Ciluk Ba di Pagi Buta


Rig Pengeboran Darat PNG

Ketika alarm HP berbunyi mendendangkan lagu RADAR – yaitu nada getar sambil suara untuk membangunkan saya di rig setiap pukul 04:00pagi, zonder ucek-ucek otomatis saya keluar kamar bernomor 11 – dan berjalan menuruni tangga menuju ruang cuci baju. 

Hal ini bisa saya lakukan sebab selalu tidur dengan lampu baca, lampu kamar selalu benderang. 

Tapi Selasa pagi ini sekalipun embun padat dingin – namanya diatas awan – mulai mengelus kepala saya, rasa ngantuk masih belum bisa didorong dari pelupuk. Didepan ruang cuci, pintu saya buka dan langsung saya masuk sebab biasanya tumpukanj baju saya sudah masuk dalam kantong mirip jala ikan dan diberi laber sobekan karton “11”

Mak Bedengus saya melihat suatu penampakan..

Langsung ngantuk saya sirna sebab begitu pintu dibuka, sepasang payudara wanita muda seperti sedang membelalak main “Peek A Booi” alias Ciluk Ba.. Cuman yang ini sedang keadaan “BAAAA” lebar. 

Rupanya pemiliknya yang notabene pekerja katering ini menyangka hari masih teramat pagi muda. Sehingga tanpoa sungkan mengganti baju kerja ke baju rumah untuk siap menunggu mobil jemputan pulang. Para pekerja lokal ini tidak menginap di camp biasanya tinggal  dekat lokasi – mungkin kos malahan. Sehingga kalau ada camp dengan kode “C1″ – mereka akan mengaku “I am C1 resident outside”..

Segera pintu saya tutup kembali dan cukup lama rasanya – kena embun blasteran hujan sampai kepala saya basah.. Tapi telinga masih dengar nada monoponik berbeda – satu teriak kaget satunya ngekek… Perempuan PNG kalau berbicara mirip Pok Nori kalau sedang “NETRON” dengan bang Mali TongTong..

Tidak lama kemudian perempuan lain temannya keluar menyerahkan jala pakaian bersih, ia masih ngekek – padahal wanita PNG terkesan selalu muka cuka walau batin Markisa.

Coba kalau kejadian tersebut di Jakarta, saya bakalan disemprot.. “Kalau masuk ketok dulu kenapa!!” – maklum terlatih oleh media dan politik, pinternya menyalahkan orang lain. Presiden harus begini harus begitu.. Tapi awak tetap nggak mau berubah. 

Atau malahan idep-idep – hadiah lebaran bagi yang tidak merayakan.. Lha di Rig cumna satu Thil..

Blusukan PNG 5 Aug 2014

Biar Aman..Nyetir sambil Buka HP


P1060759KETIMBANG DARI NAIK  TOYOTA Pindah ke  YAMAHA(DIPATI)..

*****

Jarak “base camp” kami menuju Rig pengeboran sekedar 15 kilometer.  Dari kamp dengan elevasi  1900 meter diatas muka laut menuju puncak 3000 m (kurang dikit) masih diatas muka laut. 

Mobil jemputan  (foto di FB) kami dipagi buta jam 04:45 tentunya akan disiapkan Lambat Merayap mendaki gunung berkelok dan hanya diterangi oleh Sinar Air Embun (awan), melewati lokasi WUKAWUKA penuh cerita orang hilang, gunung keramat pendeknya mirip filem horror yang paling umbar asap putih.

Lampu “sairun” alias sirine sudah berputar-putar pada atap kendaraan. Tapi mobil masih mangkrak juga.. 

Rupanya ada gangguan dengan lampu depan. Karena waktu sudah mendesak yaitu pergantian PLOEG, maka kendaraan dipaksa melaju dengan penerangan ala kadarnya menuju Kantor pusat kendaraan untuk ganti Truk lain.. Hanya sepuluh menit kami sudah sampai di bengkel besar pusat ngepul kendaraan dengan bantuan sesekali lampu sorot dari kamp kamp kecil yang kami lewati..

Ternyata yang tersedia adalah Lancruiser putih…Kuda Besi dengan mata belo yang mencorong terang.. 

