Rokok


Asrama Brimob 7Ulu Kertapati Palembang era 1960-an

Sepertinya otak saya baru merekam masa kecil justru saat kami hijrah dari pulau Jawa ke Andalas. Lokasinya adalah 7ulu Kertapati Palembang Sumatera Selatan. Disebuah asrama Brigade Mobil yang kini entah sudah menjadi bangunan macam apa. Asrama ini dindingnya terbuat dari papan, sebagian barak merupakan rumah panggung terbuat dari papan. Satu-satunya benda mewah adalah saat menjelang 17 Agustusan atau hari Brimob 14 Nopember, barak ini dihias. Maksud saya diadakan korve (kerja bakti) lalu dindingnya di labur dengan kapur sirih. Itu sudah pol-polan.

Lantas polisi dulu mendapat ransum beras, gula, minyak, minyak tanah dan ini dia … satu kartun rokok putih. Kadang mereknya Kansas, Commodore, Lancer dengan pembungkus kertas tebal – bukan karton – dan tidak mengenal filter. Maka anak-anak dikampung mulai mengoleksi bungkus rokok, dimana tempat asal ada pembungkus tersebut langsung kami pulung, disusun, dikareti, kadang dilipat seperti lipatan segi tiga.

Dulu menjadi Polisi baik berlayar atau  tidak harus tidak takut sengsara seperti lagu Jatuh Bangunnya Christina.

Beda dengan alat negara jaman sekarang, gaji boleh separuh motor Cina, tapi memiliki mobil BMW, Innova, dan seabrek kendaraan belum termasuk bangunan tak bergerak. Padahal kalau dilihat keturunan bukan orang kaya, kalau dilihat pekerjaan sampingan tidak pernah berniaga. Hmmm.

Godaan rokok muncul saat saya mencium pembungkusnya, begitu harum sehingga naluri bocah 9 tahunan mengatakan “dari bahunya saja sudah terbayang kalau menghisapnya…” – apalagi diantara pembungkus kertas berwarna semi coklat kehijauan sering tertinggal remah-remah tembakau dan harumnya… alaa maak… 

Namun orang tua kami tidak ada yang merokok.  Ayah sangat membenci dua hal, pertama merokok kedua berjudi sebab trauma dari masa kecil beliau yang mempunyai ayah dan ibu perokok dan penjudi pula.

Ada tambahan informasi yang tidak enak dari para tetangga di Asrama Polisi Pathuk Yogyakarta, embah saya perempuan kondang galak dan sering melabrak tetangga seasrama diajak ribut. Masa lalu kan tidak selalu dibuat gemilang bukan.

Kembali ke rokok selalu dijual ke warung seberang jalan. Saya kebagian tugas menjual rokok. Atau ada teman bapak yabg perokok biasanya langsung membeli ditempat. Tidak jelas mengapa jaman dulu para angkatan seperti dianjurkan merokok mungkin terinspirasi dari filem perang Amerika dimana para jagoannya memakai topi baja mengkilat (lho kok mengkilat, bukan gampang diketahui musuh), lalu menyeret senjata diparit-parit perlindungan untuk melawan tentara Jerman atau Jepang.

Kadang sambil berperang mereka merogoh saku dadanya dan menemukan rokok yang sudah kucel, ditaruh dibibir, pemantik api dinyalakan, berkali-kali cring..cring.. maka Zippo mengeluarkan seberkas api yang cahayanya membius seorang bocah, berkomentar “wah gagahnya” – apalagi sang jagoan dalam filem berbicara sambil rokok menempel dibibirnya lalu asap dihembuskan keluar rongga hidungnya. Begitu api padam karena tutup korek ditutup, asap memang keudara. Tapi saya mematrinya masuk sanubari.

Sejak itu adegan peperangan di filem tidak menarik hati. Apalagi lama-lama kepikiran juga kalau balatentara Jepang dan Jerman selalu bego seperti difilem tersebut, mengapa Amerika harus mengeroyok Jerman dengan nama pasukan Sekutu? dan menjatuhkan Bom Atom pertanda putus asa.

