Inspirator


Blog ini bisa menjadi panjang karena hasil penyusunan gerbong-gerbong kehidupan saya yang semula berpencaran. Sekalian menyampaikan bahwa sebagian besar nama yang saya sebutkan sudah tidak bersama kita. Sayapun sebagian besar tak kenal secara pribadi tokoh yang saya sebutkan. Harus dimaklumi, sejarah hidup saya datar seperti jalan tol. sekolah, dari TK sampai ke Universitas ya biasa-biasa saja. Dibidang olah raga ya sekedar pemain cadangan alias biasa-biasa saja, dari keluarga yang biasa-biasa saja. Waktu kecil melihat pelajaran mengarang ya biasa-biasa saja. Bekerja di perusahaan, biasa-biasa saja. teman saya pada ngeledek, bertahun bekerja di perminyakan kerja dan olah ragamu kok biasa-biasa saja.

Ada seorang teman yang memang sehari-harinya berjas berdasi, olah raga pakai Caddy, sampai dia malu kepada saya yang katanya “malu-maluin” tidak bisa main golf.

Akhirnya memang saya kepentok harus memiliki “guru” atau inspirator.

Namun para inspirator ini memberi arti bahwa dengan menulis mereka sudah meninggalkan warisan “handover” kepada umat manusia. Mereka merekam simfoni kehidupannya tidak dalam hati melainkan dalam media digital, bisa dimainkan dan didengarkan oleh siapa saja. Dasar itulah yang membuat mengapa saya ngotot menulis. Kalau Slamet Soeseno, Mohtar Lubis tidak menulis sejak remaja, generasi berikutnya tidak pernah tahu siapa beliau.

  • Pertama tentunya ayah saya. Melihat beliau sampai jauh malam tenggelam menulis laporan ditingkahi mesin ketik yang berisik, lalu berhenti karena dibaca ulang atau karena ada kesalahan ketik membuat saya “nyaman” berada dalam lingkungan dunia tulis menulis. Beliau bukan penulis melainkan polisi. Dimejanya selalu ada laporan dunia intel, trik dunia kejahatan  yang saya curi baca. Dari situ saya maklum mengapa sekalipun orang sudah tahu si A warnanya hitam, pak polisi dimedia bilang abu-abu atau hijau.
  • Thalib, pemuda ceking, gondrong danberambut keriting bak narkobis. Sering pinjam mesin ketik untuk menulis cerpen, dikirimkan ke media masa lalu dapat uang rokok. Waktu mengetik, saya modali kopi dan rokok, kadang makanan dari lemari. Begitu dapat uang dia nggeblas menghilang bebrapa hari sampai uangnya habis. Seberapa sih uang honor menulis cerpen. Semula saya bingung mengapa Thalib yang tidur di gedung Pusat Wartawan lndonesia di kawasan Durian Payung Lampung ini memilih rumah saya untuk mengetik. Ternyata diam-diam dia mencuri ide dan naskah kakaknya yang memang wartawan.
  • Slamet Soeseno, pernah mengatakan bahwa menulis ilmiah tapi populer itu nilai dalam akademis minim sekali dibanding menulis yang membuat orang berkerut kening. Namun sampai akhir hayat, Slamet Soeseno tetap bergeming menulis ilmiah populer.
  • Universitas saya UPN – terutama pada jaman Dewan Mahasiswa masih ada – saat mereka mengadakan kegiatan Pendidikan Pers Mahasiswa dimana dari 30 orang saya salah satunya. Pertama agak kecut mendengar pernyataan sang Steering Commitee bahwa menghasilkan 10%penulis dari satu kegiatan adalah sangat teramat luar biasa. Sekarang  pernyataan beliau terasa manis ditelinga. Emang bener kok. Semua orang kepingin menulis, kepingin punya blog tetapi jari-jari tangannya amat malas digerakkan menyentuh tut papan ketik.
  • Arswendo Atmowoloto – paling tidak mengajak mengobah pola berfikir bahwa menulis itu berkerut menjadi menulis itu mudah. Sekalipun menurut saya harus ditambahkan menulis itu PERJUANGAN sebab melawan kemalasan.
  • Keluarga saya terutama anak bungsu yang membawakan sebuah buku mengenai Ade Rai. Saat masih ceking, masih kepingin tenar bak pemain bulu tangkis, masih bekerja di Bank – Ade sudah getol angkat beban. Lama kelamaan dia bertanya pada dirinya sendiri, mengapa saya lakukan ini, apa gunanya kecuali membuang waktu. Temannya, keluarganya tentu akan berpendapat yang sama. Tapi Ade bertekad kalau angkat beban ya angkat beban saja jangan kepikiran mau jadi apa. Itu urusan lain.
  • Pramudya Ananta Toer yang getol menyuruh dalam media : Tulis saja apa yang ada dalam benakmu, jangan pikirkan macam-macam mau diterbitkan atau mau dibaca terserah nanti.
  • Rosihan Anwar saya anggap Kaisar dalam penulisan memoir. Daya ingatnya luar biasa dan tokoh-tokoh yang telah mendahului kita bisa dibuka kartunya yang selama ini tidak pernah kita dengar.
  • Djalaluddin Rakhmat – yang mampu menusuk hati orang dengan gaya tulisan yang seperti sepele namun kenyataannya dalam.
  • Omar Khayam dengan gaya Yogya-Piyai-nya.
  • Wonohito Senior sang Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat Yogya yang menggunakan nama “Ciptoning” – selalu menulis dengan gaya lunak, teratur.
  • Atas nama (KR/Goenarso TS) dari kolom Nah Ini Dia, harian Pos Kota – Nah kalau dia itu luar biasa. Genius dalam menghipnotis berbentuk dagelan.
  • Keluarga saya yang  kerapkali memberi amunisi dalam cerita sehari-hari.

Tentu masih banyak sekali para inspirator saya. Rasanya saya seperti Palgunadi yang belajar memanah tulisan diam-diam dari Guru Pandita Sokalima.

Kalau kemudian dibeberapa artikel ternyata ada nama tokoh kesenggol, percayalah saya tidak bermaksud melakukan “character assasination” ataupun kampanye hitam. Semua informasi saya baca dari harian-harian ibukota maupun mancanegara dan justru tulisan tersebut kadang memicu saya menulis.

Salam

6 thoughts on “Inspirator

  1. salut pak Mimbar. saya ikut terinspirasi dengan tulisan2 di halaman ini.
    btw. saya coba tambahkan URL blog pak Mimbar ke RSS reader saya, kok ndak bisa ya🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s