Kami bersiul bergegas pindah untuk kemudian menghela napas panjang lagi… Lampu DASHBOARD MATI…

Blaik..blaik..

Mau nggak mau kami ngetem juga di TOYOTA LANDCRUISHER yang baru usia 2 tahunan ini selama 60 menit melewati jurang dengan supir sibuk mengarahkan lampu HP-nya guna membaca panel didepannya…

Jam menunjukkan pukul 05:00 pagi..

Kamipun sampai di Rig sekitar pukul 06:00 pagi, dengan ketinggalan rapat pagi…

Perusahaan yang begitu royal keluar uang  apalagi menyangkut keselamatan, tetapi kalau “software” dibelakangnya nggak perduli dengan perawatan.. ya fatal jadinya..  Padahal disini kami tidak mengenal alasan “tidak ada dana” .. Atau belum ada “drop-dropan” – buat catatan, baru kali ini saya bekerja di rig darat dengan biaya operasi satu juta dolalr perhari. 

Faktor manusia memang sulit dibaca bisa dianalogikan presiden barangkali ya.. Presidennya bagus kalau anak buahnya masih “abu nawas” kata wong Palembang sana, maka lingkaran setan jadinya.

(mohon permisi kebelet skeptis). 

 

PNG 23 Jul 2014

Pura-pura jadi penumpang kelas Bisnis


Rasanya tidak betah juga duduk terlalu lama disebuah kafe Bandara Moresby. Satu-satunya kafe yang isinya Sandwhich, Pie serta sejenis PopMie. Setelah sekaleng Zero Diet dan kue Beef Pie saya embat… perlahan jarum jam sudah memperlihatkan waktu 13:00 – sementara pesawat boarding 14:30… Sayapun beranjak, apalagi melihat beberapa orag bingung mencari kursi kosong.

 

Dipintu masuk.. petugas sekurity memeriksa kartu kuning saya… Ini kartu laporan “departure” alias kartu embarkasi.. Ia mengamati dari atas sampai bawah seperti mengawasi PR anak murid yang bandel.

 

“sudah ditandatangani?” tanyanya… Saya merasa muda kembali… Mengisi kartu satu muka seukuran Kartu Pos.. masih harus diawasi petugas Keamanan berpakaian macam Pilot Sukhoi warna hitam..

 

Saya lihatkan tanda tangan saya.. Tanda tangan sudah memuaskan sekurity.. Lalu ia tanya ..

 

“Naik Pesawat jam Berapa..”

 

“Jam 14:30 ” – kata saya…

 

Sekurity menunjukkan tangannya kesebuah jam bandara .. “masih lama”  katanya nanti saja kalau sudah jam 14:00… baru boleh masuk…

“Jalan-jalan dulu ke kota..”

 

Jelas pak Security belum “NGEH” bahwa ada proses “Imigrasi”,  proses geledahan isi tas kabin yang terkadang memangkas waktu sampai 20 menit…

 

Dan satu aturan bagi kami pekerja Asing… tidak boleh naik Taksi tanpa pengawalan… Saya pernah naik Taksi.. malah diajak kerumah pak supir.. diajak makan siang bersama… lalu menengok rumah ibadah mereka… Tapi kan tidak semua taksi sebaik supir yang ini…

 

Tiba-tiba ada tanpa dipikir mulut keprucut boong “Saya mau ke Lounge Bandara” – Misterinya security main percaya saja bahwa saya penumpang kelas Bisnis kelas Borjuis (padahal bukan)..

 

Dan sayapun melenggang masuk ruang tunggu…

 

Salah Lihat Sampul


TKP…. Kantin..Rig..PN Guinea

Sekitar 04:30 pagi saya sudah nongkrong di ruang Kanten rig…

Masih kepagian…

Soalnya kantin buka service jam 05:00 pagi… Tapi saya lebih suka curi start…Tapi seperti kata JK “Lebi cepat lebi baek”.  Padahal untuk bikin kopi… airpanas “water Urn” statusnya pas untuk raup muka dan bukan buat menjerang kopi.

