Posted in batavia

Serdadu Bayaran Kompeni


Konon buku catatan perjalanan “Jan” seorang anak Amsterdam yang pernah bertugas di Resimen Tujuh yang terdiri para sedadu bayaran ini dikirmkan secaran “anonim” – lantaran sebagai militer ia tidak mau ditengarai mengeritik kerajaan Belanda.

Begitu kapal mendarat di Tanjung Priok, ternyata hanya tentara berpangkat tinggi dan orang kaya yang boleh merapat sementara mereka ditinggal semalaman di kapal sambil berperang melawan bau busuk rawa dan nyamuk Jakarta yang seperti gila menyedoti darah impor segar mereka.

Kritikan pertama dalam catatan perjalanannya sesampai di Batavia adalah kecenderungan orang Belanda menyebut dirinya sebagai “Orang Eropa” – sementara penduduk Hindia Belanda menyebut semua orang Eropa sebagai “Belanda” – mungkin pikir si Jan sudah jadi Belanda saja susah (ia dari keluarga Pemabuk), boro-boro kepingin jadi orang Eropa.

Mungkin 200tahun kemudian Jan kalau masih hidup akan ikutan berkata “Jadi orang Indonesia saja syusah” – kok ada yang ada yang kepingin jadi orang Arab atau Israel.

Kritikan kedua, diantara pelangi antar bangsa yang menjadi tentara “Nijmegen” – nyata-nyata orang Jerman , kendati bengis – namun soal kerja mereka rajin dan profesional. Sementara tentara Belanda dilihatnya selalu menjadi “ayam belehan” – ayam sembelihan. Lalu dia melihat para soldadu yang asal-usulnya tak lebih dari melarat, tatkala tiba di Hindia Belanda menjadi lupa diri seakan mereka berasal dari anak Tuan Tanah Kaya Raya di negaranya sana.

Umumnya tentara bayaran kerajaan Belanda terdiri dari orang Austria, Jerman, Swiss yang anteng-anteng saja. Salah satunya adalah saat mereka memuji makanan mewah yang selalu tersedia di Hindia Belanda maka biasanya ada suara minir dari anak Amsterdam (miskin) “tentu saja kalian diberi makanan enak biar betah tinggal disini, kalau tidak mendingan pulang ke Nijmegen..

Lalu kesannya ketika melewati perkampungan Cina di Glodok adalah, “dua cina berbicara” – cukup beralasan untuk mendatangkan pemadam kebakaran, opas dan tentara satu detasemen. Tapi ia juga memuji tidak ada bangsa lain di dunia kecuali Cina yang begitu lihay mengelola dagang dan keuangan.

Sekalipun tentara Kolonial dia juga mengolok sistem diskriminasi bahwa orang Cina digolongkan warga Asing di Batavia. “Kalau Singkeh (totok), bolehlah dibilang orang asing, tetapi kaum peranakan yang sudah lebih tahu Batavia puluhan bahkan ratusan tahun lalu ketimbang Belanda, geli rasanya kalau mereka disebut warga asing.” 

Olokan lainnya dalah dinegeri yang panas mereka diberi seragam wool yang tebal, penutup kaki yang sampai lutut sehingga dipastikan sebentar saja sudah mandi keringat. “Kerajaan Belanda tidak punya selera dalam merancang pakaian perang..”

Tapi dia juga senyum geli melihat tentara pribumi berpangkat tinggi, dengan baju warna coklat, menyelempang pedangdengan rumbai-rumbai. Tapi nyeker. “geli sih melihatnya, tapi karena pangkat mereka lebih tinggi, saya juga harus memberi hormat. Kadang saya kepingin tahu bagaimana mereka menumpas kerusuhan…”

Soal murah meriah, namppaknya berlaku juga. Ia mengatakan bahwa tarif menginap di Hotel Terbaik di Tanah Jawa yaitu Des Indes berkisar antara 6-10 gulden. Padahal di Singapura, hotel kaliber Melati sudah mematok 15 gulden.

Advertisements
Posted in batavia, betawi

Dapur Betawi


Dapur Betawi masakan Batavia minus Gabus Pucung
Dapur Betawi masakan Batavia minus Gabus Pucung

Lokasinya di Jalan Raya Jati Asih.  Cukup strategi sebab ada Mini Mart dan ATM dalam komplek tersebut.

