Akhirnya selesai juga masa liburan di tempat anak dan teman-temannya. Pagi ini barang-barang sudah dikemas. Taxi dipanggil, katanya perlu sepuluh menit baru sampai TKP. Nyatanya lima menit dia sudah mecungul (nongol) di depan rumah.

Lalu supir ikutan menyusun kopor kami. Dia mengingatkan agar bagian kopor dengan “handle” dihadapkan ke arah kita - agar saat mengambil menjadi mudah. Lha kok 55tahun lebih menghirup udara baru kali ini saya sadar bahwa selama ini kalau menaruh kopor di bagasi saya seenak udel-bodong-ku sendiri.

Begitu “mak Jleg” masuk di kabin depan, saya langsung duduk disamping pak supir yang sedang bekerja. Nama yang tertera didashboard adalah Kim Seng. Lalu disebelah papan nama sebuah layar monitor memberitahukan agar ia menjemput penumpang di Jalan Telang (yaitu TKP).

Uncle Kim Seng - di Singapura saya doyan panggil semua lelaki Uncle semua perempuan Auntie. Dan biasanya ampuh untuk berkomunikasi. Menengok kepada saya dan bertanya apakah passport, ticket, dokumen lain tidak tertinggal? - ah peringatan yang sangat simpatik.

Lalu kami mengatakan alamat tujuan kami yaitu terminal dua, Changi pesawat Philippine Airline yang cukup murah dan diberi makan pula.

YOU SWIM OR SAMPAN

Kok tiba-tiba dia bilang dengan tenangnya “you swim?”

Wah kok jadi ngeledek supir ini, sekalipun dia bilang “sorry joking” - katanya dia dengar kabar Airport somewhere in Jakarta was flooded. Terpaksa pada hari kamis 8 Mei 2008 - kami dengan pathetic tilpun sana-sini dan dijawab dengan rasa heran, lho kok kami belum dengar soal banjir.

Okey, pakai rumus jempol… coba check di www.detik.com dan ternyata betul, di lokasi yang sama jalan raya Negara Republik Indonesia - kebanggaan bangsa kita, lagi-lagi dadal. Air 90cm menggenang jalan kebanggaan kita. Maka perjalanan kali ini harus disiapkan menghadapi macet total, atau bermalam di hotel sekitar

Menjelang memasuki ruang tunggu, dua serdadu Ghurka dengan seragam hitam, bertubuh kecil namun liat nampak berpatroli di dalam ruangan. Saya bergetar ketika melihat golok Kurki-nya terselempang dibelakangnya. Tentunya masih sehubungan dengan “ghoib”nya mas Selamet (di Singapura Selamat) yang pincang tapi kok ajaib bisa melompati tembok. Di ruang boarding, petugas setengah membentak “Coba kau tanya kepada temanmu sana!” gara-gara si mbak tidak bisa menunjukkan dokumen perjalanan yang dibutuhkan. Hanya beberapa menit menunggu pesawat PAR 503 sudah siap berangkat. Lho kok di ruang terowogan belalai gajah, salah satu mbak teriak “waduh aku lupa beli pembalut.”
Teman lainnya menjawab dalamn bahasa daerah yang sama, “gimana kamu kok bisa lupa, bisa digerayangi petugas di Jakarta nanti…”

Pasangan monogami saya (hampir 53 juga), tanggap situasi, lalu berbicara dalam bahasa yang sama, masih dalam hidung gajah: “nih aku punya pembalut, butuh berapa?” - Tapi si mbak masih bingung, “lalu Bu saya pakainya dimana?”

“Ya jangan disini, nanti di Toilet…” - kata istri saya.

Episode ringan menjelaskan betapa para TKW kita begitu ketakutannya manakala hendak kembali ke tanah air, sampai sampai mereka harus berpura-pura “datang bulan” - agar tak digerayangi sesama bangsa.

Di ruang pengambilan bagasi, para TKW ini masih tidak akan lolos dari sergapan aparat (saya lihat wanita bertubuh subur dan bermata tajam) yang menyaring mereka agar keluar melalui pintu tertentu.

Keluar bandara, semua nampak aman dan terkendali. “Tata Tentrem Kertaraharja..”

Lalu saya berhenti disebuah loket “resmi” biasanya menggunakan simbol warna sebagai merek dagangnya.

