Sirup


Pensil itu diambil oleh mbak kasir.. Harga tertulis disana, harga pensil cetet-cetet atau pensil mechanic. Pak harganya sekian? ia menyebut harga.. Matanya masih memperhatikan mimik saya… Apa pensiunan ini bener mau dan mampu  beli pensil…satu batang lagi..

Isi pensil batang arang ia amati… lagi lagi mbak cek harga seperti baru pertama melihat harga.. Tapi dia paling manis diantara ketiga counter pembayaran.  Jadi jangan KZL ikut postingan Florence Sihombing..

Kelar satu, dia ambil ballpoint. Lagi-lagi dia menyebut harga yang sudah dilekatkan kesana…

Kertas HVS dua Rim..

Lem …

Semua diperlakukan dengan sama…

Saya tebar keliling – Mal ini belum lama dibuka… itupun masih harus diperdengarkan lagu pembukaan sebelum buka mal…Posting terdahulu..

Si Mbak CekHarga .. mengeluarkan sesuatu…selembar undian yang biasanya saya buang bukan karena kata Ustad di TV melainkan saya tidak mau nambahin masalah dengan memberikan  nomor HP apalagi KTP…

Lalu dia keluarkan lagi sesuatu.. Lebih tinggi dari pensil, jelas bukan barang yang saya pesan…

Ini bonus pak.. Sirup warna kuning…

Agak aneh toko buku memberikan sirop… Tapi justru itu saya jadi ingat belanja disini..

Sep 2014

 

Parasit Blog


Setiap saya buka blog, selalu saja ada parasit menempel ditubuh blog …mulai dari menawarkan Viagra, Cialis dan Obat Kuat entah apa lagi. Namun yang terbanyak adalah situs tak ramah Nawala alias situs Porno.

Biasanya kalau ada waktu luang benalu ini saya bersihkan tetapi ya serangan datang silih berganti dengan pelbagai nama. Akhirnya beberapa saya biarkan saja seperti  parasit – Jual Beli Senjata Api-

Artikel soal jual beli senjata penuh dengan komentar namun culas sebab mereka tidak menulis komen terkait melainkan berjualan dengan cara mendompleng misalnya – Yang Perlu Senjata Api Hubungi Saya, Surat menyurat Editan tetapi barang Aseli Rakitan.

Lalu pada gilirannya banyak juga yang mencak-mencak sebab setelah mereka kirim uang, senpi tidak datang.. Ya harusnya sadarlah tidak mungkin senjata dijual belikan disitus umum. Emangnya menjual pulau Kiluan – Tanggamus Lampung?

Lalu ada penulis sepak bola. Masuk ke blog yang memang jarang saja kunjungi (update).  Semula saya biarkan mereka menulis artikel sepak bola, meningkat bulan artikelnya sedikit namun “judi bola” yang gencar…

Ketimbang berurusan dengan Reskrim akibat judi online ini maka akses blogspot saya tutup…

Eh dengan jujurnya si penulis minta ijin mengisi blog saya dengan arena judi online… Padahal kan kalau mau bikin sendiri kan gratisan, tetapi dengan memanfaatkan blog saya – kalau nanti ditelisik oleh kepolisian cyber, pastilah saya duluan yang dicokok dan sulit menjelaskan kenapa ada anasir parasit saya biarkan saja…

Jadi terpaksa saya balas emailnya .. sorry Dude.. get a new blog… This blog was moderated.

Mimbar

September  2014

 

 

 

 

Quck Count perolehan Pecel Pincuk yang mencapai Puncak


Waktu sudah menunjukkan sembilan puluh menit dari angka tengah hari.. Jalan Margonda Depok seakan sudah disulap menjadi semakin padat sehingga ilmu titen (mengingat), warung soto ini disana, warung sate disini sudah buyar blas.. Alias terjadi perubahan pesat. Maklum sudah lama tidak melewati wilayah Depok ini…
 
Akhirnya kami lewat disebuah rumah makan bertuliskan Hidangan Tradisional dengan nama seorang ibu yang saya tahu kondang dengan bubur ayamnya. 
 
GPS dalam otak mencari titik titen (pengamatan) Rumah Sakit Bunda ada diseberangnya…
 
Ha ada kursi kosong untuk dua orang..
 
