Posted in bekasi, mimbar

Satu kali duar – tiga lampu “LEWAT”


Minggu siang 20.2.2017, Petir Menyambar. Ini barokah tahunan. Pertama tentunya ia datang dengan sinar menyilaukan, lantas udara ruangan menjadi hangat, dan seper sekejab suara DUAR sampai pekak telinga, guguk saya ketakutan sampai sembunyi dibawah kursi, dan rumah serasa pindah ke jalan tol Priok alias bervibrasi.

Ada dua kali alarm mobil harus ditentramkan. Sensor menyangka ada yang mau bongkar pintu dengan cara digoyang.

Beberapa tetangga langsung mati lampu. Termasuk lampu penerangan di depan rumah.

Lampu jalan ini “Mandiri” – artinya pasang sendiri, kelola sendiri. Ada 3 lampu. Mati sontak ketika petir menyambar. Sepertinya ada logam dibawah rumah kami ini sehingga menjadi langganan PLN alam.

Ketika paklik Pardi memeriksa lampu, rata-rata seperti lepas (koplak) dari gagangnya. Lampu beginian (beli Dec2016), katanya ada garansi boleh dikembalikan asal ada kotak, ada resi pembelian.

Bukan cuma lampu yang dilibas PLN alam, satu pemanas, satu AC langsung minta service.. Yang lain.. cek aja sendiri (gaya agnes pakai kaos merah)..

Sapa suru datang Bekasi.. sapa suruh..

Posted in bekasi, patung

Kesatria “Naga Bonar” dari Cilangkap yang kesepian


Patung berkuda

Kalau anda berada di jalan Tol dari arah Taman Mini menuju Cikunir maka sekitar 500 meter sebelum mencapai pintu keluar jalan Hankam Bekasi (Jatiwarna) akan ditemui patung orang berpakaian militer ala jaman penjajahan Jepang tahun 45-an.

Kalau masih sulit membayangkan pakaian ala KenPetai (polisi rahasia ala jepang), bolehlah melirik ke filem komedi satir – Naga Bonar 1 yang dibintangi oleh Dedy Mizwar.

Karena tidak ada penjelasan mengenai patung ini, perkiraan saya bisa jadi patung Pak Dirman dalam versi lain mengingat patung berkuda dijepit diantara jalan berbau militer komplek Cilangkap dan Jalan Hankam.

Sangat disayangkan patung demikian expresif menjadi mubazir karena tidak terurus juga tidak ada keterangan mengenai jatidiri patung.

Beberapa pihak malahan berspekulasi dulunya ada usaha tanaman hias dan patung lalu pindah dan meninggalkan patungnya karena terlalu berat untuk dibawa.

setengah km setelah patung \Pertama Patung sekarang seperti tenggelam dilevel dasar jalan tol, hilang keperkasaannya. Lalu jamur yang memenuhi tubuh kuda dan penunggangnya sama lebatnya dengan tanaman liar tumbuh subur disekitarnya.

Akhirya kesatria berkuda kita terkesan bingung karena ada jalan tol memotong perjalannya. Atau seperti kata pak Sri, bingung lantaran hanya Kuda dari Mitshubishi yang boleh menggunakan jalan Tol sementara kuda aselinya dilarang.

Lengkaplah sudah kehebatan kita,satria berkuda setelah membangun sesuatu yang serba besar dan hebat, kita langsung lumpuh dan tidak mampu memeliharanya.

Kalau saya mencatat sudah memasuki tahun ke empat memanfaatkan ruas jalan ini (2008), maka usia patung tersebut tentunya jauh lebih lama lagi.

Semoga pihak-pihak terkait dapat memberikan perhatian atas nasib patung pahlawan tersebut.

Posted in bekasi, jalan, lubang, mimbar, rusak

Artikel #909 Demo para supir Angkot Bekasi menuntut perbaikan jalan


Bagus! Bravo!

Itulah reaksi saya ketika membaca di Harian Warta Kota bahwa pada Rabu 2 Mei 2007, ratusan sopir angkutan umum Koperasi Angkutan Bekasi Koasi melakukan mogok beroperasi.

Ini adalah demo murni “akar rumput,” mereka hanya mendesak pihak Walikota Bekasi untuk memperbaiki jalan Pekayon – Pondog Gede yang telah rusak parah sejak tiga tahun lalu. Pasalnya jalan yang rusak tersebut selain menurunkan pemasukan juga menaikkan angka kerusakan mobil. Sebagai contoh, kampas kopling mobil yang biasanya berusia sebulan, sekarang baru lima belas hari beroperasi sudah harus diganti, ujar J Manurung salah satu pentolan demo.