“Berapa sewa dari Bandara Cengkareng ke Grogol?” - tanya saya.

Petugas bertubuh kerempeng, memakai dasi gemuk, berpura-pura sibuk lantas dia menjawab dalam bahasa Inggris patah-patah :”saat ini kami sibuk, tapi tunggu sebentar…”

Ada 60 detik dia beracting menengok daftar lalu menengok kepada saya kali ini dalam bahsa Indonesia setelah saya bilang “aku ndak ngerti kalau sampeyan bahasa Inggris mas”

Uang muka Taxi sebesar 510 ribu rupiah. Setiap jamnya dikenakan biaya 170 ribu rupiah. [Ini perjalanan Cengkareng-Grogol]
Seperti hendak mengetes jantung saya dia bilang, tol belum termasuk.

Selera humor saya lagsung dilibas dengan gaya mencekik lehernya, tadinya saya hampir bilang - kenapa nggak sekalian uang bensin dan uang makan supirnya.

Masih diedit…. karedit..judul sewaktu-waktu berubah tanpa pemberitahuan..

Di Supermarket seperti Giant atau Fair Price umumnya durian sudah diangkat dari kulitnya dan dikemas kemas dalam kotak styrofoam. Masing kemasan ditulis dalam aksara Mandarin, lalu diberi tulisan latin semisal D-24 yang disebut juga durian alpukat atau durian X-O karena jenis ini kondang dengan kandungan alkoholnya. Harganya amat bervariasi. Pagi hari S$20, menjelang siang diturunkan menjadi S$10. Sementara durian juru kunci alias tanpa nama dihargai 3 kotak lima belas ringgit. Tapi masih ditanggung manis dan pulen. Orang Malaysia menyebut satu dollar adalah satu ringgit padahal saya terbiasa diberi pelajaran satu ringgit adalah dua setengah rupiah.

Di tanah air, entah CarreFour, entah Giant apalagi supermarket lain - pengalaman membeli durian beda tipis dengan Pilkada. Berharap cemas mendapatkan yang lebih baik, dibela-belain para pendukung tawuran berdarah-darah. Hasilnya setali tiga uang. Sarana jalanan tetap hancur, sarana ekonomi sami mawon.

Maka, saat di Singapura, nafsu saya akan durian sudah sampai ke leher hampir naik ubun-ubun. Apalagi di blogger ditulis durian menurunkan kadar kolesterol anda.

Saat membeli cuma satu styrofoam sebagai obat penawar rindu, anehnya sang penjual berbisik, sekalipun hari belum terlalu malam, kalau beli 9 kotak harganya dimurahkan dari $90 menjadi $40. Tetapi kami menawar 12 kotak seharga $50 dan ternyata tidak diberikan.

Maka malam itu sembilan kotak durian kami santap bersama anak-anak di rumah (kontrakan).

Luar biasa, baru dua kotak semua sudah mundur menggigil menghadapi si kuning tembaga nan semekel, lembut memabukkan bagaikan anggur durian. Akhirnya diperlukan waktu seminggu untuk menghabiskan durian tersebut.

Saya tidak habis pikir bagaimana penjual durian bercincai-cincai dengan pihak supermarket dalam menentukan harga. Tapi Itulah uniknya Singapura.

Coba saja anda melihat pameran mebel, ranjang, barang rumah tangga lainnya. Dijamin selalu ada tulisan “ngenes” - Jangan Pegang, Jangan di duduki bertebaran dimana-mana. Tapi di Ikea malahan nyentrik sebab ranjang, mebel seperti kursi, meja malahan disuruh diduduki sepuasnya. Hopo tumon.Selama ini kita sudah seperti tanpa reserve menerima bon pembelian barang dengan catatan kaki berhurup sans serif 7point “barang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan..” - dan tulisan ini bakalan sebesar Dinosaurus tatkala apesnya anda harus mengembalikan ke pedagang. Belum lagi kalau penjual setengah membentak “baca syarat tertera pada bon ini nggak?

Lho kok IKEA malahan melawan arus dengan menulis poster ramah “Its Okey You Change Your Mind” lantas ada simbol jantung dengan dua saluran. Lalu spesial counter Penukaran dan Pengembalian barang dipajang setelah lantai pembayaran. Niat apa bangget sih.