Pelayan wanita berjilbab duduk timpuh menghadap nasi, pecel, sate babat, sate kuning telor, sate paru, tahu bacem yang montok, tempe bacem, empal gepuk, tempe kemul, peyek kacang. 
 
Pincuk tetap dari daun pisang, namun piringnya anyaman bambu berbentuk pincuk juga…
 
Pak Kasir yang berkaos Biru selain sibuk menerima dan mengembalikan pembayaran ia juga sibuk memberikan pengarahan tim suksesnya. Kalau waktu luang di cekatan sekali mengelompokkan uang dalam partisi berbeda…
 
 
LIMA JUTA BARU TENGA(h)  (H) ARI(k)…
 
Karena kami makan dengan posisi 12 pas didepan gawang kasir yang memajang minuman dingin Beras Kencur, maka sambil menggali dalam nasi diantara tumpukan kembang turi.. Tanpa disadari mata kami nemplok pada uang lama ratusan ribu.. 
 
Jreng…. Segepok ratusan ribu… pastinya belum NKRI sebab warnanya merah hati…jepret.. dikaretin..macam mau bikin pony tail .. saru gepok seratus lembar …artinya satu juta..
 
Kasir kalau tidak salah sudah mengikat ratusan ribu sebanyak lima kali, artinya ada lima juta minimum dalam lacinya… Belum uang yang warnanya hijau seketan (limapuluhan) yang kebetulan tidak dihitung didepan hidung saya… kalau saya Pinokio sedang berbohong terus tapinya… 
 
Warung pecel mana yang Omzet penjualan sampai pukul 13 keriting sudah mencapai perolehan diatas lima juta…
 
Berapa masakan dicoba.. Maksudnya kami makan dengan menu berbeda lalu ditukar.. Rujak Cingur, Pecel saling dicicipi.. Mantap…Hanya minum selalu es teh tawar.. yang ini memang SOP supaya rasa masakan tidak kacau beliau dengan manisnya mnuman..
Pekerjaan apapun kalau ditekuni, jangan hiraukan lecehan orang “kok cuma bakul pecel..” bisa berpenghasilan nyem nyem..

Ciluk Ba di Pagi Buta


Rig Pengeboran Darat PNG

Ketika alarm HP berbunyi mendendangkan lagu RADAR – yaitu nada getar sambil suara untuk membangunkan saya di rig setiap pukul 04:00pagi, zonder ucek-ucek otomatis saya keluar kamar bernomor 11 – dan berjalan menuruni tangga menuju ruang cuci baju. 

Hal ini bisa saya lakukan sebab selalu tidur dengan lampu baca, lampu kamar selalu benderang. 

Tapi Selasa pagi ini sekalipun embun padat dingin – namanya diatas awan – mulai mengelus kepala saya, rasa ngantuk masih belum bisa didorong dari pelupuk. Didepan ruang cuci, pintu saya buka dan langsung saya masuk sebab biasanya tumpukanj baju saya sudah masuk dalam kantong mirip jala ikan dan diberi laber sobekan karton “11”

Mak Bedengus saya melihat suatu penampakan..

Langsung ngantuk saya sirna sebab begitu pintu dibuka, sepasang payudara wanita muda seperti sedang membelalak main “Peek A Booi” alias Ciluk Ba.. Cuman yang ini sedang keadaan “BAAAA” lebar. 

Rupanya pemiliknya yang notabene pekerja katering ini menyangka hari masih teramat pagi muda. Sehingga tanpoa sungkan mengganti baju kerja ke baju rumah untuk siap menunggu mobil jemputan pulang. Para pekerja lokal ini tidak menginap di camp biasanya tinggal  dekat lokasi – mungkin kos malahan. Sehingga kalau ada camp dengan kode “C1″ – mereka akan mengaku “I am C1 resident outside”..

Segera pintu saya tutup kembali dan cukup lama rasanya – kena embun blasteran hujan sampai kepala saya basah.. Tapi telinga masih dengar nada monoponik berbeda – satu teriak kaget satunya ngekek… Perempuan PNG kalau berbicara mirip Pok Nori kalau sedang “NETRON” dengan bang Mali TongTong..