Dapur Betawi dalam artian harfiah menurut para ahli mengenai Betawi adalah dapur yang langsung connect dengan teras di belakang rumah. Akibatnya banyak orang Betawi kongko-kongko justru di dapur, bukan di ruang tamu.

Menjelang hari H-3 kami mulai kesepian dan kerepotan lantaran ditinggal para asisten selama bersama kami. Rasanya pas juga berbuka puasa sambil mencobai “mudik” di kedai-kedai yang selama ini cuma dilewati saja.

Diiringi lagu TapianUli (?) yang cukup keras menyetelnya maka mengalirlah menu berupa Gurami Goreng, Tahu Sapo, Cah Kangkung, Sambal Gowang (serba mentah).

Waktu menunjukkan mendekati pukul 19:00 – lalu saya pesan Es Kelapa muda, ternyata sudah tandas dipesan pengunjung lain. Terakhir saya minta tambahan es teh tawar, itupun diberi jawaban “maaf pak Es batu sudah habis..

Jadi kalau anda kepingin mencoba masakan di Dapur Betawi yang mirip masakan sunda ketimbang Betawi ini, jangan terlalu malam. Bisa bisa sudah kehabisan.

Dan satu lagi, jangan pesan Nasi Goreng, terlalu biasa-biasa saja masakannya (salahnya saya sering coba sana sini).

Nomor tilpun dapur betawi di Jalan Raya JatiaAsih
Nomor tilpun dapur betawi di Jalan Raya JatiaAsih

Saat keluar saya amati seorang bapak kurus berpeci dengan memelas menjajakan buku dan peralatan ibadah. Mulai menginjakkan kaki ke Kedai ini sampai hampoir keluar tidak satupun pengunjung mendekatinya sebab buku jenis yang biasa dijajakan di Bus-bus AKAP. Menjilidnyapun kadang terbolak dan terbalik. Saya pernah beli buku berjudul atraktip, Harry Mukti menjadi Dai, begitu saya buka isinya dua lembar adalah klipping soal Harry Mukti yang kita sudah sering dengar. Sisanya copy dan paste ceramah entah dari mana tidak jelas.

Alhasil saya lebih berminat melihatnya termenung, kadang menyeruput kopi tubruk, temannya berbuka. Bisa dibayangkan betapa ia harus menceritakan kepada keluarga yang menyambutnya di rumah “dagangan sepi, mana ada orang mau baca buku agama…”

Sebuah tasbih yang katanya “anu iye lima rebu rupiah” – kira-kira begitu dalam bahasa Sunda, langsung saya ambil satu, sementara lembaran hijau yang baru saya ambil dari ATM sebelah saya berikan sembari mengatakan, “sisanya bapak ambil ya..”

Hidup diatas usia 55tahun, saya masih melihat kerabat, sohib saya lebih pandai memberikan sumbang berupa “komentar dan saran” – namun kalau urusan lebih fisik, ada saja dalih untuk ngeles.

Bahkan beberapa tahun lalu saya pernah memberikan dana kedalam kotak amal (besek bambu) dalam sebuah upacara besar Idhul Fitri. Langsung uang saya disambar oleh “seseorang” disamping saya, dan ditukar uang pecahan yang lebih kecil lagi. Orang ini dimana-mana saja menyampaikan dakwah walau satu ayat, tetapi soal pergaulan kesamping, nilainya buruk sekali.

Dalih-dalil “ria” atau sombong, “mengajari mereka tambah malas”dan sebagainya deras mengalir sehingga ujung-ujungnya, supaya jangan riya, mending tidak bersedekah sama sekali.

Jadi ingat tayangan PPT-2 (Para Pencari Tuhan jilid 2) – digambarkan juragan Kosasih yang kaya raya selalu saja berdalih “di musyawarahkan” – setiap kali ada permintaan sumbangan. Kendati sumbangan untuk wuwungan sekolah yang tinggal menghitung jam untuk roboh.

Mudah-mudahan “maafkan kalau terkesan sok” – setelah perut kenyang, pikiran untuk berbagi dengan sesama lebih mudah terbuka.