Masuk ruang pamer Ikea kita disuguhi pemandangan yang sekaligus mendidik kita. Mereka menyediakan pensil pendek, meteran dan kertas. Anda tinggal menulis nama barangnya, lalu serahkan kepada penjaga untuk diambilkan dari gudang (bukan gudang milik tetangga).

Yang membuat saya ck..ck..ck adalah anak-anak, ibu, teteh, kakak, oom, tante mengambil pensil, meteran seperlunya saja tidak perlu memboyong benda tersebut mumpung gratis ke rumah. Selesai dipakai, dengan tertib peralatan tersebut dikembalikan. Apalagi ada poster menyebut, gunakan benda ini seperlunya, bantulah kami melestarikan lingkungan hidup.

Ini rupanya menjelaskan mengapa hanya di bandara Sukarno Hatta, yang namanya mencari sekeping kartu embarkasi sama sulitnya mencari emas. Sementara Publik Singapura sudah terdidik untuk tidak ber-aji mumpung. Mumpung gratis, mumpung tersedia.

Aha sebuah kran air imut-imut menarik perhatian saya. Apalagi ingat dirumah punya kran wastafel yang bocor. Kraan ini saya temukan pada sebuah design kamar mengandai anda punya ruang 10 meter persegi tapi kepingin ranjang, meja belajar, kulkas, Tv semua tumplek bleg disitu. Ikea mampu menawarkan solusi sehingga anda seperti hidup di Sputnik ruang angkasa.

Cuma repotnya barang yang dipajang Ikea banyak masih terbungkus dengan kata dari Swedia seperti Lagan - bahkan ditempat lain saya melihat nama peralatan dapur SILIT (maaf). Alasannya “No Body Like To Buy Open Box” - jadi kalau tidak jelas tanyakan kepada staf kami. Kata Ikea.

Merasa pakar soal keran ledeng, gengsi kami tidak mengijinkan untuk bertanya ini-ono-onu kepada pegawai. Apalagi tidak ada penjaga disekitar rak. Zonder banyak cakap, kami tulis merek dagang kran tersebut “LAGAN” lalu diambil di counter lain dengan harga sekitar 25 dollar (norak nggak sih harga pakai disebut).

Jrenggggg! baru kaget seperti anak sekolah disuruh mengarang oleh bu Guru, sampai di rumah ternyata kran ini diperuntukkan untuk air panas dan air dingin. Ada dua pipa tembaga kecil sehingga mempersulit pemasangan. Bagaimana menyambung pipa setengah inci ke pipa yang jauh lebih kecil.

Apa boleh buat, keesokan harinya kami harus berSMRT (naik bis) ke kawasan IKEA Alexandra. Bis seperti latah ikutan berposter “mau hidup berwawasan hijau, naik bis saja..” - Di tengah perjalanan naik seorang Mr. Chang, ternyata seorang kontrolir karcis. Maka tanpa ampun seorang nenek yang menggunakan kartu pelajar langsung didenda ditempat.

Seharusnya sesampai di TKP saya cabut kupon antrean. Namun apa salahnya pura-pura “beydon” dan bertanya bagaimana cara mengembalikan barang. Petugas konter tanpa cingong langsung mengambil kraan dan bertanya ramah.

Padahal pengalaman melayani toko besi GajahSora, kalau ada orang mengembalikan barang, sebisanya kita usahakan agar barang yang sudah dibeli jangan dipulangkan pada orang tuaku.

Mau dikasih voucher belanja, atau cash?” - rasanya gengsi juga kalau terima cash sehingga saya menjawab ragu, “voucher will do..”

Akhir cerita, voucher malahan ditukar penggorengan Tepal. Saya tahu di rumah sudah menunpuk barang beginian. Tapi setidaknya pulang dari menukar barang di Ikea saya seperti anak sekolah diberi pengumuman “Ujian Mengarang dibatalkan, kalian boleh pulang saja…”

Di luar dugaan selama kami di Singapura bisa menangkap beberapa siaran televisi swasta seperti RCTI dan SCTV dengan antene aerial biasa. Maka selama di Sembawang acara semacam Indonesian Idol dan SCTV - Fitri - tetap digeber habis.