“Bukan cuma kampas kopling, peralatan lain seperti ball joint, per, sokbreker, serta ban menjadi lebih boros.”

Jika keadaan terus menerus begini, maka penghasilan para supir hanya habis untuk mengganti onderdil. Belum lagi oknum perhubungan dan lainnya yang sekarang sudah semakin kreatip memungut retribusi bukan cuma di terminal melainkan melebar di jalan-jalan. Ironisnya mereka mengatas namakan retribusi untuk “pembangunan daerah.” Kadang mereka sudah hilang urat kesadarannya ketika mengutip uang didepan jalan berlubang segede gajah bengkak dengan dalih sama “pembangunan daerah.”

Beberapa hari sebelumnya sekelompok mahasiswa melakukan aksi dengan menanam pisang di tengah jalan yang sudah terkelupas batu dasarnya, lalu menebar bibit ikan lele sebagai sindiran tajam pemerintah kota yang tidak becus mengurus kepentingan publik.

Kita bisa meresmikan pesawat Boeing terbaru, membangun mal-mal hebat, pertarungan penyediaan jaringan seluler yang dahsyat. Namun sekedar hajat hidup orang banyak seperti jalan yang memadai, pemerintah tidak mampu.

Dulu orang melakukan “penyunatan” uang proyek, namun setidaknya masih ada ujut bangunanyang dibawahinya. Namun sekarang, sedikitpun tidak nampak.

Posted in bekasi

Tetanggaku mulai berdatangan



Tanah lapang di depan rumah kami sebentar lagi akan berdiri bangunan. Setelah hampir setahun hidup dengan minim tetangga. Pak Ongkot yang menjadi penggarap tanah ini akan kehilangan mata pencariannya dari menjual pucuk singkong.
Hari Selasa 25 Jul 2006, mulai tampak kesibukan beberapa orang menurunkan peralatan menggali sumur. Setelah berunding dengan menggunakan halaman depan kami yang rada teduh sebagai sarana “duduk bersama” maka dimulailah penggalian sumur untuk mencari air bagi keperluan pembangunan rumah tinggal. Mengingat sekarang musim kemarau mungkin pak tukang harus bekerja cukup keras.







13:00 25 Juli 2006
Dimulai dari kedatangan penggali sumur.

Mimbar Bambang Saputro

Posted in bekasi

Pak Ongkot van RawaBogo


Saya tidak tahu nama aselinya, tetapi pria kekar berusia 60-an ini dipanggil saja pak Ongkot. Pekerjaan sehari-harinya penggarap tanah-tanah terlantar sekitar rumah saya di komplek jalan Pendidikan – Pondok Gede. Dinamakan komplek Pendidikan karena tanah-tanah ini semula memang diperuntukkan bagi para guru, yang kemudian perlahan jatuh ke tangan pihak lain.

Saat kabut dan dingin masih merampok desa kami. Bunyi cangkulnya terdengar beradu dengan batu dan tanah seperti menyelingi suara serangga di kegelapan malam. Pak Ongkot dan beberapa penggarap tanah yang lain sudah memperdengarkan kehadirannya. Suara denting besi cukup keras lantaran kami cuma dipisahkan dengan sebuah jalan tanah liat selebar 6 meter. Tanah ini umumnya ditanami singkong dengan mengharapkan para pengepul datang dengan sepeda dan keranjang diboncengannya untuk membeli hasil kebunnya berupa pucuk singkong. Sementara umbinya biasanya dianggap hasil sampingan.

Sebetulnya pria ini kurang ramah. Mungkin pendengarannya terganggu, setiap saya menyapa “selamat pagi” dia jarang menjawab. Sekali tempo saya saya mencoba mendekatinya. Ia sedang berjongkok menebar pupuk berupa sekam dari peternakan ayam (potstal) dengan menanyakan soal pupuk untuk keperluan pot. Sebetulnya saya ingin menolongnya “memberikan lebihan” kata lain memberinya pekerjaan tambahan dengan harapan ia bisa mendapat tambahan uang. Dengan meminta jasanya membawakan pupuk sekam padi (potsal ) bagi saya. Ketimbang dia menunggu tanaman singkong yang harus ditunggu beberapa minggu sampai bertunas. Jawabannya memang cukup mengagetkan “jauh tempatnya kalau ambil pupuk, bapak ambil aja sendiri disono noh!…” –

Oh begono noh, roman-romannya kalau mencoba interaksi tapi salah alamat.

