My Stupid Me


NASI GORENG

Lihat di Youtube bikin nasi goreng sederhana. Bawang Putih 3 Siung, Bawang Merah 3 Siung, Garam secukupnya. Apa salahnya saya coba. Bumbu saya tumis-mis. Baunya sudah harum, mendekati gosong. Tinggal memasukkan nasi yang menurut petunjuk sebanyak dua piring.  Tanpa mengecek tangan saya menyendok Magic Jar, jebul sisa cuma setengah piring. Nekad, saya tumplekkan nasi tersebut – dan Nasi Goreng terhidang dengan rasa tidak karuan…

Lalu ingat semboyan almarhum Unocal sebuah perusahaan Minyak Bumi di Indonesia dan Dunia yaitu – Dont Expect if You Dont Inspect.

PENSIUN

Januari 2012, saya resmi pensiun dari perusahaan swasta. Keponakan saya pada berteriak kegirangan : “Hore Pakde Pensiun, tiap tanggal satu antri di Kantor Pos” –  mereka menyamakan dengan pensiunan pegawai negeri yang mengambil jatah pensiun setiap awal bulan, lalu mengajak cucunya jajan bakso atau mie ayam. Maksud saya, hal tersebut dilakukan almarhum ayah, kalau waktu pensiun tiba.

SMART PHONE 1

Putri saya cerita bahwa Boss baru saja ganti smart phone yang diperkenalkan oleh Steve Jobs. Sepanjang memimpin meeting, ia sibuk sekali menggerakkan handphonenya dengan cara “swipe” – mungkin menjawab pesan dari kolega bisnisnya.

Usai rapat, putri saya didekati sang boss sambil menyodorkan “how to open this..” – rupanya dari tadi dia masih berjuang keras bagaimana membuka menu di Iphone.

SMART PHONE 2

Sekali tempo smartphone model touchscreen  anak saya tertinggal di taxi. Ini memang kebiasaan buruknya mulai dari dompet, kamera selalu tertinggal. Maka sibuklah ia menggunakan tilpun lain untuk menilpun hp yang tertinggal. Ada dering – namun tak seorangpun mengangkatnya.  Pasrah bahwa HP bisa hilang di negeri Singapore.

Keesokan harinya ada seseorang yang menilpun anak saya. Rupanya dari supir taxi yang ia tumpangi. “I have to work it out how to open your telephone..” – Pak supir tahu tilpun yang tertinggal dihubungi tapi kemana tombol untuk menjawab panggilan disimpan.

ABG Bangget Mbak

Usia putri saya sudah diatas “BIG 3” – artinya lebih dari 30tahun, seorang ibu rumah tangga yang bekerja di Singapura. Seorang pegawainya yang malaysia pernah menegurnya dalam bahasa Indonesia logat melayu..

“selamat Pagi Mbak, Apa Kabar Mbak…”

Belum sempat kehabisan kata karena disapa dengan gaya Jakarta – sang rekan menyambung lagi kepada anak saya yang sedang duduk menganalisa penjualan Levis di layar komputer.

“mau kemana mbak, AbeGe banget mbak…”

Akhirnya terpaksa anak saya menjelaskan – bahwa bahasa yang dipakainya secara logika nggak nyambung. Penasaran anak saya bertanya darimana dia dapat cerita itu?

“Sinetron mbak, Sinetron..” – maksudnya ya Sinetron Indonesia yang dinegerinya dipuja macam ABG kita memuja BoyBand Korea..

BUNGKUS

Biasanya kalau membeli makanan untuk dibawa pulang – maka orang Singapore menyebut “Take A Way” – yang bikin orang Amerika garuk-garuk dagu. Lalu sekali tempo saya pesan “Es Bandung” – dan saya bilang “Take A Way” – dengan peragaan tangan kanan dimana jempol dan telunjuk disatukan seperti menarik sesuatu. Lantas saya terheran ketika Encim memberikan dalam gelas besar. Lalu saya bilang “take away, bagged, bagged”

Eh encim ngedumel – “Next time say BUNGKUS la”

Kalau ketemu pedagang dan pelayan dari aseli PRC (Cina darat), umumnya mereka sulit berkomunikasi kecuali mandarin. Saya menghapal satu kata “Tapau” – artinya ya bungkus bawa pulang..

MINYAK JELANTAH (Bekas Goreng)

Layaknya orang tua, sesekali saya bertandang ke rumah anak saya di Singapura. Kalau orang tua apalagi orang tua lelaki, umumnya kalau kerumah anaknya minta diperlakukan seperti raja, saya malahan ganti jadi Hamba Sahaya. Kalau anak-anak berdua (Lia dan suaminya) bekerja maka saya nggeratak kamar mandi dan dapur.

Saya paling benci sama minyak jelantah, yaitu minyak bekas menggoreng yang dipakai berulangkali. Termasuk sebuah minyak yang ditaruh di kaleng kira-kira setengah literan. Tanpa ragu, minyak ini saya bungkus lalu dibuang. Pulang dari kantornya saya dengar  anak saya histeris – sebab itu minyak baru, pasalnya diatas minyak baru diberi sendok goreng penuh minyak sehingga saya pikir itu minyak jelantah.