Kalau diperhatikan nampaknya antene biasa dipakai di Indonesia yaitu PF Goceng, seperti belum populer disini. Mereka menggunakan antene seperti di Indonesia beberapa tahun silam.

Saya tertarik pada “holder” yang dilekatkan pada wuwungan (bumbungan) rumah, dibantu dengan kawat sling kecil. Sayangnya sampai sekarang di daerah saya beberapa toko “hardware” memperlihatkan pandangan bengong kalau ditanya antene holder.

Di jalan-jalan besar Singapura sering menjumpai para penjual tissue sedollar tiga yang umumnya dijual oleh para penderita cacat seperti buta, tuna wicara. Kalau anda memberikan sejumlah uang maka biasanya mereka akan berseru gembira sambil mengucapkan “thank you, god bless you..”

Kadang ada beberapa pejalan kaki yang iba hati dengan memberikan sejumlah uang seperti lima atau sepuluh dollar tanpa mengambil tisu yang ditawarkan.

Di luar dugaan orang-orang ini akan tersinggung sehingga terlontar kata-kata “I dont want your money..” - jadi manakala anda ingin berbuat baik terhadap mereka, ambilah tisunya dan berikan uang serelanya.

Dengan demikian mereka tidak merasa menjadi pengemis atau mereka berhutang karma terhadap anda.

Sebelum kontrakan lama di jalan Holland Avenue kami serahkan kepada pemiliknya, sudah barang inventaris dari pemilik lama diusahakan kembali seperti saat kami sewa. Misalnya kamar tamu sudah digebyur air, vim, pembersih lantai. Masih saja di komplin. Sial bener.

Peringatan kepada anak-anak Indonesia yang akan kos atau sewa kontrakan di Singapura untuk membaca kontrak dan melihat sendiri barang yang ditawarkan pemilik. Kalau anda melihat sebuah lemari es besar, pastikan misalnya dibalik lemari tidak ada tembok yang bocel atau berlobang.

Mesin Cuci melayani kami selama 4 tahun tanpa masalah. Kalau anda perhatikan, lantainya cukup putih bersih. Tetapi masih dipersoalkan oleh pemiliknya.

Kompor Gas - tidak bermasalah selama ini. Pemilik puas.

Kamar mandi dengan heaternya. Lantai antara kamar mandi dengan toilet saling berhubungan. Kalau kita bersih-bersih di toilet, sebagian air kotor masuk ke lantao kamar mandi dan sebaliknya. Pintu kamar mandi karena sering terkena air lama kelamaan muncul noda hitam jamur. Dan inilah yang dilihat oleh pemilik rumah dengan mengklaim sebagai kerusakan.

Toilet, perasaan kami tinggalkan dalam keadaan baik dan bersih. Saya sendiri yang menggosoknya dengan pelbagai bahan kimia. Namun ada bagian tegel yang memang entah kenapa sebagian seperti menghitam mungkin terkena cairan kimia tertentu. Pemilik rumah mengklaim bahwa tegel toiletnya dikembalikan dalam keadaan berubah.

Internet Wireless, melayani selama 4 tahun. Sayang provider StarHub mematok harga 2400 dollar untuk biaya instalasi di tempat baru (jalan Telang). Terpaksa kami harus “dadah” kepada Star Hub dan bermesaraan dengan Singtel yang hanya mematok 22 dollar per bulan dan nol dollar biaya instalasi.

Barang-barang yang tak terpakai seperti meja komputer, rak piring, lampu baca sekalipun masih berfungsi terpaksa harus direlakan demi tempat yang terbatas. Aduh kalau saja di Indonesia, bakalan dimanfaatkan.

Melihat kotak pos terakhir kalinya. Sekalian mengingatkan penghuni untuk segera melaporkan kepindahan ke kantor polisi.

Laporkan kepindahan ke kepolisian setempat. Jangan lupa bawa dokumen pendukung. Polisi biasanya menanyakan rekening tilpun anda di alamat yang baru. Jadi urus semua dokumen sebelum melaporkan kepindahan ke polisi.