Posted in batavia, betawi

Buah Atep


Es Buah Atep dan Peuyeum Bandung
Es Buah Atep dan Peuyeum Bandung

Bulan Ramadhan tahun ini (1Sep 2008) suasana kota Jakarta dan Bekasi memang panas luar biasa.  Tenggorokan serasa dijalari cairan empedu.

Tak heran ketika sinetron religi kesayangan saya PPT Jilid 2, alias Para Pencari Tuhan yang ditayangkan salah satu stasiun swasta SCTV mulai mengucapkan Selamat Berbuka Puasa maka saya langsung menyerbu sebuah makanan yang dihari non Ramadhan adalah biasa-biasa saja.

Tetapi inilah berkah Ramadhan. 

Sekarang saya bisa lebih “ngeces” melihat sebuah mangkuk berisikan buah atep yang hijau, peuyeum Bandung bak tembaga. Luar biasa warna hijau dan tembaga keemasan seperti saling isi mengisi.

Ditambah lagi sup santan kelapa berwarna putih diaduk dengan sirup manis kemerahan sehingga ketika bercampur dalam mangkuk warna-warna memberikan suatu hasil campuran baru “merah jambu” – rasanya seakan ingin kutelan sekaligus dengan mangkuknya.

Apalagi ada potongan es batu yang bak berlian terapung bergesekan dengan porselin sambil mengeluarkan nada poliponik menggoda telinga saya seperti kalau baru baru mendengarkan suara HP yang baru dibeli.

Rupanya karena takut saya “kenapa-kenapa” kalau beli makanan di warung maka praktis dari pembuatan sirup, santan bahkan menyiapkan buah atep menjadi satu proses yang njelimet, namun membahagiakan.

Saya ingat buah atep dibeli sekitar 4hari lalu, di sebuah pasar tradisional jam 23:00 – saat yang belanja bisa dihitung dengan jari.

Sebelumnya di bagasi kendaraan sudah ia taruh baskom plastik. Sambil menaruh bungkusan plastik basah berisikan buah atep kedalam baskom “agar tak membasahi lantai mobil

Lalu sesampai dirumah, buah atep direndam semalaman sambil basuhan kerap di buang. Ada semalaman saya mencium bau masam macam saguer (tuak, minahasa) kadaluarsa. Ada dua malam buah atep diproses supaya tiodak masam, tidak berlendir dan mengeluarkan aroma aselinya.

Pada hari-hari biasa buah atep hanya tiarap pada kisaran selembar harga jalan tol dalam kota Jakarta.

Tetapi memasuki ramadhan daging yang menyerupai “lontar mini” langsung bertengger di angka dua kali karcis tol, bahkan kelas super sampai tiga kalinya.

Setiap melihat buah kecil menggemaskan ini saya ingat pernah membuat saya dan mbak Win sepupu saya telanjang bulat di Magelang (masa kecil) lantaran menyentuh buah muda yang bergetah dan gatal luar biasa. Belum lagi sekujur tubuh kami di borehi oleh bubuk “blauw” – sejenis benda berwarna biru biasanya untuk memutihkan pakaian putih.

Selesai satu proses, buah atap didinginkan, air dibuang, lalu direbus lagi, entah ramuan apa yang dimasukkan “orang dapur” yang saya tahu daun suji dan pandan “biar ijoknya keluar.”

Saat lebaran tiba, biasanya manisan buah atap kami selalu laris manis, sekalipun urusan prosesnya njelimet seperti urusan kucuran cek perjalanan di DPR, namun kami puas karya kami (eh orang dapur) dihargai.

Tambahan: Gambar di bawah ini adalah buah atep sumber WIkipedia alias kolang kaling alias buah enau yang masih mentah. Mungkin saja asal kata Kolang Kaling alias berlendir basah sehingga mudah mrucut alias lolos dari genggaman lalu tercipta kata Kong Kalikong. Di sebuah acara Kisi-kist TV Elshinta saya melihat presenter mendatangi sentra buah atep, buah enau, aren atau KolangKaling di desa Ujung Tebu – Kecamatan Ciomas.

Buah atep dari WIkipediaMula-mula buah kolang-kaling yang masih hijau dilepaskan dari tangkainya. Lalu direbus dalam tong-tong besar selama sembilan puluh menit. Masih hangat, biji kolang kaling dikeluarkan dari kulitnya. Kadang satu buah berisi tiga kolang kaling yang berwarna transparan.