Setelah drama satu episode dengan pak Ongkot, saya tidak bernafsu mendekatinya. Apalagi beberapa penjual pupuk yang tajam instinknya datang sendiri ke rumah. Kadang menawarkan Adenium, Kaktus, Sirih Merah Kamboja Jepang dst. Boleh percaya atau tidak kadang mereka terheran melihat tanaman yang terlantar di ruang pamer mereka, menjadi nampak elit setelah kami rawat dengan penuh sayang.

****

Namun belakangan ini pak Ongkot tidak tampak mencangkul atau merumput tanamannya. Akibatnya rumput semakin tinggi dan biasanya ular berbisa sangat suka bersarang disana. Hari ini saja seekor ular sawah membuat tenda-tendaan ditempat saya menimbun pupuk. Ternyata beliau terkena terinfeksi tetanus lantaran terinjak beling saat merumput. Namun yang membuatnya geram, saat dia dirawat panen tanaman diambil alih oleh pihak lain sehingga pak Ongkot cuma gigit bibir. Memang sering saya lihat ibu-ibu dengan senyum gembira memetik pucuk singkong, bahkan pernah sekali tempo diajak tetangga untuk mencabut singkong di kebunnya sehingga saya keprucut, tiba-tiba lepas komentar “enak sekali ya, tidak tanam tapi ikut panen..”

Pendidikan budi pekerti bahwa mencuri milik orang lain, seperti lepas diingatan mereka. Ada saja pembenaran buat “ngeles” dengan alasan toh cuma buat “nyayur sehari” – toh cuma iseng pingin ijo-ijo. Tapi keringat pak Ongkot bahkan nyawanya hampir terbang untuk menangkar
tanamannya tak dihiraukannya.

Sebetulnya, hati ini ingin “nembung” alias mengajukan diri untuk kepada pak Ongkot untuk menggarap tanah yang diterlantarkannya. Pasalnya rumputnya sudah tinggi. Saya bisa memanfaatkan pegawai saya yang nganggur di Citayam untuk mengolah tanah seukuran 30x20m. Biarlah berapa rata-rata penghasilannya saya ganti rugi tiap bulan. Namun masih ragu dengan sikapnya yang terkesan galak.

Pagi tadi saya memasuki kebun pak Ongkot, ketika lima ekor lebah tanah terganggu kehadiranku segera lepas landas menyerang. Saya kaget tapi menikmati sengatannya, toh cuma sakit sesaat. Malamnya baru saya merasa demam, dan paginya kepala migren sebelah lantaran seperti baru sembuh flu tulang. Belum menggarap tanahnya sudah terlindas masalah.

Tuesday, July 11, 2006
http://mimbar2006.blogspot.com

Posted in bekasi

Banyuwangi FROOM (dua O) Indonesia TIMOR (pakai O)


Kaum berduit di Jakarta, atau para snobis, suka betul menceritakan shopping di PI (Pondok Indah), lantaran punya kesempatan melihat Betaria Sonata, Cici Paramida atau sederet seleb yang juga manusia. Bagi saya Toko Buku Gramed PI memang lebih lengkap ketimbang di Taman Anggrek, Citra Land dst.

Selama setahun berada di Bekasi, kenalan kami adalah PK.

PK yang kami ceritakan adalah Pasar Kecapi, sebuah pasar tumpah yang tidak terkenal kecuali pernah masuk berita kriminal dua kali disatroni penjahat bersenjata yang terorganisasi rapih. Dugaan tidak meleset, ternyata orang kesatuan banyak terlibat didalamnya.

Tidak banyak yang diceritakan kalau soal persediaan barang, yang tukang ikan belum dapat suplai, atau tukang daging yang tidur dipasar. Akibat sedikitnya pembeli, maka terjadi interaksi antara pedagang dan pembeli sehingga berbelanja ke PK seperti layaknya mendatangi kerabat jauh.

Kadang terdengar teriakan seorang wanita gemuk penjual kembang dan alat sesaji yang mencegah sia-sia anak lelakinya (3tahun) berlarian menyeberangi jalan Pasar Kecapi diantara berseliwerannya angkot dan sepeda motor.