Anak saya dan teman-temannya ketika memasuki apartemen di Holland Vista, hanya manggut-manggut saja ketika acara serah terima kunci. Kendati melihat beberapa peralatan yang tidak berfungsi diam-diam mereka memperbaikinya. Namun ketika kami serah terimakakan kunci pada hari Minggu 4 May 2008, gantian sang pewaris main klaim lantai kotor, serep keramik yang disimpan di bawah bak cuci piring katanya menghitam , ,dinding kamar mandi berlumut, kran tidak seperti 4tahun lalu dan mereka menagih 600 dollar untuk sarana membersihkan lantai dan dinding.

Belajar dari kesalahan yang kerap menimpa mereka, kebetulan kami ada di Singapura. Setelah “cabut” dari Holland Avenue dan “tancap” di jalan Telang maka saat memasuki rumah Talang tak lupa setiap setiap sudut yang tidak sesuai dengan kontrak didokumentasikan agar pemilik tidak bisa mengelak dikemudian hari. Sebetulnya secara instink - kami tidak suka dikatakan rewel. Namun manusia tidak satu sama lain sulit diramalkan.

Sewa rumah 2000 dollar per bulan bukan jumlah kecil. Sikap kooperatif sering disalah artikan sebagai kelemahan. Pikir-pikir tidak heran mereka memiliki banyak rumah dan apartemen dimana-mana kalau bukan raja tega.

Kotak pos ternyata tidak memiliki kunci dan tidak terkunci

Tidak ada anak kunci pada pintu masuk. Hanya digunakan rantai dan kunci gembok kuningan ATS.

Tidak ada kunci belakang pada gerbang geser. Diganti oleh gembok “tricycle” 263

Mesin cuci semula Toshiba AW-A5550E ternyata gagal untuk spinning dan membuang air. Diganti oleh merek lain Fisher&Paykel DC09 pada akhir April 2008.

Toilet Cover tidak aseli terlihat dari warna penutup yang kekuningan. Kran disebelah kiri kami ganti dengan kraan shower terutama untuk keperluan membersihkan toilet.

Pemanas Air bekerja dengan baik tetapi kraan sudah “loncer” - alias goyah dari kedudukannya

Kunci Pagar belakang tidak memiliki anak kunci lantaran sudah berkarat diganti dengan gembok kuningan Trcicycle 264 yang juga berkarat. Terpaksa dibelikan kunci putih ABUS.

Kran Taman sudah loncer (oglek)

Dinding tembok yang pada ngelotok- terkelupas

Wastafel bocor dengan serep ubin dibawahnya. Masalah biasa, mudah diperbaiki namun namanya anak-anak kos, justru yang biasa ini yang diabaikan sehingga bertahun-tahun sang kebocoran mencadi malapetaka ketika reaksi kimia sabun, lemak, kotoran menempel erat-erat dengan ubin dan sulit dipulihkan.

  • TV Panasonic yang tidak memiliki remote dan hanya bisa diatur dari channel (-) bukan channel (+)
  • AC bekas dengan satu kompresor untuk tiga kamar. Kamar pertama didepan bahkan mengalami kebocoran dan tidak dingin sehingga harus dipanggil teknisi. Ketika kami datang, tiga AC kamar tidak memiliki remote control - mungkin penjual AC bekasnya belum mendapatkan seken-nya.

  • Dan inilah canggihnya. Begitu masuk halaman semua keuangan harus beres-res. Bonusnya barang pemilik rumah dionggokkan di halaman depan dan menyiita kamar makan. Dia minta waktu 2 bulan untuk mengambil barangnya, tapi nol minggu bagi kami memberesi rekeningnya.

Lemari dapur sudah mulai berlubang.

Tin.tin..” tiba-tiba mobil ini membunyikan klakson sambil lewat didepans aya yang sedang membungkus sampah dengan plastik hitam agar besok pagi bisa dengan mudah diangkut oleh truk sampah Singapura.

Setelah bermanuver sebentar mobil van tua dengan ban gundul semua ini diparkir didepan rumah kami.

Slerek,” pintu samping kendaraan dibuka oleh pengemudinya seorang lelaki kekar dengan berkaos dan celana pendek sampai dengkul.

Rupanya didalam kendaraan ada seorang bocah perempuan. Lalu sang pengemudi berbicara dalam bahasa Mandarin. Hanya sebentar sebab suara lelaki ini tiba-tiba meninggi dan ditingkahi suara “klepak” tangan mendarat di tubuh sang anak.