Selesai di kupas, biji di pukuli sampai gepeng, lalu direndam di bak khusus selama 15 hari sebelum dilempar ke pasaran. Menurut Rudi, salah satu pengusaha Kolang Kaling, sebulan mereka bisa menjual 1500 kaleng minyak tanah. Harga kolang kaling kualitas baik seharga 85000 per kaleng sedangkan kualitas rendah dilepas dengan harga 30000 per kaleng.

Posted in batavia, betawi

Hukuman Pancung di Batavia


Saya menonton TV mengenai perdebatan apakah hukuman mati bagi Amrozi dkk dalam kasus Bom Bali sebaiknya di hukum tembak dengan tiga peluru tajam merobek jantung atau dihukum Qisas (pancung) seperti yang diinginkan oleh Team Pembela Amrozi.   Alasan tim pembela “apa jaminannya sang terpidana “thek sek” langsung sekalipun 3 peluru menembus jantungnya.

Di lain pihak, kelompok dari Bali sudah geram sekali melihat permainan mulur mungkret soal pelaksanaan eksekusi ini. “Membunuh ratusan orang yang tidak tahu apa-apa soal politik seperti menghabisi nyawa ayam kurus berpenyakit Flu Burung, sekarang teriak bilang melanggar kemanusiaan.” Belum lagi perdebatan dari kalangan pihak berwajib. Ada yang bilang sebelum puasa, ada yang membantah, “masak puasa kok membunuh..” 

Pemerintah perlu mengganti proses hukuman tembak menjadi hukuman pancung dalam proses eksekusi agar tidak menimbulkan rasa sakit yang terlalu lama bagi seorang terpidana mati.”  Pendapat tersebut disampaikan Presiden Perjuangan Hukum dan Politik (PHP),HMK.Aldian Pinem,SH, MH di Medan, Selasa. Menurut dia, hukuman pancung sangat efektif dalam menghilangkan nyawa seseorang tanpa menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. Dalam prosesi pemancungan tersebut, fungsi syaraf dan jantung langsung terhenti karena organ tubuh yang terpisah.
Singkat kata, menurut tim pembela, hukum pancung lebih tidak lancung, tebas, terpercaya tanpa keraguan sedikitpun didalamnya.

Mungkin kita sering melihat di flem-filem Jepang, pedang Samurai yang dimainkan oleh pendekar pedang macam Mushashi, Zato Ichi begitu bereaksi lawan langsung “terkulai” lehernya. Atau dikomik Ganes TH, sampai pendekar kita menyarungkan pedangnya sang musuh masih berdiri dan tidak sadar kepala sudah talak dengan badannya. Di alam nyata, saya baru baca dari buku berjudul Sang Penjegal pendiri dinasti Kerajaan Saudi Arabia (King Abdul Aziz) yang mampu menetak lawannya sampai dikatakan satu kali ayunan badan terbelah, dada menganga memperlihatkan jantung yang masih berdetak.

Keruan saja pihak yang anti penggal akan mengatakan bahwa Hukum Pancung tak dikenal di Indonesia.

Tapi eit nanti dulu….

Tercatat ada dua pedang dulu berlumuran darah sekarang bermandikan karatan tergantung di lantai dua Museum Sejarah DKI alias Fatahilah. Pedang ini panjangnya 1,20m dulu dipakai untuk menebas batang leher sang pesakitan menjadi saksi sejarah repotnya hukuman pancung di negeri ini.

Menjelang upacara pancung dilaksanakana ditandai dengan pemukulan kentongan biasanya mrupakan undangan bagi rakyat untuk berbondong-bondong menyaksikan eksekusi spektakuler. Persis kampanye Saiful Jamil mantan suami Dewi Persik kepingin jadi Caleg.

Konyolnya menurut Dr. F de Haan dalam buku Oud Batavia, pelaksanaan hukum tebas persis bendo kethul dipakai untuk menebang batang pisang tanduk. Sekali bacok, belum tentu batang pisang putus apalagi leher manusia. Mana lebih sadis melihat leher di gorok, di “otot-otot” untuk meyakinkan korbannya “duut”.

