Perjuangan dengan BPJS seri bikin ATM


KAS KOSONG..Balik sejam lagi,,

Seperti sebelumnya, untuk membayar iuran BPJS ke salah satu Bank Plat Merah kami harus membuka rekening tabungan. Maka sekitar jam 08:00 pagi saya sudah mendatangi kantor bank setempat.  Kepada satpam saya mengatakan ingin buka tabungan yang langsung ditangani dengan baik oleh mbak Customer Surface yang hanya butuh E-KTP untuk difotocopy dan nomor HP

Ada sekitar 20 kepala nasabah duduk manis manis – menunggu giliran dipanggil. Sementara saya langsung duduk tanpa antre di kursi tamu Customer Office..

Persoalan kecil muncul saat mengisi kolom formulir yang salah satunya adalah Gaji Tetap – sebab sejatinya seorang pensiunan swasta mana ada penghasilan tetap.

Saat nunak nunuk mengisi formlir  seorang ibu bernomor muda dipanggil kedepan loket pembayaran.

Ibu balik sejam lagi….Modal masih kosong,” kata petugas loket. Sepertinya bank Plat Merah yang konon memiliki satelit  ternyata kas-nya masih kosong. Nampaknya ibu tadi hendak menarik sejumlah tunai..

Tanpa membantah emak-emak ini ngeloyor keluar bank..Sering saya dengar bank-bank kecil kerap belum memiliki persediaan tunai apalagi saat masih baru buka “toko”. Tapi baru kali ini melihat dengan gaya “Mama Tau(k) Sendiri”

TOKEN tidak selalu berupa KEYCARD

Untuk menghindari telat pembayaran, mengingat sering keluar Nusantara  saya  mendaftarkan Internet Banking agar saat dmanapun berada bisa melakukan transaksi. Tapi saya sudah keluar Bank.

Tilpun  Hotline nomor Kepala  500 sekian..

Saya gunakan saluran HOTLINE yang nomornya tertera pada kartu ATM. Yang saya ingat kepalanya 5000- dan seterusnya…

“Selamat siang IBU, ada yang bisa dibantu…”

Weleh ini memang wolak waliking Jaman – saya sering disapa ibu sementara Ibu beneran disapa bapak Tentara baret Hijau.. Tapi tak mengapa… Obrolan saya teruskan..

“Saya baru buka ATM mbak..tapi gimana cara mendapatkan Alat “keycard”..maklum sudah tua.. dari rumah sudah dicatat apa yang mau dikatakan, ketemu mbak petugas saya lupa…”

Beberapa kalimat yang seharusnya diedit- meluncur begitu saja..

Baik ibu… tetapi ini nomor ON CLINIC

Deg…..Kebayang logo panah miring yang pangkalnya telur

BPJS dan ATM Jatiasih lanjutan


Pembayaran iuran pertama BPJS (BPJS = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) atas nama sendiri sudah rampung dengan  cemerlang di ATM Mandiri Jatiasih…

https://www.facebook.com/notes/mimbar-bambang-saputro/bpjs-dan-atm-jatiasih/10152996348655466

Namun saat akan membayar iuran BPJS pertama untuk anggota keluarga. Nomor Virtual Akunnya dinyatakan tak dikenal oleh ATM mandiri Jatiasih lantas  kartu ATM saya dilepeh…

Nomor anggota keluarga tidak terdaftar katanya…

Kebetulan kantor cabangnya ada disana sehingga tidak ada salahnya bertanya..

“Bapak salah nomor kali, apakah bapak belum daftar”, dan banyak lagi pertanyaan yang membuat saya sepertinya Raja Gaptek..

Kalau anda percaya dengan kata Online, Realtime maka saatnya meneguk kecewa..

Sampai sore saya mencoba, nomor yang disetujui dan dibuat oleh BPJS masih belum menampakkan hasil dikenal sitem perbankan Online Realtime kita..

Keesokan hari saya tilpun Hotline “500400” – saya jelaskan permasalahan, anjuran Hotline bayar setor tunai ke Bank terdekat atau ke kantor BPJS.

memang sering error pak.. jadi kalau tidak bisa Mandiri, ganti BRI atau BNI

Kita bicara tiga Bank besar di indonesia, salah satunya mengaku memiliki pelayanan digital terbaik – kenyataannya data Online, Realtime masih belum terhubung dalam database.