Yang berbeda dari PK setahun lalu adalah semangkin (pakai ng) bertambahnya kendaraan roda empat mengunjungi PK, yang semula satu-dua mobil, sekarang nampak kendaraan mahal ikut meramaikan halaman parkiryang hanya berjarak puluhan meter dipinggir utara ruas tol Jatiwarna.

Kalau sudah melihat kendaraan lebih dari satu berdatangan, tak ayal lagi momentum ini dimanfaatkan sekelompok orang dengan bermodalkan kayu reng, balok kayu sambil mengenakan seragam Satpam biru yang sudah berkilat dibagian dengkul dan bokong lantaran dimakan usia. Mereka mulai mematok uang parkir yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Diantara para tukang bakso, mie, ketoprak dan anak-anak yang mengisi liburan dengan bermain di pasar, nampak terbentang spanduk berlatar belakang hitam dengan tulisan putih dipasang ditengah lapangan yang dikelilingi pembatas penonton berupa tali plastik warna coklat.
Lampu neon yang berdiri ditengah arena seperti tak kuasa melawan sore yang mulai hamil tua. Sebagian sinarnya diserap oleh debu-debu arena yang menebal dimusim kemarau ini.
Mula-mula terdengar pengeras suara diceklek, dan berkumandanglah “Alo, alo, satu, dua, tiga, test…” – Mengherankan pengeras suara ini jernih terdengar.

Lalu berkumandanglah undangan berupa pertunjukkan orang diadu senjata(k) tajam, manusiak(pakai k) dibacok tidak mempan, manusia (k) dibakar tidak hangus. Dan bayangan masa kecil bagai berkelebat didepan mata. Pertunjukan ini puluhan tahun merupakan”character building” bagi saya.

Sang propagandais mulai mengatakan akan mengeluarkan ular sebagai binatang berbisa. Sehingga berkerubunglah pengunjung pasar mengelilingi tukang sulap. Anak-anak mulai berdatangan. Namun rupanya kehadiran penonton belum memenuhi Korum sehingga ular sawah dimasukkan kembali ke kotak dan pertunjukan diganti mendengarkan rekaman kaset Iwan Fals. Kalau anak Bekasi, melihat ular bukan barang aneh bagi mereka, entoch mereka berkumpul sebab memang tidak ada hiburan lain.

Gendang telinga saya mulai terganggu sebab corong yang dipasang di tiang bambu selain menghadap ke telinga, juga disetel pol-polan. Padahal aturan pakainya adalah hanya untuk Vocal. Ini yang tidak disadari beberapa pengguna. Akibatnya lagu Iwan Fals seperti suara lengking kereta beberapa desibel diatasnya. Padahal saya lebih menikmati suara serak sang propagandais yang beraksen “Banten” seperti”Mari(k), zodara(k), iebu(k), ebapak(k)..emarik.. ular berbisa(k)sudah tak sabar, eiit(propagandis berteriak seperti bersilat), lihat dia sudah mauk beraksi…

Tapi keponakan masih mengajak bertahan disekitar tukang sulap. Karena memang ia belum pernah melihat pertunjukan serupa. Kelak puluhan tahun kedepan ia akan ingat apa yang direkamnya hari ini. Juli 2006.

Dan kesempatan ini saya membaca spanduk hitam tulisan putih. Logo padi-kapas-berbenturan dengan bintang menunjukkan Yayasan (untuk kesejahteraan) Purnawirawan ABRI, yang menggelar Seni Magic dari Banyuwangi. Seperti layaknya manusia Indonesia, nampaknya mereka harus mengetengahkan grupnya dalam bahasa Inggris.

Banyuwangi, Hipnotis, Magic croos froom (dua “o”), Indonesia TIMOR” -inilah perbenturan kultur barat, melayu, dan sedikit ngawur dalam spanduk ini.”

Maksud mereka mungkin seni sulap dan sihir dari Timur Indonesia (KotaBanyuwangi, disebut Indonesia TIMOR), dan lebih parah lagi Timur di-Inggriskan menjadi Timor…..

Croos sampai sekarang belum saya pahami kecuali menggunakan rumus”jawane” karena nampaknya mereka akan memamerkan adegan bacok (croos).

Sesungguhnya tanpa pertunjukan sulap-pun saya sudah sangat menikmati sebuah sulap kata-kata dari Banyuwangi FROOM Indonesia TIMOR.

Monday, July 10, 2006
Mimbar Bambang Saputro