Jadi sekalipun ditebas belum tentu lebih ampuh ketimbang di tembak lho..

Tapi itulah para pakar pembela malahan lebih suka hukum pancung disebarkan dimuka publik seperti jaman Wolanda, “jadi tidak perlu ditutup-tutupi..

Posted in batavia, betawi

Soto Jakarta Pak Jenggot – bumbunya sama dengan jumlah propinsi Indonesia


Soto Jakarta A.K.A Soto Jenggot
Soto Jakarta A.K.A Soto Jenggot

Tiga puluh tahun lalu Soto Betawi alias Jakarta ini bercokol di kawasan Jalan Muwardi Raya – Grogol.

Nama pendirinya,  Haji Halim kurang dikenal tetapi lebih populer dengan sebutan pak Jenggot. Uniknya mampu bertahan lebih dari tiga dasawarsa soto legendaris ini tetap ramai dikunjungi orang, terutama pada saat jam makan siang.  Padahal pesaing lain banyak bermunculan disana sini.

Mengenai resep sotonya sampai bertahan sekian lama, pak Jenggot yang kini sudah menyerahkan kendali perusahaan kepada anaknya enteng mengatakan bahwa ia mencampur 27bumbu kedalam sotonya sebagai perlambang 27 Propinsi di Indonesia termasuk Timor Timur waktu itu.

Suasana saat makan siang
Suasana saat makan siang

Namun setelah Timor Timur merdeka dan Indonesia mekar menjadi 33 propinsi, tidak disebutkan apakah Soto Jakarta eh Soto Jenggot ini mengubah racikannya.  Misalnya racikan 33 propinsi termasuk artis yang berlomba-lomba ingin mengatur negeri bak skedul shooting. Rapat sambil berdugem ria di kafe-kafe.

Tetapi dari padatnya pengunjung yang memilih Kuah bersantan diberi emping lalu irisan babat, atau ayam terserah pilihan anda, maka kalau anda berkesempatan ke Grogol tidak ada salahnya mencoba Soto kebanggaan warga Jalan Muwardi dan sekitarnya.

Posted in batavia, betawi, gaya hidup

Flona – Lapangan Banteng 2008


Bang Sugi salah satu peserta lomba Kerak Telor 2008
Bang Sugi salah satu peserta lomba Kerak Telor 2008

Salah satu daya tarik Flona 2008 yaang diselenggarakan di Lapangan Banteng Jakarta adalah bau harum, gurih parutan kelapa kering bercampur aroma telor dadar dan ketan bakar yang sangit aduhai ternyata lebih mendominasi arena.

Semula saya pikir datang ke pameran bunga saya akan menghirup bau bunga semerbak. Sayangnya aku kurang piknik, bunga semerbak sudah bukan dagangan yang menarik. Ternyata selain pameran bunga dan hewan peliharaan, para penjual kerak telor ikut mengadakan lomba masak kerak telor terheboh.

Pedagang kerak telor betawi
Pedagang kerak telor betawiPengunjung Pameran Mencicipi Kerak Telor
Posted in batavia, besar, mimbar, pintu, sado

Pintoe Besar mana pintoenya


Seabad lalu gubernemen Belanda mengundang para pahlawan tanpa tanda jasa yaitu goeroe dari Solo dan Yogya untuk berkunjung ke Batavia. Mereka dibawa ke Stadhuis (Gedung Bicara), pabrik gas, percetakan uang kertas, dan (astaga) juga pabrik Candu. Soal candu ternyata orang Olanda pikirannya cerdik, daripada penjualan jenis psikotropi jatuh ke pengedar liar, mendingan merekai mengorganisasikan perdagangan ini melalui para pacht (dealer). Maksudnya selain legal juga menguntungkan pundi negara. Alasan lain entoch para penyeret (pecandu) itu bakalan masuk keluar panti rehabilitasi seperti kerbau dengan lumpur sawah. Dimandikan sampai tandas tidak lama akan kembali ke kubangan lagi. Mending mereka dicekoki opium “pahe” syukur bersedia mencuri start menemui Giam Loong alias dewa kematian versi buku silat KPH.