Tapi jangan mati-akal… masukkan saja kopi dan air dalam gelas lalu panaskan pakai Microwave..

Perasaan saya sudah kepagian untuk sarapan.

Lho kok sudah ada warga duduk dengan sisa makanan didepannya dan segelas kopi “kepul-kepul”… Matanya menatap acara Dono Kasino.. yang sudah barang tentu mereka tidak mengerti bahasanya…Maklum dia warga Lokal (PNG)..

Lelaki seragam Biru ini bukan warga Rig sehari-hari…Ia dan teamnya baru datang kalau ada kerja mendadak atau JOB panggilan…

Job panggilan adalah pekerjaan semi dadakan, misalnya Operasi Geofisika -Wireline, Penyemenan, pemasangan selubung… Mereka datang….kerja.. lalu pulang..balik ke markas…

Melihat lusuh muka, jaket kerja hitam oli, maka saya tanya ….. Operasi MDT sudah selesai atau masih berlangsung….

“Kemarin sih baru digonceng pipa bor..”

Lho kenapa kemarin yang diomongin… Itu sih basi…

Akhirnya saya tanya… “mau ke rig atau dari rig..

Oh ya untuk sekedar informasi… Jarak Rig dengan kantin makan/tidur adalah 500 meter dan lain komplek, lain pagar, lain penjaga..

Antar Rig dengan Komplek dibatasi bukit..

Saya baru bangun… mau ke Rig… – katanya sambil nyeruput kopi.. Dan meninggalkan saya…

Bercak kehitaman nampak dimejanya… ini jelas bekas gemuk ataupun minyak solar..

Ya.. ampun… teman-teman satu Pulau “Irian” ini memang aneh… Baju kotor tinggal ditaruh didepan kamar, besok pagi sudah bersih.. Kok ya tidak dilakukan…

Badan tinggal diguyur air hangat, sabun setiap minggu dibagi entoh susah banget sebagian dari mereka untuk mandi barang sebentar…

Kalau seragam tak dicuci alasannya biar awet, sebab seragam kami memang hanya boleh dicuci sampai 73 kali.. Tapi wong semua gratis…

PN Guinea 19 June 2014

 

 

Catatan: MDT (Modular Dynamic Formation Test = adalah operasi mengambil sample cairan dari lubang bor, uji “kesuburan” – sebuah operasi mahal dengan tingkat kegagalan lumayan tinggi juga…

 

Air Ledeng Keruh


Ini kemarau panjang persediaan air mulai berkurang..  Tidak terkecuali di Singapura..

Pada 12-13 Juni (2014).. airledeng (PAM) dirumah penduduk berwarna kekuningan… Warga langsung melaporkan kejadian tersebut.

Pada 13 Juni, team penanggulangan datang untuk masalah air kotor.. Rupanya akibat penggantian katup pipa ledeng pipa penyalur utama. 

Penduduk yang terkena imbas air kuning segera dibantu.. Air dikuras, dibilas (injap).. Tidak tanggung-tanggung Pihak PAM mendatangkan mobil tangki, jerican air bersih.

Persoalan air bersih teratasi pada 13 Juni 2014..

Sebagai ungkapan minta maaf… surat edaran dibuat dan diposkan kerumah penduduk seminggu kemudian..

Dewan Kota menyatakan minta maaf.. Bahkan memberikan rebat kepada pelanggan sebesar 100 ribu rupiah.. karena harus menguras bak penampungan air mereka… Jumah ini setara dengan pemakaian rumah tangga dengan 2 anak, selama 10 hari…

Sayang.nya ini terjadi di Negara tetangga..

Dan bukan lantaran PilPres.. melainkan SOP..

Di Jakarta kami berlangganan PAM.. tapi karena keruh.. Terpaksa beli pikulan.. Lalu untuk jangka waktu lama terpaksa memasag filter yang setiap minggu kudu dikuras saking kotornya..

 

Detektor Bandara Pilih Tebang


“Beep” – sekali lagi detector di Bandara POM, Port Moresby berbunyi panjang..