Terdengar teriakan dalam bahasa Mandarin, sekalipun tidak paham sama sekali suara ini lebih cenderung mengiba mohon ampun seorang bocah kesakitan.

Saya menghitung dalam hati “perlukan ikut campur dalam urusan ini..” -

Tapi saya baru baca seorang penumpang terlibat baku hantam dengan supir taxi karena sang penumpang yang Jurnalis memukul duluan, maka si pemukul terkena denda 1000 dollar.

Dua anak saya Lia dan Satrio belum pernah sekalipun saya tangani dengan kekerasan. Cukup hardikan mereka sudah mengerti. Sekalipun demikian ada juga tetangga menganalisa bahwa saya termasuk pelaku KDRT - sial bener.

Rupanya sang lelaki, mungkin ayah anak sadar ada yang memperhatikannya. Ia mendekati saya. Lalu dia mulai bertanya “baru pindah ya, dari mana?” - Dan gantian saya bertanya “yang kamu pukuli tadi anakmu?” - eh dia menjawab “iya?” tanpa rasa salah.

Lalu ia menjelaskan bahwa kedatangannya adalah mengambil anak-nya yang les “tuition” bahasa Inggris. Gantian dia tanya saya dari mana. Lalu aku bilang dari Hollanda Village, matanya masih belum memperlihatkan peta virtula koordinat kampung Belanda tersebut. Gampangnya, bilang saja saya dari jakarta - Indonesia. Tidak beberapa lama, anak-anak yang dijemputnya keluar rumah. Termasuk dua anak lelakinya.

Nampaknya adegan belum selesai. Kedua kakaknya yang dijemput dan langsung masuk mobil segera diburu oleh guru lesnya. Mereka berdua kelihatannya masih kena marah terlihat dari tangan sang guru perempuan mengancung dan diarahkan kepada mereka. Sang ayah dan ibu nampak tekun mendengarkan wejangan guru terhadap anak-anaknya.

Adiknya yang pertamakali dipukul oleh ayahnya dalam foto berambut panjang dan berbaju merah jambu hanya melihat dari belakang seorang perempuan mungkin ibunya.

Untung Lia sedikit banyak mengerti bahasa Mandarin. Katanya mereka bertiga tidak mengerjakan PR sehingga sang guru menjadi berang.

Namun  sayang di kawasan rumah yang baru sekalipun tergolong elit, rata-rata penghuni memiliki lebih dari satu mobil, namun internet kabel belum merambah ke sana kecuali kami bersedia merogoh kocek 2.600 dollar untuk biaya instalasinya dengan sewa bulanan lima puluh dollar per bulan.

Ketika mengikuti pindahan rumah anak saya di Singapura maka jauh-jauh hari saya “tegesin” - maksudnya bertanya dengan detail adakah di rumah kontrakan yang baru nantinya tersedia internet kabel “Star Hub” yang luar biasa cepatnya. Terus terang kalau ke Singapura tugas saya bapaknya adalah kuli angkut, kuli sampah, kuli bersih-bersih kamar mandi merangkap IMF. Sementara ibunya kuli masak dan “secuil” belanja.

Namun anak saya menjawab bahwa rumah yang akan ditempatinya sebetulnya cuma “gudang” bagi seorang ibu yang hanya karena kepingin cucunya sekolah di SD favorit dikawasan yang kata orang termasuk elit.

Lalu untuk mengakali sistem rayonisasi ibu Peggy yang bukan melati Sukma membeli rumah kapasitas tiga kamar tidur, kamar mandi, kamar makan, taman,  hanya untuk mendapatkan bukti pembayaran bahwa mereka tinggal di kawasan yang dekat dengan sekolah favorit tersebut.

Hari selanjutnya rumah tersebut tidak berpenghuni apalagi berinternet.  Lalu Starhub yang di apartemen lama “maunya” dipindahkan ke rumah (kontrakan) baru. Celaka-sungguh celaka dikawasan ini kata Star Hub belum ada sambungan Internet Kabel mereka “ni mari” alias kemari.  Dan muncullah biaya instalasi sebesar 2400 dollar plus+plus.