Akhirnya, issue diselesaikan dengan membawa uang kertas – mendatangi BRI, setor tunail…

Sebelum berpisah petugas BRI kasih pesan, untuk kali ini saja paai tunai untuk selanjutnya bikin ATM saja…

Berarti dompet saya makin mengembung dengan tambahan satu kartu ATM (lagi)…

Seperti belum selesai memberikan penerangan petugas menambahkan

“Buka ATM di kantor cabang sesuai alamat di KTP.. “

Artinya lagi sistem Online masih mengenal batas fisik…

BPJS = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Jatiasih Desember 2014

BPJS dan ATM


Ketika BPJS sudah pukul genta, kami tidak henti-hentinya melakukan getok tular kepada asisten rumah tangga, kerabat. Kadang sedemikian rupa sehingga kalau perlu mereka libur agar bisa urus. Tidak cuma sampai disitu – kami lakukan pengecekan apakah benar mereka mengurus. Kami cuma bisa mengatakan “Kalau sudah sakit dan kritis… lantas baru akan urus.. siapa yang mau antrean panjang di kantor BPJS”

Lumayan racun BPJS cepat diserap dan feedback (masukan) bahwa tatkala mereka sakit, mendapatkan perawatan gratis dibeberapa Puskesmas.

Lalu gantian saya yang kepingin ikut. Saya searching di Internet.. banyak yang sudah menulis sehingga sangat membantu.. Misalnya nama Link BPJS, sediakan E-KTP, NPWP, Kartu Keluarga, E-mail, Nomor HP dan harus punya rekening di salah satu bank negeri yaitu BNI, BRI atau Mandiri.

Cara mengisi formulir online cukup sederhana… Beberapa Langkah kemudian masuk ke babak SAVE… Kalau ternyata data belum sreg oleh komputer di berikan peringatan data yang butuh verifikasi..

Selesai.. tinggal buka email dan saya cek email bagian SPAM siapa tahu email masuk sini (spam). Email saya tidka lama kemudian terisi oleh kabar baik dari BPJS. Saya sudah memiliki nomor registrasi, nomor ini saya AKTIPKAN dan setelah AKTIP saya dapat Nomor Virtual Account (VA) untuk sarana pembayaran di ATM. Awal begini memang secara fisik kita harus ke ATM untuk membayar iuran bulan 1 sebesar Rp 59,600.

 ATM JATIASIH

Saya sudah didalam ATM – Mandiri Kantor Cabang  Jatiasih – ketika saya lihat para ibu sedang antrean didalam bilik sambil bercakap dengan pengguna ATM sebelahnya. Seorang anak gendongnya  .. Ia sedang dalam proses menarik uang, namun menyempatkan diri berhaha hihi dengan bukan teman sebelahnya.

Mendadak – ia mundur dan mempersilahkan antrean dibelakangnya (seorang Ibu) untuk menggantikan tempatnya.

Zaya mHau ambil ATM Dua Zuta… Tapi antrean banyak..Ibu ini Saza dululah.. Zaya ambil yang SeZuta belakangan..

Saya tersentuh dengan empati “being considerate”. Nampaknya sambil menghitung pecahan limapuluhan segepok, ia memberikan pengetahuannya.

“ATM ini yang isi duitnya bukan orang Bank, tapi kontrak.. Mana tahu mereka zizipkan uang palsu …” – itu kata yang ia utarakan sebelum mencelupkan Jempolnya lalu jari yang sama digunakan untuk menghitung uang…

Logat nya macam dari uzung Zumatra, wajah dan busananya  mirip tokoh rekaan  TV Australia yaitu “Mardiyah” dalam filem dokumenter “Ritual Sex Gunung Kemukus” ketika ia menilpun tokoh “Gepeng” yang bukan suaminya untuk berkencan setelah mencari ritual pesugihan yaitu tabur bungan di Nisan Pangeran Samodro dan mandi disendang Ontrowulan..(dan seperti biasa selalu dibantah oleh pihak terkait – seperti juga dalam doumenter durasi 12 menit ini).

Saat mereka mengobrol saya mengalami kesulitan kecil lantaran ada pertanyaan “Bulan” yang hanya boleh didisi Bulan 1 kalau ini iuran pertama. Apakah selanjutnya saya harus membuat daftar urutan bulan 1,2,3, dan seterusnya.. Bakalan rempong…

Lho ibu yang tersangka “Mardiyah” tadi suaranya sudah ada dibelakang saya “Nah ITU BETUL” – ternyata sudah seperti guru jaga ulangan umum. Bisa mengendus dibelakang seperti langkah kucing tak terdengar..