Tidak lama kemudian perempuan lain temannya keluar menyerahkan jala pakaian bersih, ia masih ngekek – padahal wanita PNG terkesan selalu muka cuka walau batin Markisa.

Coba kalau kejadian tersebut di Jakarta, saya bakalan disemprot.. “Kalau masuk ketok dulu kenapa!!” – maklum terlatih oleh media dan politik, pinternya menyalahkan orang lain. Presiden harus begini harus begitu.. Tapi awak tetap nggak mau berubah. 

Atau malahan idep-idep – hadiah lebaran bagi yang tidak merayakan.. Lha di Rig cumna satu Thil..

Blusukan PNG 5 Aug 2014

Biar Aman..Nyetir sambil Buka HP


P1060759KETIMBANG DARI NAIK  TOYOTA Pindah ke  YAMAHA(DIPATI)..

*****

Jarak “base camp” kami menuju Rig pengeboran sekedar 15 kilometer.  Dari kamp dengan elevasi  1900 meter diatas muka laut menuju puncak 3000 m (kurang dikit) masih diatas muka laut. 

Mobil jemputan  (foto di FB) kami dipagi buta jam 04:45 tentunya akan disiapkan Lambat Merayap mendaki gunung berkelok dan hanya diterangi oleh Sinar Air Embun (awan), melewati lokasi WUKAWUKA penuh cerita orang hilang, gunung keramat pendeknya mirip filem horror yang paling umbar asap putih.

Lampu “sairun” alias sirine sudah berputar-putar pada atap kendaraan. Tapi mobil masih mangkrak juga.. 

Rupanya ada gangguan dengan lampu depan. Karena waktu sudah mendesak yaitu pergantian PLOEG, maka kendaraan dipaksa melaju dengan penerangan ala kadarnya menuju Kantor pusat kendaraan untuk ganti Truk lain.. Hanya sepuluh menit kami sudah sampai di bengkel besar pusat ngepul kendaraan dengan bantuan sesekali lampu sorot dari kamp kamp kecil yang kami lewati..

Ternyata yang tersedia adalah Lancruiser putih…Kuda Besi dengan mata belo yang mencorong terang.. 

Kami bersiul bergegas pindah untuk kemudian menghela napas panjang lagi… Lampu DASHBOARD MATI…

Blaik..blaik..

Mau nggak mau kami ngetem juga di TOYOTA LANDCRUISHER yang baru usia 2 tahunan ini selama 60 menit melewati jurang dengan supir sibuk mengarahkan lampu HP-nya guna membaca panel didepannya…

Jam menunjukkan pukul 05:00 pagi..

Kamipun sampai di Rig sekitar pukul 06:00 pagi, dengan ketinggalan rapat pagi…

Perusahaan yang begitu royal keluar uang  apalagi menyangkut keselamatan, tetapi kalau “software” dibelakangnya nggak perduli dengan perawatan.. ya fatal jadinya..  Padahal disini kami tidak mengenal alasan “tidak ada dana” .. Atau belum ada “drop-dropan” – buat catatan, baru kali ini saya bekerja di rig darat dengan biaya operasi satu juta dolalr perhari. 

Faktor manusia memang sulit dibaca bisa dianalogikan presiden barangkali ya.. Presidennya bagus kalau anak buahnya masih “abu nawas” kata wong Palembang sana, maka lingkaran setan jadinya.

(mohon permisi kebelet skeptis). 

 

PNG 23 Jul 2014

Pura-pura jadi penumpang kelas Bisnis


Rasanya tidak betah juga duduk terlalu lama disebuah kafe Bandara Moresby. Satu-satunya kafe yang isinya Sandwhich, Pie serta sejenis PopMie. Setelah sekaleng Zero Diet dan kue Beef Pie saya embat… perlahan jarum jam sudah memperlihatkan waktu 13:00 – sementara pesawat boarding 14:30… Sayapun beranjak, apalagi melihat beberapa orag bingung mencari kursi kosong.

 

Dipintu masuk.. petugas sekurity memeriksa kartu kuning saya… Ini kartu laporan “departure” alias kartu embarkasi.. Ia mengamati dari atas sampai bawah seperti mengawasi PR anak murid yang bandel.

 

“sudah ditandatangani?” tanyanya… Saya merasa muda kembali… Mengisi kartu satu muka seukuran Kartu Pos.. masih harus diawasi petugas Keamanan berpakaian macam Pilot Sukhoi warna hitam..

