mamanya Haviz yang dilangsungkan  di rumah  Teluk Betung – Kupang Bengkel , kekawatiran saya terbukti.

Begitu band cari colokan listrik, dan “JLEG” listrik dialirkan ke peralatan ribuan watt. Langsung tercium bau  sangit.  Kabel terbakar – dan untungnya cepat diketahui karena memang letaknya mudah dilihat orang.

Usai pesta, kabel merah-hitam kembali menghiasi rumah diTeluk Betung.

  • Bapak dan Ketergantungan OBAT

Tiap bangun pagi, mandi siang apalagi pagi, bisa dipastikan bapak selalu gabres-gabres, huacing-huacing. Lalu kebiasaan beliau menenggak sebutir tablet.

Samar-samar ingatan kelas 1 SD saya kembali merekonstruksi sebuah kaleng macam kaleng Glotex isinya sekitar 100 tablet putih.  Baunya masam.

Pil ini ditengahnya adata goretan PLUS “+” sebagai batas untuk membagi pil menjadi dua. Maksudnya anak-anak dibawah 5tahun hanya diperkenankan mengonsumsi seperempat sampai separuh tablet.

Merek pembuatnya UPI – mungkin kependekan dari Usaha Pharmasi Indonesia.

Pil putih yang saya maksud adalah pil APC, rasanya masam, sebab memang tergolong senyawa asam-asaman biasanya penghilang rasa nyeri. Kompetitor pil APC adalah NASPRO. Ini obat

setara dengan aspirin, puyer Bintang Tujuh nomor 16.

MASUK FILEM LASKAR PELANGI

Dalam cerita Laskar Pelangi pil ini kembali menyentak ingatan saya ketika pak Kepala Sekolah, sakit berat mungkin Jantung, tetap bertahan dengan minum pil APC. Bahkan Tonny Kuswoyo memberi nama Koes Bersaudara menjadi Koes Plus, konon diilhami setelah melihat pil legendaris tadi.

Sekali tempo dirumah kami (saya sudah menikah), bapak berkunjung dan ketika mengeluh kepalanya pusing “masuk angin” – beliau mengambil kapsul warna putih-hijau serupa dengan kapsul Decolsin jaman kini. Cuma yang diambilnya adalah kapsul untuk nyeri karena Datang Bulan.

Puyer Bintang Tujuh, sampai sekarang masih bertahan. Sementara APC dari UPI entah kemana menghilang.

  • DIBELA BAPAK

Di Tangsi Brimob – Kertapati – Palembang (Jangan dicari sudah dirobohkan), ada sebidang tanah lapang yang sebagian dipakai untuk  Tempat Penyimpanan Mobil Dinas. Tanah yang lapang ini kalau sore dipakai anak tangsi untk main bola kaki.

Main bola secara nyeker, bolanya plastik.

Sore itu jumlah pemain jatuhnya ganjil sehingga  saya yang berbadan paling mungil disuruh minggir menjadi penonton.

Tidak lama datang Dadang, seorang anak yang tubuhnya besar sambil membawa balon pecah. Tapi dasar kreatif, serpihan balon disedot dan menjadi balon kecil seukuran bola bekel yang kalau digesekkan kekulit bunyinya ribut sekali.

Dengan balon ditangan kanan balon ditangan kiri, Dadang melihat kedua telinga saya. Idenya muncul, dari belakang kedua balon dihentakkan ke kedua telinga saya sampai meleduk.

Lha saya yang sedang mengendorkan rahang sampai ke lantai (hampir), disergap dari belakang saja sudah kaget, kok dikasih bonus ledakan balon karet ditelinga. Saya bergulingan sebab kepala seperti bersuara Zwing Zwing…

Lho kok si Dadang terbahak-bahak seperti kesetanan melihat saya kesakitan. Cuma mendadak saya melihat rambut gondrongnya terangkat. Seseorang gantian dari belakang menjambaknya dan par-gelepar- beberapa kali tamparan mendarat dimuka Dadang (ini bukan nama sebenarnya).

“Kalau telinga anaki saya jadi Tuli kamu mau tanggung…” par, sekali lagi anak digampar.

“Panggil bapakmu, kalau kamu tidak senang…” – kata bapak sekali lagi.

Teman lain yang main bola memang sebentar menonton, namun bagi anak tangsi digebuki atau nggebuki adalah pemandangan biasa. Mereka sebentara teriak-teriak sambil mengejar bola.