Rokok Nipah

Namanya saja 7ulu, maka tak heran kami sangat akrab dengan kehidupan air. Sebuah cabang anak sungai musi adalah tempat saya mandi, mengangkut air untuk minum, dan belajar berenang tanpa guru (kalau saya boleh berterimakasih kepada bapak Tatang Supriatna, dulu pada tahun 1960an bertugas sebagai paramedik, beliau menyelamatkan nyawa saya yang sudah tenggelam didasar sungai lantaran salah perhitungan belajar berenang, tanpa guru, tanpa pengawasan dan kelelap.“)

Fasilitas untuk MCK ini dilakukan pada sebuan “boom” atau pontoon. Gelondongan kayu besar disusun. lalu dipakukan diatasnya papan-panpan sebagai lantainya. Diujung sana dibuatkan kakus jongkok yang sudah barang tentu kotoran hanya sekedar nyempulng ke sungai Musi (Ogan), dan para janitor alami yaitu sekawanan ikan Juaro. Ada ribuan mahluk kecil ini begitu rakus melahap rantai makanan. Diantara ponton ini penduduk aseli Palembang membuat rumah. Yang disukai biasanya mereka mendirikan rumah diatas rakit bambu. Mata pencarian mereka umumnya menjala ikan yang disebut menangkul. mau makan hari ini tinggal tebar jala beberapa menit maka puluhan ikan kecil-kecil, terkadang udang segar sudah siap disantap. Pekerjaan lain mereka adalah berdagang rokok nipah. Mereka mengeringkan daun nipah lalu memotong sepanjang satu atau satu setengah kali ukuran rokok sekarang. Kalau di tanah Jawa mirip dengan cara pakde Soedjono saya yang merokok klobot.

Tumpukan nipah menggunung ini kadang kami tarik satu atau dua lembar tergulung, tanpa tembakau dinyalakan api diujungnya dan dihisap. Rasanya jelas kecut, pahit. Biasanya dilakukan sepulang mengaji dikegelapan malam secara diam-diam tentu. Belum bisa menikmati rasa rokok namun ada kebiasaan yang sudah “ngegroove” – pulang ngaji merokok nipah.

Pernah sekali teman teman membawa tembakau aseli. Begitu dihisap kepala pusing, dan mantra yang luar biasa adalah “semua lelaki dewasa juga mula-mula bilang pahit, mual. Persis minum alkohol, pahit, rasa terbakar, tetapi kalau dilatih terus bisa mengubah rasa tersebut menjadi nuikematnya..

Tiada Nipah Rotanpun Jadi

Pada suatu hari, atau pada jaman dahulu kala, saya melihat teman-teman memotong batang-batang rotan lalu dibakar ujungnya dan dihisap. Rasanya sih nggak karuan, kecut, tetapi sekali lagi selalu diberi ketabahan dan keteguhan hati agar siap menerima siksa asap demi menjadi lelaki.

Menginjak dewasa (kalau SMP dibilang dewasa) seorang pembantu rumah tangga lelaki selalu menyodori rokok kepada saya kalau saya bermain dikamarnya (nggak disodomi lho) – rupanya dia senang melihat saya terbatuk-batuk merokok.  Tetapi sebagai layaknya “candu” mula-mula terasa pahit, sejalan dengan latihan intensif dari teman-teman, apalagi biasanya diberi rokok secara cuma-cuma mulanya maka perlahan asap nikotin mulai menemukan bentuknya didalam tubuh saya.

Bersambung…..

Mulai memutuskan berhenti merokok (1992)

4 thoughts on “Rokok

  1. Ada emang beberapa peristiwa kalau diingat betapa dekatnya kita dengan maut. Segaris tipis, beda dalam detik cerita sudah lain.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s