Petugas keamanan bandara langsung blingsatan seperti PUMA lagi nyusui anak lantas mengendus Impala brondong sedang lengah merumput…

Sejatinya “Mata saya agak “siwer” melihat security berpakaian ala pasukan gegana yaitu coverall (jumpsuit) warna hitam diteriknya airport Port Moresby yang Air Conditioningnya sayup terasa dikulit. Kalau lagu.. fals.. gitu.

Tapi ini masih mending …Ketimbang beberapa bulan lalu mereka berseragam mirip peserta “car free days” di Thamrin – sepatu karet, celana pendek, kaos polo pakai rompi lusuh bertuliskan SECURITY.. Kang Parkir di Hayam Wuruk lebih keren dandanannya.

Yang dicurigai bawa bom… jalannya limbung mungkin selain punya KTP seumur hidup, cucu maka dia orang juga punya peliharaan asam urat dan “madukismo” dalam darahnya … – jenggotnya – uban dikepalanya, tubuhnya – mirip Master Miyagi dalam Karate Kid.

Kalau ibarat batere cap kucing – A3 umurnya boleh diukur duduk pada angka 0.5 dari 1,5 Volt buka bungkus.

Ia mengenakan suspender seperti pak Jaya Suprana.. Saya pikir salah satu suspendernya memang terbuat dari logam yang bikin perkara… Karena Kakek keukeuh tidak mau buka suspendernya.. Iapun digeledah dan petugas menurunkan bahunya kecewa ketika mereka tidak menemukan sesuatu… Juga seperti puma ketika melihat “Impala” kabur kanginan meloloskan diri…

“Beeep” kali ini seorang PINOY (Filipina) usia muda tertangkap detektor… sepatu karet sudah dibuka, kacamata sudah , berikut topi, sabuk.. Tapi lagi-lagi mesin selalu bereaksi “Beep”…

isi kantong diperiksa… sebatang rokok masih tersisa.. Ternyata konon grenjeng (kertas timah) yang memicu detector.. Cerita misterinya… ada ratusan orang mungkin mengantongi rokok – dan selalu dengan grenjeng sebagai pelapis bungkus tetapi mengapa hanya si Pinoy yang dibikin bunyi…

Detector yang sama sebetulnya pernah “ngerjain” saya… alasannya terlalu misteri… Kaca-mata saya mengandung logam.. Persoalannya ada ratusan orang melewati detekor umumnya berkacamata dengan baut kacamata yang sampai sekarang belum pernah diganti pasak kayu melainkan logam… Sayapun pernah melalui detector ini paling tidak 5 kali dan baru sekali dijadikan masalah…

Tapi inilah negeri tempat orang menuai dollar… Apa mau dikata..

Beep Beep Beep panjang.. kali ini misteri lanjutan … Semua lampu merah detektor menunjukkan level “mahluk” yang melewatinya sudah melampau batas keamanan… Padahal kucingpun tidak melewatinya…

Petugas segera mematikan mesin… di reboot istilahnya … Habis tidak ada yang digeledah..

Mimbar Saputro
Port Moresby
18Juni 2014

Ketika pak Satpam melengkapi diri dengan Batu ConBlock


tkp – Jalan JatiKramat…
Diluar kompleks nampak dua kelompok ormas saling berhadapan, bahkan saling bersisihan… Satu ormas yang sohor dengan Jaket Loreng warna Orange.. Satunya kalau nggak Pangsi hitam ya baju Koko hitam dan gelang akar bahar. Lengkap dengan pecis hitam sebagai pelengkap.
Dari dalam gedung  nampak para satpam berseragam hitam nampak bersenjatakan batu paving (con block)..
Tidak nampak suasana tegang.. malahan suasananya keriaan peresmian sebuah supermarket.. Lantaran bangunan gedung nangkring tinggi diatas jalan raya sedemikian dengan kemiringan jalan  sekitar 30 derajat masih ditambah kerjaan lain ambil kartu di gardu parkir…
Akibatnya banyak kendaraan mati langkah dan mulai mundur mendadak.. Antrean masuk kendaraan mengular sampai jalan raya JatiKramat..
Disinilah tugas pak Satpam dengan Paving Blocknya menyiapkan ganjal kendaraan yang mundur.. Daripada jadi kasus tabrakan mundur beruntun..