 

Saya lihatkan tanda tangan saya.. Tanda tangan sudah memuaskan sekurity.. Lalu ia tanya ..

 

“Naik Pesawat jam Berapa..”

 

“Jam 14:30 ” – kata saya…

 

Sekurity menunjukkan tangannya kesebuah jam bandara .. “masih lama”  katanya nanti saja kalau sudah jam 14:00… baru boleh masuk…

“Jalan-jalan dulu ke kota..”

 

Jelas pak Security belum “NGEH” bahwa ada proses “Imigrasi”,  proses geledahan isi tas kabin yang terkadang memangkas waktu sampai 20 menit…

 

Dan satu aturan bagi kami pekerja Asing… tidak boleh naik Taksi tanpa pengawalan… Saya pernah naik Taksi.. malah diajak kerumah pak supir.. diajak makan siang bersama… lalu menengok rumah ibadah mereka… Tapi kan tidak semua taksi sebaik supir yang ini…

 

Tiba-tiba ada tanpa dipikir mulut keprucut boong “Saya mau ke Lounge Bandara” – Misterinya security main percaya saja bahwa saya penumpang kelas Bisnis kelas Borjuis (padahal bukan)..

 

Dan sayapun melenggang masuk ruang tunggu…

 

Salah Lihat Sampul


TKP…. Kantin..Rig..PN Guinea

Sekitar 04:30 pagi saya sudah nongkrong di ruang Kanten rig…

Masih kepagian…

Soalnya kantin buka service jam 05:00 pagi… Tapi saya lebih suka curi start…Tapi seperti kata JK “Lebi cepat lebi baek”.  Padahal untuk bikin kopi… airpanas “water Urn” statusnya pas untuk raup muka dan bukan buat menjerang kopi.

Tapi jangan mati-akal… masukkan saja kopi dan air dalam gelas lalu panaskan pakai Microwave..

Perasaan saya sudah kepagian untuk sarapan.

Lho kok sudah ada warga duduk dengan sisa makanan didepannya dan segelas kopi “kepul-kepul”… Matanya menatap acara Dono Kasino.. yang sudah barang tentu mereka tidak mengerti bahasanya…Maklum dia warga Lokal (PNG)..

Lelaki seragam Biru ini bukan warga Rig sehari-hari…Ia dan teamnya baru datang kalau ada kerja mendadak atau JOB panggilan…

Job panggilan adalah pekerjaan semi dadakan, misalnya Operasi Geofisika -Wireline, Penyemenan, pemasangan selubung… Mereka datang….kerja.. lalu pulang..balik ke markas…

Melihat lusuh muka, jaket kerja hitam oli, maka saya tanya ….. Operasi MDT sudah selesai atau masih berlangsung….

“Kemarin sih baru digonceng pipa bor..”

Lho kenapa kemarin yang diomongin… Itu sih basi…

Akhirnya saya tanya… “mau ke rig atau dari rig..

Oh ya untuk sekedar informasi… Jarak Rig dengan kantin makan/tidur adalah 500 meter dan lain komplek, lain pagar, lain penjaga..

Antar Rig dengan Komplek dibatasi bukit..

Saya baru bangun… mau ke Rig… – katanya sambil nyeruput kopi.. Dan meninggalkan saya…

Bercak kehitaman nampak dimejanya… ini jelas bekas gemuk ataupun minyak solar..

Ya.. ampun… teman-teman satu Pulau “Irian” ini memang aneh… Baju kotor tinggal ditaruh didepan kamar, besok pagi sudah bersih.. Kok ya tidak dilakukan…

Badan tinggal diguyur air hangat, sabun setiap minggu dibagi entoh susah banget sebagian dari mereka untuk mandi barang sebentar…

Kalau seragam tak dicuci alasannya biar awet, sebab seragam kami memang hanya boleh dicuci sampai 73 kali.. Tapi wong semua gratis…

PN Guinea 19 June 2014

 

 

Catatan: MDT (Modular Dynamic Formation Test = adalah operasi mengambil sample cairan dari lubang bor, uji “kesuburan” – sebuah operasi mahal dengan tingkat kegagalan lumayan tinggi juga…