Pikir-punya pikir,  putri saya mencoba pelayanan lain dari Sing Tel (ST) yang menggunakan saluran tilpun biasa macam pelayanan Speedy di tanah air. Nama dagang dari pelayanan ini adalah MIO. Yang menggembirakan penyedia meminjamkan modemnya sementara biaya operasi “unlimited, 3 MBPS” sebesar duapuluh dua dollar per bulan termasuk pajak, hampir mirip dengan 159 ribu rupiah.
Hari yang dinantikan, petugas ST datang untuk mengaktifkan saluran tilpun. Dalam hitungan menit, tilpun di rumah baru langsung kring. Sementara internet dijanjikan akan aktip seminggu kemudian.

Hari yang ditunggu datang. Tepat jam lima sore peralatan internet mulai dipasang. Mula-mula kami gunakan Local Area Network setelah berjalan dengan baik perlahan wireless diaktifkan.Kini lima laptop mengakses berbarengan dengan kecepatan 3MBPS dan unlimited. Kecepatan internet diuji coba dengan bermain online game, sampai sekarang sudah seminggu belum ada keluhan. Lalu saya mencoba mendownload program Linux terbaru Ubuntu 8.x sebesar 700mb dan dipulung hanya dalam waktu 50 menit pada jam sibuk. Program yang boros bandwidth macam YouTube dijalankan tanpa Anisa Bahar yaitu terpatah-patah goyangnya.

Tegasnya, internet MIO yang 159 ribuan berjalan kecepatan yang bisa dikurs dengan mengecupkan jempol dan telunjuk.

Sementara tilpunpun masih bisa digunakan untuk komunikasi suara. Kapan saya bisa menikmati pelayanan seperti ini di Bekasi  sana?. Mimpi kali ye.

Namun sayang di kawasan rumah yang baru sekalipun tergolong elit, rata-rata penghuni memiliki lebih dari satu mobil, namun internet kabel belum merambah ke sana kecuali kami bersedia merogoh kocek 2.600 dollar untuk biaya instalasinya dengan sewa bulanan lima puluh dollar per bulan.Ketika mengikuti pindahan rumah anak saya di Singapura maka jauh-jauh hari saya “tegesin” - maksudnya bertanya dengan detail adakah di rumah kontrakan yang baru nantinya tersedia internet kabel “Star Hub” yang luar biasa cepatnya. Terus terang kalau ke Singapura tugas saya bapaknya adalah kuli angkut, kuli sampah, kuli bersih-bersih kamar mandi merangkap IMF. Sementara ibunya kuli masak dan “secuil” belanja.
Namun anak saya menjawab bahwa rumah yang akan ditempatinya sebetulnya cuma “gudang” bagi seorang ibu yang hanya karena kepingin cucunya sekolah di SD favorit dikawasan yang kata orang termasuk elit.

Lalu untuk mengakali sistem rayonisasi ibu Peggy yang bukan melati Sukma membeli rumah kapasitas tiga kamar tidur, kamar mandi, kamar makan, taman,  hanya untuk mendapatkan bukti pembayaran bahwa mereka tinggal di kawasan yang dekat dengan sekolah favorit tersebut.

Hari selanjutnya rumah tersebut tidak berpenghuni apalagi berinternet.  Lalu Starhub yang di apartemen lama “maunya” dipindahkan ke rumah (kontrakan) baru. Celaka-sungguh celaka dikawasan ini kata Star Hub belum ada sambungan Internet Kabel mereka “ni mari” alias kemari.  Dan muncullah biaya instalasi sebesar 2400 dollar.


Pikir-punya pikir,  putri saya mencoba pelayanan lain dari Sing Tel (ST) yang menggunakan saluran tilpun biasa macam pelayanan Speedy di tanah air. Nama dagang dari pelayanan ini adalah MIO. Yang menggembirakan penyedia meminjamkan modemnya sementara biaya operasi “unlimited, 3 MBPS” sebesar duapuluh dua dollar per bulan termasuk pajak, hampir mirip dengan 159 ribu rupiah.
Hari yang dinantikan, petugas ST datang untuk mengaktifkan saluran tilpun. Dalam hitungan menit, tilpun di rumah baru langsung kring. Sementara internet dijanjikan akan aktip seminggu kemudian.

