Karung Guni


Karung Guni, kalau di Palembang disebut Keruntung atau Burukan, adalah istilah untuk barang-barang yang pernah dipakai. Istilah ini mula-mula saya dengar di Singapura, ketika seseorang bersandal, sambil membunyikan terompet, modal tali rafia dan timbangan keluar masuk apartemen sambil teriak “karung guni.”

Alasan lain kalau sudah urusan “kulak-adhol” alias berniaga barang bekas ternyata anak saya reaksinya jauh lebih cepat dari Pemda Jawa Barat memperbaiki jalan di kawasan Jati Mekar. Melihat ada barang bekas sedikit, dia bilang boleh di “liau” nggak Pa. Besoknya sudah jadi duit.

GPS - Garmin Etrex Legend HCX
GPS - Garmin Etrex Legend HCX

GPS

Global Positioning System, alat penentu koordinat, penanda tapak tilas, pengukur ketinggian ini dibeli pada saat anakku perpetaan di kawasan Sukabumi Juli 2008 berselang. Tipe Etrex Legend HCX.  Kalau sewa dalam tiga hari sudah bisa dapat satu GPS baru.

Itupun langka mendapatkan GPS yang tersedia. Terpaksa harus beli baru. Membelipun sedikit banyak sering menjengkelkan sebab banyak toko-toko yang nampang menjual GPS ternyata ketika “ditenani” – alias ditanya dengan serius, jawabannya berputar seperti jalur alternatip masa mudik. Hanya untuk mengatakan bahwa mereka hanya memajang gambar saja. Ketika pekerjaan pemetaan selesai GPS menjadi barang koleksi. 

Pisau Belati Stainless Streel
Pisau Belati Stainless Streel

Pisau Belati, waktu berkebun atau ke hutan kadang diperlukan pisau yang sedikit tahan uji. Daripada bawa Victorinox yang kecil walaupun serba guna, pikir-pikir coba membawa pisau ini. Lumayan beratnya karena gagangnya dibuat dari kayu Australia. Pisau ini fungsinya hanya untuk memotong batang talas buat pakan Gurami, ketika saya mengurus beberapa empang gurami. Saat usaha gurami berlangsung, kuping saya tipis mendengar keponakan kecil kelas dua SD berkata “ini kan bukan tanahnya Pakde,” tercekat saya mendengar kata-kata yang memang benar adanya tiada keraguan sedikitpun didalamnya. Anak kecil tahu darimana kalau bukan nguping dari pembicaraan orang tua. Ternyata bisik-bisik selama ini tidak bisa dianggap angin lalu. Saya dianggap mengambil alih tanah saudara dan perlahan “mengusir halus pemiliknya,” daripada berlanjut ketegangan dan bisik-bisik santer, tanah ini saya tinggalkan begitu saja. Toh bisik-bisik tidak kunjung reda. 

Cuma kalau pisau ini dibawa ke kota alamat kena razia senjata tajam.   

Samsung 410, Tambun
Samsung 410, Tambun

Kamera Digital Samsung.

Bentuknya Tambun, seperti saya. Doyan memotret restoran, barangkali. Samsung ini memang teman saya cukp lama. Naik turun pesawat, menginap beberapa hari di Rig Pengeboran. Hasil jepretannya menghiasi blog saya. Dipakai ketika anak pertama Lia wisuda. Terpercaya, tetapi karena badannya gemuk sering merepotan kalau hendak potret sembunyi-sembunyi. Tustel ini ngadat ketika anak saya menyoba memotret pusara eyangnya di Lampung. Lalu saya bilang “Lia – minta ijin kepada eyang sebab dari dulu eyang paling ogah di potret. Saat Lia minta ijin, saya buka baterai tustel lalu saya gosok-gosok dan “jreng” tustel menyala dan berfungsi secara normal. Kadang kalau memotret tokoh yang berkarisma, disekitar tokoh sering ada lingkaran “halo” – seperti kalau mata kita nanar menatap sesuatu.

ANtene dan Radio Wireless untuk menangkap Internet di Udara
ANtene dan Radio Wireless untuk menangkap Internet di Udara

Antene Grid dan Radio Wireless  – masih diudara. Mula-mula berinternetan dengan cara ini tergolong murah meriah. Tetapi selain kendala berupa sinyal bolong bolong “blank spot” padahal jaraknya cuma 1,4 kilometer juga penyedia sering kurang komunikatip kalau pelayannya tersendat. Kadang 3 minggu internet mati, tetapi tagihan full.

Daripada jengkel kadang “byar pet” maka saya tinggalkan pelayanan ini.

Kekayaan yang saya dapat adalah belajar bahasa Radio sehingga sedikit banyak saya tidak “gagu” dengan istilah peradioan.

Kredit Laptop di Singapura ketika dollar sedang terbang tinggi di angkasa
Kredit Laptop di Singapura ketika dollar sedang terbang tinggi di angkasa

LAPTOP Compaq Armada 1500c. Bekas pakai Lia ketika sekolah di NUS (National University of Singapore). Terbayang saya berada diantrean anak-anak mahasiswa Singapore yang mendapat kredit lunak untuk mendapatkan Laptop. Sekarang laptop ini sudah tidak memiliki baterai. Namun setiap kali melihat benda ini hati saya seperti teriris.

Berat-beratnya seorang ayah menyekolahkan anak di luar negeri, saat dollar membubung tinggi. Untuk mengridit komputer orang tua harus datang ke Kampus.

Saya sampai harus minta cuti kepada perusahaan, pinjam uang, untunglah karena cuti saya dipakai beberapa hari untuk menyelesaikan proyek di Pertamina, perusahaan berbaik hati membelikan saya tiket pergi pulang ke Singapura. Agar menghemat uang hotel, saya menginap di kawasan seputar Simlim Tower (kawasan lampu merah). Kalau malam hotel penuh dengan waria nakal. 

Mendekati hari perpisahan, Lia menangis dan memeluk saya erat sekali. Rasanya dada saya seperti ditekan beras satu kuintal, sesak napas. Sampai sekarang mata saya seperti dibebani bata press kalau mengingat masa-masa itu.

Kadang kalau saya kangen dengan Lia, perlahan-lahan laptop saya buka, saya elus-elus lalu saya hidupkan, browsing di internet, sekalipun lambat kerjanya namun hati saya berdegub sekeras banjir kanal dimusim hujan.