Ketika rombongan goeroe melalui jalan Pintoe Besar, ada (bapak) bertanya pada pengantar-nya, buat apa bersusah-susah melihat Pintu Besar zonder (tanpa) melihat pintunya

Ditanya menohok begini, sang pengantar cuma garuk-garuk ia punya kepala tak gatal, lantaran ia tiada punya moeslihat untuk memberiken jawaban. Paling memberikan jawaban” tauk tuh selipun (sekalipun) engkong sampai bercucu disini emang sudah begitu panggilannye..

Untuk mengetahui sejarah Pintu Besar, kita moesti melihat kilas balik ke tahun 1632.

[suara tambur dipukul perlahan, sedikit cepat lalu keras dan diahiri dengan kencreng … jreng!..]

Setelah pengepungan oleh bala tentara Mataram yang sukses menewaskan Gubernur Jendral Jan Pieter Zoen Koen akibat Kolera tapi, maka penggantinya segera kasi prentah agar sekeliling Kastil dibangun kanal-kanal atau parit air yang lebar sehingga diharapkan bisa mencegah ancaman anasir luar yang berniat menghancurkan integritas bangsa Wolanda.

Untuk keperluan keluar masuk kastil lalu dibuatkan pintu yang besar disebut NIEUWPOORT. Dan jalan menuju pintu inilah yang disebut sebagai jalan Pintoe Besar alias NieuwPoort Straat.

Pintoe Besar ini ini bercabang jalan ke kota satelit sebelah selatan yang disebut Zuidervoorstad yang sekarang menjadi jalan Pinangsia, tempat pedagang material candak kulak bahan bangunan seperti kunci, kaca jendela, washtafel dsb. Juga (kalau misih ada) VCD Porno bersandi Unyil (dulu).

Kawasan Zuidervoorstad tadinya dibangun untuk perkampungan Cina, tetapi penggawe Kumpeni ikutan menanam saham membuat rumah menginap yang sekarang sering disebut apartemen. Dengan alasan pintu Kastil sudah tertutup, sering terjadi para pembesar menginap di luar kastil tentunya ditemani para Amoy berkulit pualam dan ayu. Mungkin ada cerita mirip pembesar Kumpeni “kegep” jam 3 dinihari dirumah seorang amoy Pontianak, dan bersumpah demi ini dan itu sekedar mencari dokumen tertinggal. Tapi itu cerita ratusan tahun kemudian.

Dari pintu besar tadi dibuat jalan tembus Buitenniewpoortstraat alias Jalan di luar pintu gerbang baru.

Ketika Daendels memerintah Betawi ia mempunyai gagasan baru, kastil-kastil tadi dibongkar demikian juga pintu gerbangnya. Tidak heran anak cucunya keturunan Daendels ratusan tahun kemudian juga memiliki nafsu membongkar. Tiada Kastil, boleh juga gedung Biskop, tiada bioskop, bolehlah stadion olah raga, tiada stadion Pohon Beringin-pun jadilah. Seperti kata Iwan Fals, “bongkar! ya bongkar”

Tapi ada alasan Daendels yang rada masuk akal, kanal-kanal tersebut kalau musim kemarau kering dan celakanya rumah sakit kastil membuang perban, kapas, kotoran dan potongan daging serta tulang manusia ke kanal sehingga membusuk dan mengundang lalat dan malaria membuka Posko sekaligus Posyandu. Parit-parit itu lalu dioeroeg (timbun) dan dibuat “trem way” plus stasiunnya untuk jurusan Tanjung Priok – Tangerang. Sejak itu Pintoe Besar tinggal sebuah nama besar.

Jalan Pintu Besar merupakan jalan ramai di Betawi, di jalan yang terletak kota lama terdapat toko-toko dan kantor dagang. Kadang ada trem uap melintas dari Kota Inten ke Harmoni, tak heran sering terjadi kecelakaan antara trem dengan dos-a-dos (sado).

Tabrakan haibat (ai) pernah terjadi antara sebuah pedati dengan dos-a-dos (sado) seperti diberitakan harian Bintang Betawi 21 Mei 1903. Konon penumpang dos-a-dos sampai terpental dan tiada inget sakeliling (semapoet) dan perlu digotong ke rumah tukang besi sekitar toko Ang Sioe Tjiang & Co untuk dibikin mendusin agar ia ingat sekeliling termasuk kenyataan bahwa sekarang Pintoe Besar tak memiliki pintoe.