Ini ATM atau acara PKK kursus membuat Dodol Durian…

BPJS = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Ini Handuk Mandi atau Lotek rasa pedas


IMG_0441Kendari jarang-jarang sekali waktu rumah dipenuhi tamu.. Apalagi kalau anak-anak dan cucu bisa berkesempatan berkumpul dirumah. Suatu peristiwa langka. Saya menamakannya keluarga kucar-kacir dalam artian geografis.

Ada pesta pernikahan keponakan Yarsita baru-baru ini berlangsung adalah kesempatan kami berkumpul bersama. Dan memaksa dua kamar mandi yang semula banyak lowong mendadak kudu diantri. Rentetannya Pemanas shower sudah sejak pagi “tekan tombol merah” – alias status “jangan dipake dulu masih merebus air buat ente nih…”

****

Karena setiap anggota keluarga memiliki handuk kesayangannya masing-masing, agar tidak tertukar koleksi handuk yang dikeluarkan diberi kode berdasarkan warnanya. Setiap tamu diberi briefing yang jelas harus singkat atas barang pinjamannya.

Sayangnya warna dominan handuk adalah Pink, Purple, atau Coklat sementara warna lain seperti biru tetap disimpan sebab “cuma gede doang” tetapi fungsi sebagai handuk kurang sip. Akibat warna mirip-mirip kerap terjadi handuk salah pakai. Maklum ada Purple muda, Purple Tua, Purple Bluwek pada campur aduk…

Lalu handuk dibedakan menurut ukurannya… Saya karena kepala rumah tangga mendapat handuk dengan ukuran paling besar, namun rupanya ada handuk lain dengan ukuran serupa. Maka handukriminasi berdasarkan ukuran juga gagal diterapkan…

Kebetulan mbak Nani pulang dari pasar membawa gado-gado… Asisten kepercayaan ini bilang “Pak Gado-gado bapak yang pedesnya sedengan, karetnya satu. Buat ibu karetnya dua sebab pedes…”

Karet gado-gado itu saya gunakan untuk menandai handuk kepunyaan saya. Dan resep ini cespleng menghindari handuk salah pakai.

Dari gado-gado turun ke handuk. Semoga rasanya tidak pedas…

Pondok Gede
Sep 2014

Ini duit buat beli Es!


Originally posted on Mimbar Saputro:

P1070366

Seorang  suami belajar masak tetapi selalu gagal, padahal tinggal satu langkah memberikan (daun) salam. Ternyata ia malahan menyalami masakannya dengan ucapan salam..

Aturan pakai dirumah saya memang kalau ada bel atau gerbang diketuk, lihat dulu siapa orangnya melalui CCTV dan jangan bawa kunci sampai yakin jati diri mereka. Hari itu para asisten sedang tidak ada ditempat sehingga mau tidak mau saya harus menuju pintu gerbang dan mengintip besar…

Pria kurus berkaos merah dan celana pendek ini seperti sudah akrab dengan rumah saya…Tangannya menggenggam sabit yang tak begitu tajam karena kerap dipergunakan.

Namun pandangan matanya seperti mengharap ..a puppy looks.. Awas pandangan juga bisa mengecoh, saya memberikan sugesti pribadi.

Saya selalu bersikap pura-pura tak ramah kepada orang yang tak begitu dikenal. Pasalnya sudah ada yang berhasil masuk menguras isi rumah.

“mau ambil daun salam -nya pak Aji….” katanya mengharap. Secara diterjemahkan… pak Sabit ini menitipkan berton-ton daun salam di gudang miliknya…

View original 218 more words

Ini duit buat beli Es!


P1070366

Seorang  suami belajar masak tetapi selalu gagal, padahal tinggal satu langkah memberikan (daun) salam. Ternyata ia malahan menyalami masakannya dengan ucapan salam..

Aturan pakai dirumah saya memang kalau ada bel atau gerbang diketuk, lihat dulu siapa orangnya melalui CCTV dan jangan bawa kunci sampai yakin jati diri mereka. Hari itu para asisten sedang tidak ada ditempat sehingga mau tidak mau saya harus menuju pintu gerbang dan mengintip besar…

Pria kurus berkaos merah dan celana pendek ini seperti sudah akrab dengan rumah saya…Tangannya menggenggam sabit yang tak begitu tajam karena kerap dipergunakan.

Namun pandangan matanya seperti mengharap ..a puppy looks.. Awas pandangan juga bisa mengecoh, saya memberikan sugesti pribadi.

Saya selalu bersikap pura-pura tak ramah kepada orang yang tak begitu dikenal. Pasalnya sudah ada yang berhasil masuk menguras isi rumah.