Hari yang ditunggu datang. Tepat jam lima sore peralatan internet mulai dipasang. Mula-mula kami gunakan Local Area Network setelah berjalan dengan baik perlahan wireless diaktifkan.Kini lima laptop mengakses berbarengan dengan kecepatan 3MBPS dan unlimited. Kecepatan internet diuji coba dengan bermain online game, sampai sekarang sudah seminggu belum ada keluhan. Lalu saya mencoba mendownload program Linux terbaru Ubuntu 8.x sebesar 700mb dan dipulung hanya dalam waktu 50 menit pada jam sibuk. Program yang boros bandwidth macam YouTube dijalankan tanpa Anisa Bahar yaitu terpatah-patah goyangnya.

Tegasnya, internet MIO yang 159 ribuan berjalan kecepatan yang bisa dikurs dengan mengecupkan jempol dan telunjuk.

Sementara tilpunpun masih bisa digunakan untuk komunikasi suara. Kapan saya bisa menikmati pelayanan seperti ini di Bekasi  sana?. Mimpi kali ye.

Malam tadi kami kedatangan tamu seorang ibu 37-an, saya taksir BMI (Body Mass Index) masuk skala 19,2 dari skala 18,9-24.9 dengan celana legging biru memperlihatkan kaki selangsing kijang, saya agak sulit membayangkan antara Jessica Simpson atau Jennifer Hewitt maklum bekas manekin.

Wanita berkulit cerah dengan suara sedikit berat mendesah umumnya memiliki anugerah membuat lelaki “klepek-klepek“. Turun dari sedan warna silver gadingnya ibu yang sudah turun mesin dua kali ini nampak terengah-engah.

Baru saja sepatu stiletonya dilepas, perempuan berbackless ini langsung berceloteh bahwa dalam perjalanan ke rumah kami dia menerobos lampu merah dan sempat dipotret oleh kamera. Ia sudah membukukan satu kali pelanggaran lalu lintas. Masih punya kesempatan untuk menerobos lampu merah atau pelanggaran lain sebelum SIM-nya dibekukan untuk satu tahun.

Ooo itu to yang membuah tubuhnya berkeringat seperti mendapat serangan jantung tahap perkenalan.

Sambil melihat body dan catnya yang aduhai, maksud saya body kendaraan sedan dan bukan cat kuku warna ungunya, mata saya terpaku pada nomor pelat mobilnya yang unik yaitu pelat merah dengan tulisan putih. Kalau di Indonesia pelat nomor ini milik kendaraan dinas pegawai negeri.

Padahal ibu muda ini pekerjaan utamanya klabing, pekerjaan kedua ke salon, pekerjaan ketiga manicure -pedicure dan pekerjaan sampingannya adalah ibu rumah tangga. Sang suami yang beda 20tahun usianya lebih tua, bukan seorang pegawai negeri melainkan pebisnis - Bank. Lantas mengapa ia menyetir kendaraan mirip inventaris PN.

BOLEH DIPAKAI JAM NON SIBUK

Guna mengakomodasi nafsu memiliki mobil yang berlebih bagi warga Singapura yang kelebihan uang, atau para pelaku ekonomi yang keuangannya pas-pasan namun keukeuh ingin punya brum-brum ngeng maka Singapura memberlakukan mobil yang dibatasi ruang geraknya hanya pada hari-hari non puncak dengan iming-iming pajak kecil.

Misalnya mereka hanya boleh dijalanan setelah jam 7 malam sampai jam 7 pagi, pada hari biasa. Lalu saat hari Sabtu boleh keluar jam 3 sore. Sementara pada hari Minggu dan hari besar lainnya, mobil ini bebas berkeliaran sepanjang hari.

Yang sedikit sukar mereka harus mengikuti lelang untuk mendapatkan Sertifikat atau semacam Nomor Pelat Kendaraan kesohor dengan nama “week end car” atau Off Peak Car.

Menurut Badan Transportasi Singapura pada 1994 sekitar sepuluh ribu kendaraan didaftarkan sebagai mobil akhir pekan. Pada 2000 jumlahnya menurun separuhnya.

Data yang tercatat pada 2002 hanya sekitar 1000 kendaraan yang tersisa sebagai mobil akhir pekan. Kelihatannnya orang lebih suka membayar pajar tinggi ketimbang punya mobil cuma nongkrong di garasi.

Namun kalau anda masih kebelet ingin bepergian pada hari diluar yang ditentukan. LTA mengeluarkan kupon seharga 20dollar Singapura. Beres deh.