“mau ambil daun salam -nya pak Aji….” katanya mengharap. Secara diterjemahkan… pak Sabit ini menitipkan berton-ton daun salam di gudang miliknya dan saya petugas gudang yang diminta menyerahkan daun salam milik pak sabit..

Ya ambil saja, kata saya… langsung meninggalkan gelanggang diskusi singkat… Zonder perlu buka kunci kerbang..

“Tapi pak aji ini sekedar buat beli es…” katanya setengah memaksa..

Saya terpesona…sesaat.. kalau saja pria didepan saya ini ahli Gendam/Hipnotis Jahat maka boleh jadi saya kena pengaruhnya. Lah saya sudah seperti kosong melihat uang dekil disodorkan buat beli es…

Rasanya saya seperti kembali ke usia 5 tahun tatkala tangan kurus dekil menyodorkan uang sepuluh ribuan melalui sela-sela lubang kecil pagar pintu rumah yang masih tetap terkunci.

P1070367Begitu sadar, saya menjawab – uangnya buat bapak saja ya.. silahkan ambil Daun salam dan daun lainnya asal jangan merusak pohonnya…

Tanpa saya sadari hari itu ada dua asisten saya Pak Lanjar dan Mbak Nani yang kebakaran jenggot.. Mereka berdua berkonspirasi dengan oplag mingguan sebesar 30 ribu hasil penjualan “barang kebon”.. Sayangnya saat transaksi berjalan, keduanya sedang tidak berada ditempat…

Pak Lanjar dan Bu Nani mendapatkan nafkah tambahan dari barang sisa rumah seperti onderdil mobil, kardus bekas, modem, cctv camera.. Bahkan Putra, Putri sayapun kami instruksikan untuk memberikan Tips bilamana meninggalkan rumah. Mungkin itu juga jurus daun salam (selamat) cukup  jitu menjaga pegawai awet bekerja sekalipun beberapa anak-anak dan cucu mereka mulai protes “kenapa kerja jadi pembantu, jadi supir.. apa tidak ada kerjaan lain..”

Junkiesnya Ketinggalan


Sreeet.. kendaraan terpaksa harus dihentikan… tergopoh-gopoh kami segera memutar berbalik arah. Jalan Caman sepertinya padat merayap di minggu siang itu sehingga kami urungkan makan siang bersama disalah satu rumah makan Padang yang berancer-ancer di tempat sekitar orang berbalik arah.

Akhirnya kami masuk RM Franchise yang memang baru buka lapak pertengahan Agustus.

Pelayan berbaju Minang menyambut kami, lalu kami menuju pojokan restoran ber pendingin udara. Nampaknya baru ditinggal oleh pelanggan terbukti sisa makanan tumpah dikolong meja. Tadinya kami akan “tenang-tenang” saja memanggil petugas untuk membersihkan meja. Tapi salah satu anggota keluarga sedikit termehek ketika melihat popok bayi “full” isi dibuang di kolong meja.

Salah satu ciri bangsa kita yang Adiluhung ini memang dikasih tempat sebersih apapun matanya tetap katarak menyangka lantai ubin bersih kinclong kemilau tak lebih kali Ciliwung.. Boleh buang kotoran suka-suka.

Kelimpungan peyelia menginstruksikan pekerjanya membawa pel dan hanya dalam hitungan detik, kotoran sudah bersih kembali. Tapi kami memilih cari kursi lain…

Soal rasa, RM Franchise ini tak perlu diperdebatkan… Nasinya Pulen, Sayur santan Daun Singkong campuran buah leunca, pelayanan yang cepat membuat makan siang terasa sempurna…Kelas Mercedez Benz untuk ukuran lidah.

Saat membayar.. seorang Ibu berjilbab Protes – beliau dan keluarga makan Tiga Gurame Besar, di bon cuma tertulis Dua saja.. Restoran nyaris ketimpa kerugian kalau saja pembelinya tidak jujur..

Seorang Ibu tak berjilbab dengan lipstip merah membara – protes – kenapa Sate Padang belum di charge…

Giliran saya terhenyak… jumlah tagihan tak sesuai dengan perkiraan “undercharge” , ternyata masakan yang kami pesan untuk dibungkus.. salah satunya rendang Junkies untuk dibawa ke Balikpapan – kelupaan ditagihkan oleh panitia…

Jangan-jangan masakan ini membuat sebagian dari kita mendadak jujur…Mudah-mudahan jujur tiada expire..

Pondok Gede – September 2014